Posts

Showing posts from December, 2014

Jilbab (Puisi)

Duhai Saudariku…. Tahukah betapa cantiknya dirimu? Apalagi ketika kecantikan itu di padukan dengan uluran jilbab Yang menutupi dadamu.. Sungguh anggun dan cantiknya dirimu bukan? Kecantikan yang terpatri dari hati Namun kecantikan itu bukanlah sebuah kebanggaan Dan tontonan bagi yang tak halal bagimu Karena kecantikan yang sebenarnya terletak pada diri Dan hatimu yang bertaqwa hanya karena Allah.. Alue-Bilie, 13 Maret 2013 Afri Zahara “Hai Nabi katakana pada istrimu, anak perempuanmu dan istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah di kenal, karena itu mereka tidak di ganggu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( Q.S.Al-Ahzab:59)

26 Desember 2004 (Sebuah Renungan Mengenang 10 Tahun Bencana Gempa dan Tsunami Aceh)

Image
  Bissmillahirahmanirrahim...... “Hana Meu Bayang Bak insan dum na.. Watee leuh gempa Meu ayon donya   Di teuka ie bah meulumpah raya Ngon aneuk di ba hana meuho ka”(Saleum Group_Ie Beuna) Menginggat musibah tsunami satu dekade lalu, maka Aceh lah yang terbayang di pikiran kita. Aceh provinsi di ujung pulau sumatra yang terkenal dengan sebutan bumi Seuramoe Mekkah dan Syariat Islam. Sepuluh tahun yang lalu tepat tanggal 26 desember 2004, di pagi minggu yang cerah, bumi seuramoe mekkah di selimuti mendung duka setelah gempa dan gelombang tsunami meluluh lantakan Banda Aceh, Lhok Nga, Meulaboh yang daerah pesisir pantai lainnya. Semua kejadian tersebut bukanlah sekedar bencana alam ataupun musibah  biasa tanpa makna dan arti karena tidak mungkin ALLAH menciptakan sesuatu yang sia-sia. Musibah-musibah ini menjadikan kita introspeksi bahwa kita adalah lemah dalam kekuasaan ALLAH. Setiap makhluk hidup pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan ...

Senandung Syiar Dakwah Rapa’i

“Kalian harus mengingat selalu, tarian rapa’i geleng ini bukan sekedar menggerakkan badan dan menabuhkan rebana saja tapi ikuti adab dan lirik-lirik yang di sampaikan harus terukir di hati kalian sebagai pesan kebajikan yang selalu di ingat dan di amalkan” jelas Abua Ilyas untuk kesekian kalinya. “Baik Abua” jawab kami kompak. Untuk kesekian kalinya Abua memarahi kami yang tidak serius mengikuti latihan Rapai Geleng yang di pimpinnya. Aku melirik telapak tanganku yang sudah merah karena menabuh rebana. “Kamu Hamid! Pindah kesebelah Lukman belajar menabuh rebana yang benar”perintah Abua yang langsung ku ikuti. “Belajarlah mencintai seni rapa’i ini, jika bukan kalian yang akan melestarikan budaya ini” ujar Abua sembari setelah   rokok tembakaunya asapnya mengempul mengantarkan aroma khas tembakau “sudah lanjutkan latihannya” lanjutnya. Kami kembali mengatur posisi dan Muksin mulai mengucapkan syair saleum sebagai pembuka. *** Hamparan lautan menjadi pemandangan me...