Posts

Showing posts from January, 2013

CERPEN : “ KETIKA FARADIS JATUH CINTA”

Penulis : ♥ Afri Az Zahra ♥ '' Adis..............!!! Cepatan bangun sudah jam delapan ne'' suara keras Sita memecahkan keheningan pagi. Sesosok tubuh yang masih tertutupi selimut, mengerutu serayan membuka mata. '' Duh... Kak Sita bisa nggak ngomongnya pelan-pelan nggak usah pake teriak-teriak segala'' ucapnya sembari mengucek-ngucek matanya dengan jari. '' what..... !! Pelan-pelan, dari tadi kakak udah panggil baik-baik nggak dengar? sampai mulutku pegal tahu, kamu itu kebiasaan kalau tidur susah di bangunin'' Sita tentu saja tidak terima di salahkan adiknya. ''huft.... Baru juga jam delapan, ini kan hari minggu biasanya Mamak baru membangunkan Adis jam 10'' '' Ya ALLAH, Faradis kamu ini perempuan harusnya bisa bangun lebih pagi. Sudah shalat subuh?'' Faradis cengengesan '' Kak Sita kapan datang?'' tanyanya. '' udah kagak usah ngalihin pembicaraan. Ep...

Epilog : Catatan Kerinduan Fatima

Penulis : Afri Az Zahra (¯`*•.¸1 Januari 2011¸.•*´¯) Diary... malam ini aku tak bisa tidur, suara petasan dan kembang api yang bergelantungan dilangit membuat mataku sulit dipejamkan. Samar-samar kudengarkan suara riuh anak-anak muda yang merayakan malam pergantian tahun. Aku baru ingat ry... malam ini adalah malam pergantian tahun masehi, aku heran apa bedanya malam pergantian tahun masehi dengan tahun hijriah? Kenapa saat perayaan tahun hijriah tidak ada perayaan apapun? Entahlah kata nenek ini merupakan efek dari pergaulan remaja yang kiat terpuruk. Banyak remaja-remaja muslim yang telah jauh meninggalkan tradisi keislaman pada momen tertentu dan lebih memilih ikut merayakan perayaan yang tidak ada dalam ajaran islam. Ah, Sudahlah ry... jangan dibahas lagi ya. Diary... hari ini usiaku memasuki angka 17 tahun. Tatkala kutatap wajah ini dicermin aku merasa sudah menjadi sosok yang berbeda dari sepuluh tahun lalu saat ayah meninggalkanku bersama nenek. (¯`*•.¸2 ...

Cerpen : MENARI BERSAMA KILAUAN MENTARI DI MATA KAKAK

Penulis : Afri Azzahra Langit mengantup, diantara hitamnya mega. Goresan pena putih yang mencair turun mewarnainya. Kilatan petir yang menyambar membuat suasana semakin hening dan hanya terdengar suara desiran air langit yang turun di sela-sela jendela kamar. Seorang gadis duduk di atas kursi roda memandang jauh ke langit. '' Kenapa belum tidur Tia?'' suara ibunya mengagetkannya. '' Belum bu, bagaimana Dara sudah mau makan?'' tanyanya. Ibunya membelai lembut kelapa putrinya yang di tutupi jilbab. '' Belum Tia, Dia masih mengurung diri di kamar'' '' Semua ini salah Ti bu, seandainya hari itu..'' Ibu segera memotong pembicaraan putrinya. '' Sudah-sudah jangan di ingat lagi Tia'' di peluknya tubuh putrinya. '' Sampai hari ini Tia masih terus merasa bersalah pada Dara bu, kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi seandainya Tia tidak memaksa Dara untuk ikut bersama Tia hari it...