Love With Your heart,not yours eyes Bab 29
Sabtu siang, Nisya sudah berada di
Banda. Setelah istirahat dan makan siang di kost Mila mereka menyempatkan
mencari Kado pernikahan untuk Dhea. Nisya memang sudah berencana memberi kado
bersama Mila. Sejenak di abaikan pesan Dhea yang memintanya untuk langsung
menuju rumahnya.
Setelah berkeliling ke beberapa
toko, mereka menyempatkan mampir ke kantor Mitra karena Nisya harus bertemu
Lisma.
“Aku tunggu di cafe sebelah sajalah
Sya, nggak mungkin kan aku masuk kantor dengan kantung belanjaan ini” ujar Mila
saat mereka berhenti di depan kantor Mitra.
“Kalau lama nanti bagaimana Mil?
Udah ikut saja nanti kamu bisa istirahat di ruanganku”Bujuk Nisya.
“Tak apa, kalau lama aku pulang saja
duluan hehee..”.
“Huss.. kamu ini, ya sudah kamu
pulang duluan saja, aku bisa pulang naik labi-labi”.
“Yakin nih?”
Nisya mengangguk.
Setelah berpamitan Dhea pulang
dengan mengendarai motornya. Dan Nisya memasuki kantor Mitra.
“Assalamu’alaikum... Pak Aiyub” Sapa
Nisya pada sosok pria paruh baya di pos keamanan Kantor.
“Wa’alaikum salam... Masya
Allah Nisya kapan sampai?” jawab Pak
Aiyub.
“Tadi siang Pak, Bapak apa kabar?
sudah sembuhkah?”.
“Alhamdulillah sudah membaik, tapi
sekarang pekerjaan Bapak malah semakin ringan”.
“Maksudnya Pak?”.
“Iya, Pak Nazril mengubah jadwal
tugas bapak menjadi pagi sampai sore, malamnya ada satpam penganti dan anehnya
gaji bapak justru di naikkan” jelas Pak Aiyub.
“Alhamdulillah.. itu rezeki buat
bapak dan keluarga, bapak jaga kesehatan ya”.
“Iya, terima kasih Nisya”.
“Kalau begitu Nisya pamit kedalam
dulu ya, mau bertemu Kak Lisma, belum pada pulang kan?”.
“Ibu Lisma masih ada di atas, tapi
Pak Nazril baru saja pulang katanya mau kerumah Ibu Dhea”.
Nisya mengangguk, kemudian berlalu
masuk kedalam kantor.
Setelah urusannya dengan Kak Lisma selesai,
Nisya segera pulang ke kost Mila dengan labi-labi.
###
Nazril....
Huuuff..... melelahkan sekali
rasanya berada di antara keluarga besar yang sedang berkumpul di rumah
Dhea. Bagaiman tidak melelahkan jika
setiap berbicara denganku selalu pertanyaan yang muncul “ Aril kapan menikah?”
“Aril kapan menyusul Dhea?” dan bayangkan sendiri pertanyaan lainnya.
Dan yang paling membuat telinggaku
panas adalah Mama yang ikut-ikutan mempromosikanku pada keluarga besar yang
memiliki kenalan anak gadis.
Beruntung Papa memanggilku untuk
membantu persiapan akad nikah besok pagi di mesjid komplek rumah Dhea, jadi aku
punya alasan untuk pergi.
***
Nisya.....
Pernikahan adalah ikatan
suci atas nama-Nya. Yang saat akad itu terucap mampu mengoyahkan arsy.
Subhanallah alangkah indahnya menyaksikan dua hati yang terikat dalam janji
suci atas nama-Nya.
Aku menyaksikan proses
ijab qabul pernikahan Dhea dan Bang Randi dengan penuh keharuan yang membuncak
di dada. Bagaimana cantiknya Dhea dalam balutan busana pengantin bewarna putih
dan lantangnya Suara Bang Randi menjawab akad nikah.
“Kita kapan ya Sya?”
Tanya Mila yang duduk di sebelahku.
Aku tersenyum “InsyaAllah
segera, akan sampai waktunya untuk kita tanpa kita tahu kapan pastinya” Jawabku
yang masih fokus menyaksikan kedua mempelai yang berbahagia.
“Kalau moment seperti ini
rasanya aku ingin pulang kampung saja trus minta di nikahkan pada Abu ku” Ujar Mila.
Nisya hanya tersenyum
menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan sahabatnya. Dan tanpa sengaja
pandangannyaku tertuju pada sosok pria yang mengenakan pakaian batik seragam
dengan keluarga besar Dhea. Dia tersenyum padaku, aku hanya menganggukkan
kepala kemudian membuang pandangan ke arah lain.
“jiaah... dengerin
tausyiah ustadlah Nong Nisya, jangan asyik tatap-tatapan sama Pak Direkturmu”
bisik Mila.
Aku hanya merotot
kearahnya, kemudian mengadahkan tangan berdoa saat Ustad mulai memanjatkan doa
untuk kedua pengantin.
***
Author..
Resepsi Pernikahan
berbalut adat Aceh di gelar di rumah kediaman Dhea. Tamu yang hadir cukup ramai
menginggat Papa dan keluarga besar Dhea adalah orang terpandang dan berada.
Nisya berada di rumah
Dhea hingga acara selesai sore harinya, sementara Mila sudah pulang saat siang
karena ada keperluan mendadak dan berjanji akan menjemput Nisya sorenya.
“Nisya menginap disini
saja ya? Nanti bisa tidur bareng sepupu-sepupu Dhea” Ujar Mak Cik Maryam saat
Nisya hendak pamit.
“Maaf lain kali saja Mak
Cik, Mila sudah menunggu di depan”.
“Apa setelah Dhea menikah
Sya akan jarang mengunjungi Mak Cik lagi?” Wajah Mak Cik Maryam berubah menjadi
sendu.
Nisya merasa tidak enak,
“Insya Allah jika Nisya ke Banda akan mengunjungi Mak Cik lagi”.
“Nisya tak pulang malam
ini kan? besok ke rumah ya, Mak cik ada oleh-oleh untuk Bundamu”.
“Nisya pulang besok malam
Mak Cik, besok pagi mau ke kantor dulu Insya Allah siang bisa kerumah Mak Cik”.
“Ya sudah hati-hati di
jalan ya”.
“Iya Mak Cik,
Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”.
Setelah Nisya keluar,
Nazril datang dengan mengendong salah satu anak sepupunya.
“Ril, kesini sebentar”
Panggil Ibunya.
Nazril menghampiri Ibunya
yang masih berdiri di depan pintu “iya Ma, ada apa?” tanyanya.
“Nazril lihat gadis yang
berjilbab krem memakai helm itu? “ Tunjuk Ibunya pada sosok Nisya yang sedang
memakai helm sambil berbicara dengan Mila.
“Maksud Mama Nisya?”
tanya Nazril.
Ibu Nazril mengangguk”
Mama masih sangat berharap dia menjadi anak Mama, menjadi menantu di rumah
Mama” Ujar Ibu Maryam lirih sementara Nisya dan Mila telah menghilang dari
pandangan mereka.
Nazril hanya diam, menghela
nafas sesaat “Doakan Nazril Ma, agar mendapatkan pendamping yang baik dan
menyayangi Mama”.
“salahkah jika mama
mengharapkan Nisya sebagai menantu Mama?”
“Ma... sudahlah, Mama
sudah tahu jawabannya dua tahun yang lalu kan”.
“Tapi semua bisa saja
berubah Nak, kenapa kamu tidak mencoba sekali lagi?” Ibu Maryam kemudian
meninggalkan Nazril yang masih berdiri terpaku mencerna ucapan ibunya.
***
Nah, apa yang akan
terjadi selanjutnya? Harap sabar menanti kelanjutannya ya, InsyaALLAH rampung
dalam waktu dekat. jangan lupa kripik pedasnya ya.. :)

Comments
Post a Comment