Senandung Syiar Dakwah Rapa’i
“Kalian
harus mengingat selalu, tarian rapa’i geleng ini bukan sekedar menggerakkan
badan dan menabuhkan rebana saja tapi ikuti adab dan lirik-lirik yang di
sampaikan harus terukir di hati kalian sebagai pesan kebajikan yang selalu di
ingat dan di amalkan” jelas Abua Ilyas untuk kesekian kalinya.
“Baik
Abua” jawab kami kompak.
Untuk
kesekian kalinya Abua memarahi kami yang tidak serius mengikuti latihan Rapai
Geleng yang di pimpinnya. Aku melirik telapak tanganku yang sudah merah karena
menabuh rebana.
“Kamu
Hamid! Pindah kesebelah Lukman belajar menabuh rebana yang benar”perintah Abua
yang langsung ku ikuti.
“Belajarlah
mencintai seni rapa’i ini, jika bukan kalian yang akan melestarikan budaya ini”
ujar Abua sembari setelah rokok
tembakaunya asapnya mengempul mengantarkan aroma khas tembakau “sudah lanjutkan
latihannya” lanjutnya.
Kami
kembali mengatur posisi dan Muksin mulai mengucapkan syair saleum sebagai
pembuka.
***
Hamparan
lautan menjadi pemandangan menarik manakala matahari mulai tenggelam. Lukman,
Muksin dan sebelas teman lainnya yang tergabung dalam grup Rapai geleng sudah
pulang setelah latihan usai, Aku lebih senang menghabiskan waktu dengan duduk
bersandar di bawah pepohonan rindang sembari melepas lelah dan menenggelamkan
pikiran tentang masa depan dan impian yang entah kapan bisa ku gapai.
Mimpiku
untuk bisa kuliah kini terkubur dengan kabut senja yang mulai menghiasi langit,
setelah Ayah pergi rasanya aku tak punya nyali untuk kembali melanjutkan
mimpiku selain mengikuti amanah terakhir Ayah untuk belajar bermain Rapa’i
Geleng pada Abua Ilyas yang juga merupakan guru Ayah. Lamunanku buyar saat sayup-sayup ku dengar
kumandang azan magrib dari mushala. Lantunan Indah mengangungkan-Nya yang di kumandangkan
Abua ilyas. Aku bergegas menuju mushala.
Sore
ini, seperti biasanya kami kembali mengikuti latihan Rapa’i geleng di bawah
pohon rindang tepi pantai. Tabuhan rebanaku sudah baik dan tanganku tak sakit
lagi karena aku memukulkan dengan mengikuti irama tidak seperti sebelumnya.
Usai
latihan Abua Ilyas mengajakku berbicara di pinggir pantai. Aku mengikuti
langkah beliau menyisiri pantai dengan sesekali memandang langit sore.
“Hamid,
kamu tahu kenapa saya begitu mencintai kesenian Aceh?” tanya Abua yang langsung
menghadiahi kebingungan di wajahku. Dan aku hanya mampu menggeleng.
Abua
tersenyum “dulunya Abua sama sepertimu, tak mau belajar kesenian Rapa’i ini
karena bagi Abua belajar di Kota lebih menyenangkan dari pada menetap di
kampung yang masih jauh dari peradaban ini” Abua menarik nafas sejenak matanya
memandang lautan. “tapi akhirnya Abua sadar setelah beberapa teman-teman Abua
yang sudah berangkat ke kota pulang
kembali tanpa menyelesaikan pendidikannya dan malah berakhir menjadi nelayan
setelah menghabiskan begitu banyak uang untuk ke kota. Kota itu kejam, jika
kita tak punya iman dan ketangguhan hati maka akan dengan sangat mudah
terjerumus dengan keburukan”.
“tapi
tidak semuanya seperti itu Abua..” potongku.
“iya,
memang tidak semua begitu tapi hampir sebagian besar pemuda kampung ini yang ke
kota bernasib seperti itu kan? “
Aku
hanya diam.
“Itulah
yang membuat Almahum Ayahmu tidak mau melepaskanmu ke kota dan lebih
mempercayakan kamu belajar kesenian Rapa’i padaku, Ayahmu ingin kamu menjadi
lelaki yang memiliki pengetahuan agama yang kuat agar kamu tak mudah terjerumus
kedalam pergaulan yang tidak baik”.
“lalu
kenapa Ayah tidak memintaku belajar di pesantren saja?” Akhirnya kulontarkan
pertanyaan yang sudah sekian lama ku pendam.
Abua
tertawa mendengar pertanyaanmu “ kelak kamu akan mengetahui maksud keinginan
ayahmu, tapi yang jelas rapa’i bukan sekedar kesenian tradisional semata, setiap
babak dalam tarian rapa’i merupakan syiar dakwah, syiar kebaikan yang selalu di
simak dengan baik oleh penonton” jelas Abua “sudah sana, mumandangkan azan sudah
masuk waktu magrib ini”.
Aku
mengangguk, dan berlalu meninggalkan Abua menuju mushala.
***
Banda Aceh, Dua Tahun Kemudian....
“Alhamdulilah
Pujo Keu Tuhan Nyang Peujeut Alam Langet Ngon Donya, Teuma Seulaweut Ateuh
Janjongan Panghulee Alam Rasul Ambiya”(*)
Riuh
tepuk tangan penonton yang memenuhi gedung ACC Dayan Dawood Unsyiah tempat
pertunjukkan Rapa’i di gelar. Aku larut dalam gerakan menabuh rebana mengikuti
syair yang di lantunan Rahmat. Dua tahun sudah kini aku telah menginjakkan kaki
di Kota Banda Aceh. Kini namaku tercatat sebagai mahasiswa fakultas Dakwah IAIN
Ar-Raniry dan juga Aktivis di Komunitas Pecinta Seni. Rapa’i telah menjadi
bagian penting dalam hidupku lewat rapa’i ku sampaikan pesan dakwah seperti
yang di katakan Abua Ilyas dulu dan kini aku mengerti alasan Ayah memintaku
belajar kesenian rapa’i, bukan sekedar untuk mencintai budaya khas Aceh tapi
juga untuk menjadi pelantun dakwah lewat syiar-syiar islam yang tertuang dalam
lirik-lirik rapa’i.
Terima Kasih Ayah dan Abua, untuk
ilmu dan pengalaman yang berharga ini. Dengan mencintai budaya aku belajar
bagaimana berbagi tanpa pamrih, liburan semester nanti aku akan pulang ke Nagan
melepas rinduku pada Ayah dan Abua. Mengalunkan doa-doa indah di sisi
pusara keduanya.
Alue-Bilie,
8 November 2014
***
Keterangan
:
(*) = “Segala Puji
kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan dunia, Selawat dan salam pada
junjungan Penghulu alam Rasul Anbiya”
Comments
Post a Comment