Membahagiakan Mamak
Sekali
lagi kutatap wajah nan teduh itu dengan hati sedih. Terbayang rasa sakit yang
mendera tubuhnya begitu menyiksa namun tak kutemukan tangis di sana. Aku
mencoba untuk tetap tenang walau kabut mulai menghiasi mata saat menyaksikan
tubuh renta itu terbaring di ruang perawatan untuk yang kesekian kalinya.
“Mamak
tidak apa-apa Aisha” Ucapnya sembari mengelus tanganku lembut.
Aku
menggeleng, berusaha menyembunyikan tangisku. Mamak berkata baik-baik saja saat
tubuhnya terkapar di ruang perawatan rumah sakit. Tak pernah mengeluh
sedikitpun atas sakit yang setia menemaninya selama ini.
“Ibu Khatijah harus selalu di jaga kondisinya,
jangan sampai kelelahan jika kondisi kesehatan beliau kian menurun tak menutup
kemungkinan terburuk yang bisa terjadi” Terang Dr. Kamil, dokter yang selama
ini menangani Mamak.
Bang
Ridha yang duduk di sebelahku hanya mampu menunduk, penampilannya terlihat
kacau dengan lengan kemeja yang di tarik asal. Beberapa jam yang lalu bang
Ridha baru tiba dari Jakarta.
“Setelah
kondisi Mamak membaik, Abang akan membawa Mamak ke Jakarta” Kata Bang Ridha
setelah kami keluar dari ruang Dr. Kamil.
“Mamak
tidak akan mau Bang?”.
“Kali
ini Mamak harus mau, ini demi kabaikan Mamak, Abang juga sudah membicarakannya
dengan Kak Ria” Tegasnya. “Abang hanya ingin yang terbaik untuk Mamak, seperti
Mamak selalu memberikan yang terbaik untuk kita” Lanjutnya.
“Mamak
baik-baik saja Ridha, pulanglah kasihan istrimu disana sendirian apalagi dengan
kondisinya yang sedang hamil” Ujar Mamak saat Bang Ridha mengajak beliau untuk
ikut ke Jakarta.
“Mak,
Ridha mohon untuk sekali ini saja dengarkan Ridha’’ Bujuk Bang Ridha.
“Tidak
Nak! Mamak tak akan pernah menjual sawah peninggalan Ayahmu, karena dari
padi-padi itulah Mamak bisa menyekolahkanmu dan adikmu hingga kamu bisa seperti
ini ” Tegas Mamak.
“Bang,
sudahlah..” tegurku pada Bang Ridha, khawatir pembicaraan ini akan membuat
penyakit Mamak Kumat Kembali.
***
Seminggu
telah berlalu, kondisi kesehatan Mamak mulai membaik. Namun Mamak masih menolak
keinginan Bang Ridha untuk tinggal bersamanya di Jakarta. Baginya bumi rencong
ini punya sejuta kenangan bersama Almahum Ayah walau jasad Ayah dan kenangan
itu telah hilang terbawa arus gelombang tsunami yang melanda Aceh beberapa
tahun silam.
“Rumah
sakit di Jakarta mungkin memang memiliki peralatan yang canggih untuk bisa
mengobati penyakit Mamak, tapi kita takkan pernah bisa mengobati kerinduan
Mamak terhadap Ayah” Ujarku pada Bang Ridha .
“Abang
tahu, karena Mamak begitu mencintai Ayah dan Mamak hanya ingin tetap tinggal disini
merawat sawah penginggalan Ayah dan Abang sadar kebahagiaan Mamak hanya
disini”.
“Lalu
keputusan Abang sekarang bagaimana? Masih tetap akan membawa Mamak ke Jakarta”
Bang
Ridha tersenyum padaku “Besok Abang akan menjemput kakak Iparmu”.
“Maksud
Abang?” tanyaku.
“Abang
sudah berbicara dengannya, kami sepakat akan tinggal disini karena
kebahagian dan doa Mamak sesuatu yang
takkan pernah tergantikan bagi kita” .
“Ridha,
Aisha..! kenapa masih di luar? Sudah magrib ini” Teriak Mamak dari dalam rumah
yang menghentikan percakapan kami.
Aku
dan Bang Ridha sontak tertawa, Sudah lama kami tak mendengar Mamak memarahi kami yang sering menghabiskan waktu
sore di sini. Kemudian kami bergegas memasuki rumah. Dan dalam sujudku malam ini, tak lupa ku
selipkan doa memohon kebahagian untuk Mamak seperti Mamak yang selalu
memberikan kebahagian untuk kami.
Alue-bilie,
19 Desember 2014***
Comments
Post a Comment