Love With Your heart,not yours eyes Bab 28
Setelah beristirahat dirumah selama dua hari, Nazril
kembali ke kantor penerbitan Mitra. Nazril mendapatkan sambutan hangat dari
seluruh pegawai Mitra. Suasana kerja dan kekeluargaan dengan seluruh karyawan
Mitra selalu di rinduinya.
“Akhirnya bapak Nazril kembali lagi, ruangan ini sepi
tanpa bapak” ucap Sayed yang di sambuh tawa Nazril.
“kamu bisa saja Sayed, ruangan ini tak banyak berubah apa
direksi yang baru tidak menempati ruangan ini?”
“awalnya hanya saya yang menempati ruangan ini setelah
bapak pergi, tapi melihat teman-teman lebih suka bekerja di ruangan editor kami
semua pindah kesana biar lebih mudah berkoordinasi”
“Ruangan editor?”
“ruang serba guna dulu pak yang telah di ubah jadi ruang
kerja oleh Dhea dan Nisya”.
Dahi Nazril mengerut penuh selidik “bukannya ruangan
Pimred dan editor masih bisa di gunakan?”
“Iya Pak, tapi Dhea dan Nisya ingin suasana kerja yang
baru katanya, ruangan terdahulu terlalu sempit jika mengadakan rapat
koordinasi, dan saya akui terbukti kinerja mereka baik pak walau Nisya ngak
full berada di kantor”.
Nazril tersenyum mengangguk, selama Dhea dan Nisya
bergabung di Mitra memang banyak inovasi baru yang dilakukan dan berhasil
menaikkan omset pendapatan Mitra.
“jam sebelas nanti saya ingin rapat dengan seluruh
karyawan, tolong kamu sampaikan pada yang lainnya” ucap Nazril.
“baik pak” Sayed berlalu dari ruangan Nazril.
Nazril menatap keluar jendela kaca, melihat hiruk pikuk
lalu lintas jalanan kota Banda Aceh. “Mitra memang butuh tipe kepemimpinan yang
baru dan mereka berdua berhasil melakukannya”.
****
Author
Rapat perdana yang dengan seluruh karyawan setelah dua
tahun Nazril meninggalkan Mitra berjalan lancar. Meskipun minus kehadiran Dhea
yang mulai cuti untuk persiapan pernikahannya dan Nisya yang masih berada di
kampung. Nazril memaklumi ketidak hadiran Nisya dalam rapat dadakan yang di
gagasnya.
“Selamat datang kembali Pak Nazril, terima kasih atas
kesempatan yang telah di berikan kepada saya untuk bisa bekerja disini”Ujar
Lisma setelah peserta rapat keluar ruangan hanya meninggalkan Nazril,Randi dan
Sayed.
“Sama-sama Bu Lisma, terima kasih juga untuk dedikasi
yang membanggakan selama Ibu bergabung disini”Jawab Nazril dengan ramah.
***
Malam kian beranjak gelap, Nisya masih berkutat dengan
lembaran-lembaran jawaban ujian murid-muridnya di ruang tamu.
“Istirahatlah Sya,
sudah larut ini” Tegur Bunda yang sudah duduk di salah satu kursi.
“Bunda kenapa belum tidur?” Tanya Nisya.
“Bagaimana Bunda bisa tidur, kalau aneuk dara Bunda masih
bekerja hingga larut malam”.
Nisya tersenyum, “Nisya hanya memeriksa jawaban ujian
anak-anak Nda karena besok harus segera di rekap nilainya dan lusa Nisya harus
berangkat ke Banda untuk menghadiri pernikahan Dhea” jelas Nisya yang sudah
beralih memijat pelan bahu Bunda.
“Oh ya, acara Dhea minggu ini ya?”.
Nisya mengangguk “Bunda ikut ya? Tak enak dengan keluarga
Mak Cik Maryam”.
Bunda menghela nafas, “Nisya saja yang pergi, Bunda
rasanya masih pusing untuk melakukan perjalanan jauh”.
Nisya hanya mengangguk paham, beberapa hari yang lalu kesehatan
Bunda memang sempat ngedrop.
“Sya, Aril sudah kembali dari Malaysia ya?” Tanya Bunda.
“Iya Nda”.
“Nisya masih mau merangkap jadi guru dan editor di
Mitra?”tanya Bunda yang membuat Alis Nisya berkerut penuh tanya, kenapa
tiba-tiba Bunda bertanya seperti itu.
“Bunda hanya kasihan melihatmu Nak, senin sampai kamis
full mengajar, jum’at pagi berangkat ke Banda minggu malam baru kembali apa
tidak capek bolak balik setiap minggunya Nak?” jelas Bunda.
“Insya Allah nggak Nda, Nisya senang melakukannya, lagian
minggu kemarin Nisya nggak ke Banda kan, berhubung Pak Direktur sudah kembali”.
“Bunda lebih senang setelah pernikahan Dhea, Nisya
berhenti di Mitra dan menjadi guru saja lagi pula tanggung jawab Nisya untuk
membantu Nazril selama dia di malaysia sudah selesai kan?” Ucap Bunda yang
langsung membuat Nisya Bungkam.
‘Bunda benar, setelah Bang Aril kembali apa alasanku
untuk tetap bekerja di Mitra?’ Batin Nisya.
####

Comments
Post a Comment