Sahabat Kecil Di Kampung
“Kak
Zahra, aku mau belajar dengan kakak” Ujar seorang gadis kecil dengan buku dan
pensil di tangannya.
Namanya
Siti Aminah namun oleh teman-teman sebayanya sering di panggil Kuntes. Gadis
kecil yang rajin mengunjungi Posko KKM kami di kampung. Aku tersenyum melihat
semangat belajarnya. “Insya Allah nanti siang belajarnya ya dik, pagi ini kakak
harus ke posko kecamatan” Terangku.
“Ayolah
kak, belajarnya sebentar saja pun boleh, aku tak mau belajar bersama mereka
nanti mereka ribut sekali kalau belajar” Bujuknya dengan logat Medannya.
“Maaf
dik, kakak sekarang harus bersiap-siap dulu, nanti siang datang lagi ya”
Sebenarnya aku tidak tega menolak keinginan gadis kecil di hadapanku ini. Dia
termasuk anak yang pandai diantara anak-anak kampung yang mengikuti kegiatan
belajar bersama kami selama seminggu ini.
“Kuntes
pulanglah dulu, nanti siang datang lagi ya” Ujar Lina temanku.
Aminah
akhirnya pulang juga setelah aku menjanjikan akan mengajarinya sendiri nanti
sore.
“Kenapa
orang tuanya tidak menyekolahkannya ke sekolah dasar saja ya?” Ucap Lina.
“Katanya,
terkendala masalah administrasi Lin, sepertinya orang tuanya juga tak mau
memikirkan nasib pendidikannya, Ibunya hanya seorang buruh kebun”.
***
Siang
harinya sekembali dari Posko kecamatan, aku mengajarkan anak-anak kampung
membaca dan menulis. Kemudian mereka akan di ajarkan tarian tradisonal oleh
teman-temanku yang lain. Kegiatan ini termasuk dalam kegiatan sosial program
KKM kami.
Sementara
teman-teman sebayanya belajar menari, Kuntes akan duduk di sebelahku
mengerjakan soal-soal matematika dari buku yang di pinjamkan teman-temannya.
“Ikut
kakak ke pantai setelah ini ya” Ujarku padanya.
***
Menikmati
sore di pesisir pantai menjadi kesenangan tersendiri bagiku semenjak berada di
kampung ini. Kadang aku suka bermain dengan anak-anak di pinggir pantai hingga
menjelang magrib.
“Kak
Zahra, apakah kita teman?” Tanya Aminah.
“Kenapa
tiba-tiba Aminah bertanya seperti itu?”.
“Karena
aku merasa tak punya teman, mereka semua sekolah setiap pagi sedangkan aku
tidak”. Tuturnya.
“Heeemm..
begitu ya, kalau begitu kakak tidak mau jadi teman Aminah tapi kakak mau jadi
sahabat Aminah saja ya” Ujarku tersenyum padanya.
“Benar
kak?”.
“Tentu
saja, asal Aminah tak pernah merasa sendiri dan mau belajar dengan
sungguh-sungguh janji?”
“Janji
Kak, karena aku mau jadi dokter’’ senyum kebahagian terpancar di wajahnya.
Aku
memeluknya hangat.
***
Waktu
berlalu begitu cepat, tak terasa sudah tiga minggu kami berada di kampung ini,
dan seminggu lagi kami akan pulang kerumah setelah merampungkan laporan KKM.
Minggu ini kami di sibukkan dengan kegiatan demontrasi home industri dengan
ibu-ibu PKK kampung.
Alhamdulillah
kegiatan yang kami lakukan mendapatkan respon positif dari masyarakat. Begitu
juga dengan kegiatan mengajar membaca dan menulis bagi anak-anak kampung. Dan
Kuntes sahabat kecilku, masih setia mendampingiku selama melaksanakan kegiatan
di kampung. Untuk membantu Kuntes agar bisa sekolah di sekolah dasar, Kami sudah mencoba berbicara dengan aparatur
kampung agar di berikan keringanan bagi Kuntes untuk bersekolah di sekolah
dasar yang terdapat di kampung. Dan Kuntes bisa bersekolah saat tahun ajaran
baru di mulai setelah melengkapi surat pindahnya.
***
“Kakak,
apa kakak akan datang lagi kesini?” Tanya Kuntes di malam terakhir kami di
kampung.
“Tentu
saja, Insya Allah kakak akan datang lagi kesini, karena kakak punya begitu
banyak saudara disini dan kakak juga punya sahabat kecil yang begitu istimewa
ini” Ujarku sembari menyentuh hidungnya dengan ujung jari.
“Kuntes
sayang kakak” Tangisnya dalam pelukanku.
***
Perpisahan
adalah hal yang menyesakkan pada setiap pertemuan. Pada akhirnya setelah tugas
kami selesai, kami bersiap kembali ke kampung halaman masing-masing. Beberapa
Ibu-ibu yang menjadi orang tua angkat kami selama di kampung melepas kepergian
kami dengan tangisan.
Dan
anak-anak itu, Sahabat-sahabat kecilku selama disini berdiri menyalami kami
satu persatu. Aku meyakini kelak akan sangat merindukan mereka kembali. Dan
Kuntes langsung sesegukkan menangis dalam pelukanku.
“Kuntes
belajar dengan baik ya, saat sekolah nanti minta di panggil Siti Aminah ya,
karena nama itu indah dik seperti nama ibunda Rasulullah” Ucapku padanya.
Lambaian
tangan mereka mengantarkan langkah kami hingga meninggalkan kampung yang penuh
dengan cerita indah bersama sahabat-sahabat kecilku.
Kuntes
atau Siti Aminah dan teman-temannya yang lain akan selalu ku ingat sebagai
sahabat-sahabat kecil di kampung yang
mempunyai sejuta mimpi untuk masa depan.
Dedikasi rindu : “Untuk
sahabat-sahabat kecilku di kampung Cot Mue, yang selalu membuatku bangga bisa
mengenal kalian...”
Alue-Bilie,
13 Desember 2014***
Comments
Post a Comment