Al Fatihku



11 April 2005 

    Hari ini, di setiap detik yang berlalu akan kurekam dengan baik dalam ingatan. Mendengar tangisan pertamamu mewarnai kehidupan baru kita. Iya, hari ini lembaran baru hidupku telah dimulai bersamanya setelah empat bulan yang lalu badai bencana mendera Bumi Rencong. 12 April 2005 Muhammad Al Fatih, itulah nama yang kuberikan untuknya. Berharap kelak ia tumbuh dengan akhlak mulia meneladani Nabi Muhammad Saw dan menjadi mujahid Islam setangguh Al Fatih. Kini dialah poros kebahagiaan dan tumpuan kasih sayangku. 

 “Abi, Fatih akan kubesarkan dengan kasih sayang dan pendidikan Islam seperti harapanmu.” 

11 Oktober 2005 

    Usiamu kini sudah enam bulan. Tingkahmu semakin aktif dan mengemaskan. Dan syukurku semakin tak terhingga pada-Nya karena Fatih tak pernah rewel saat kubawa bekerja. Keinginan untuk selalu bersamanya di rumah memang begitu besar, namun demi masa depannya nanti aku juga perlu bekerja. Juga harapan besar yang Abi inginkan untuk Fatih. 

   “Terima kasih karena sudah mau mengerti Ummi, Nak.” 

26 Desember 2005 

Setahun sudah tragedi luka itu berlalu. Pagi ini kubawa Al Fatih menemui Abinya. Pria yang begitu bahagia menanti kehadirannya setahun yang lalu.  

“Bi, ini Muhammad Al Fatih. Maaf Ummi baru datang sekarang setelah hari itu karena butuh waktu untuk memulihkan luka ini,” ucapku pada salah satu gundukan tanah di kuburan massal Lambaro. 

Di sini tempat peristirahatan Abi Al Fatih bersama ratusan jasad lainnya. Luka hari itu kembali terbayang di ingatan. Bagaimana kami begitu bahagia menyambut pagi 26 Desember karena hari itu juga tepat setahun usia janji suci pernikahan kami. Kebahagian yang seketika berubah menjadi duka manakala gempa dan gelombang tsunami menjadi tragedi perpisahan yang memilukan. 

“Ayo Ummi! Naiklah ke atap masjid biar Abi yang membantu!” teriaknya saat membantuku menaiki atap masjid di kota yang telah berubah menjadi lautan pekat. 
 “Abi cepat naik juga airnya semakin tinggi!” teriakku panik karena ia lebih memilih membantu seorang anak yang hampir terbawa air.  
Sembari berenang ia menghampiriku, tangan kami saling mengenggam. “Ummi, apa pun yang terjadi setelah ini Ummi harus tetap tegar demi anak kita.” Tatapannya tertuju pada janin di perutku yang berusia lima bulan. 
“Abi jangan katakan apapun dulu, cepat naik!” 
 “Jangan takut, Ummi. Maaf jika Abi tak bisa menemani Ummi lagi. Besarkan anak kita seperti harapan kita.”
 “Abi Naik!” Tangisku kian tak terbendung manakala gelombang pekat itu semakin mendekatinya. 
 “Abi sudah terminum air ini Ummi. Abi nggak kuat lagi. Ya Allah.” Genggaman tangan kami mulai merenggang namun aku tak ingin melepaskannya. 
“Maaf, Ummi. Abi sayang Ummi dan anak kita.” 
Genggaman tangan kamipun terlepas bersama datangnya ombak pekat yang menhanyutkannya. 

 “Ya Allah ... Abiii!!” Dan hari itu aku telah kehilangan Imam hidupku.  


11 April 2006 

Kebahagiaan seorang ibu terasa begitu nyata saat bisa melihat perkembangan buah hatinya. Al Fatih sudah mulai bisa berbicara. “Um ... mi.” Itulah kata pertama yang diucapkannya.  

Abi tentu bisa melihat bagaimana Fatih kita tumbuh kan? 

Juli 2006 

Salah satu kerabat Abi datang dengan membawa seorang pria yang kukenal sebagai sepupu Abi yang kuliah di Jawa. Fatih langsung akrab dengannya, tepatnya Fatih memang mudah akrab dengan siapapun.  

“Kalian bisa membesarkan Fatih bersama, kasihan ia juga butuh figur seorang Ayah,” ungkap wanita paruh baya yang sangat kuhormati. 

“Maafkan saya, Mak Cik. Sampai detik ini saya belum bisa mengganti posisi Abinya Fatih dengan siapapun. Siapapun boleh menyayangi Fatih tapi tidak untuk mengantikan posisi Abinya.”  


26 Desember 2010 

Kuburan Massal di Lambaro kembali menjadi tempat kunjungan rutin bersama Fatih. Sama seperti lima tahun yang telah berlalu. Fatih telah tumbuh menjadi balita yang begitu mengemaskan. Kini ia sudah bersekolah di TK Islam. Setiap hari ada saja tingkahnya yang membuat gurunya kewalahan. Bukan karena kenakalannya tapi karena rasa keingintahuannya yang begitu besar. Begitu juga yang disampaikan ustad yang mengajarinya mengaji yang tak lain sahabat dekat Abinya.  

“Melihat Fatih aku seperti merasakan semangat Bang Wali dalam dirinya. Berbahagialah di sana Bang,” kata Ustad Soleh dengan mata berkaca-kaca. 


1 Januari 2011

Abi, hari ini Allah mempertemukanku kembali dengan Bunda Fatma. Sosok wanita yang begitu tulus membesarkanku dulu. Kini beliau mengelola sebuah pesantren bantuan pemerintah Turki yang dihuni puluhan anak yatim. Semangat Bunda Fatma untuk menolong sesame tak pernah pudar walau usianya tak muda lagi, Bi.


26 Desember 2011

Untuk pertama kalinya kami tidak mengunjungimu,Bi. Aku sudah memperbolehkan Fatih mengunjungimu bersama Bunda Fatma tapi ia menolak jika aku tidak ikut. Bukannya aku telah melupakan Abi dengan tidak ke kuburan massal. Namun sudah dua hari kondisiku memburuk dan harus dirawat di rumah sakit.
Besok hasil pemeriksaan kesehatanku keluar. Semoga keluhan yang kurasakan bukanlah pertanda yang buruk.


27 Desember 2011 

Ya Allah, pemilik hidupku. Kenyataan ini begitu menyakitkan. Saat kata “Stadium akhir” diucapkan dokter. Keluhan sakit yang sering kurasakan beberapa waktu yang lalu ternyata pertanda penyakit serius yang sudah mendera tubuhku.  
“Usia di tangan Allah, Bu. Tapi melihat perkembangan sel kanker di tubuh Ibu sangat kecil kemungkinan untuk bisa bertahan lama.” 
Ya Rabb, aku tidak takut jika memang harus pergi. Tapi bagaimana dengan Fatihku siapa yang akan merawatnya jika aku tiada?



1 Januri 2012 

Fatih baru saja menyelesaikan setoran juz 30-nya ketika Bunda Fatma menjemputnya untuk menemuiku di rumah sakit. Aku kembali dilarikan ke rumah sakit sebelum sempat menyaksikan Fatih menyetor hafalannya.  Di antara ketidak sadaranku setelah dokter memberikan obat, dia menangis memeluku. 

 “Ummi, jangan sakit lagi ya...!! Fatih janji akan selalu menjadi kebanggaan Ummi hafalan ini untuk, Ummi,” isaknya.  

Sayup-sayup kudengar Fatih mulai membaca hafalannya di bantu Bunda Fatma.  
Malam sudah sangat larut saat aku terbangun. Kulihat Fatih tertidur di kursi sebelah ranjang. Tangan kecilnya mengenggam erat tanganku. Bunda Fatma yang baru selesai salat malam tersenyum melihatku. 

 “Selama kamu tidak sadar Fatih terus membaca hafalannya di sampingmu, sampai dokter dan perawat menangis melihatnya. Ternyata dia jauh lebih tegar dari yang kita pikirkan,” terang Bunda sembari membaringkan Fatih di sebelahku.

 “Bunda mau kan merawat Fatih seperti merawat Mai dulu?” pintaku sembari memeluk Fatih.  
Bunda Fatma menangis sembari mengelus kepalaku. 

“Ummi Ikhlas jika harus pergi sekarang, Sayang. Maafkan Ummi yang tak bisa menemani Fatih lagi. Saat bangun nanti jangan menangis, Sayang. Ummi sayang Fatih. Baik-baik dengan Nenek. Jangan nakal dan teruslah menghafal Alquran ya, Sayang.” 

Dibantu Bunda Fatma kulafazkan kalimat syadahat.  

Abi, tunggu Ummi di sana.


26 Desember 2015 

Bunda Fatma sesekali menghapus air mata di pipinya manakala menyaksikan cucunya mengaji di depan sebuah pusara.  

“Mai, lihatlah anakmu kini sudah menghafal tiga juz. Setiap malam namamu selalu disebut dalam doanya,” batinnya.

 “Ummi, doakan Fatih ya, minggu depan Fatih akan mengikuti lomba tilawatil Quran. Bilang ke Abi ya Ummi kalau aku selalu sayang dan rindu kalian,” ucap Fatih setelah selesai mengaji.  

“Fatih, ayo kita pulang sebentar lagi magrib!”

 “Baik, Nek. Ummi, Fatih pulang dulu ya.  Assalamu’alaikum.” 

Sayup-sayup kumandang azan magrib terdengar mengantarkan langkah kecil Al Fatih pulang bersama neneknya. Namun selalu ada harapan di hati kecilnya setiap berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir sang Ummi. Harapan untuk terus menjadi anak kebanggaan Ummi dan Abinya. Harapan untuk memuliakan kedua orang tuanya di akhirat kelak dengan hafalan Qurannya. 


Alue - Bilie, 26 Desember 2015 

Tulisan ini telah di terbitkan dalam buku “Rinai Cinta di Bumi Aceh” Maret 2016

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19