Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::




Rinai-rinai air langit masih setia membasahi bumi, Nafisah tersenyum menatap langit. Menatap awan gelap yang menghiasi langit senja. Inilah waktu baginya untuk mengenang kembali lembaran kenangan yang tersimpan rapi di sudut hatinya. Pandangan dan senyumannya tidak lagi menyiratkan sebuah beban seperti yang selalu di perlihatkannya dua tahun yang lalu. Dan semua ini berawal dari satu kata, CINTA. Dan cinta itu ada pada sosok yang berdiri beberapa meter darinya, sosok lelaki yang mengenakan setelan kemeja lengan panjang, celana kain, dengan janggut tipis dibawah dagunya. Sosok itu terlihat tersenyum saat berbicara dengan teman-temannya. Dan senyumnya selalu membuat hati Nafisah bagai disiram kebahagian.

“Namanya Alif Nurdiansyah, mahasiswa fakultas ekonomi, dia juga aktif di Dakwah Kampus kalau kamu ingin tahu lebih banyak lagi datang aja ke mushala kampus setiap hari sabtu” perkataan Lina sahabatnya masih tergiang-giang di ingatannya.

“Alif...”gumamnya lirih dengan senyuman. “Besok aku harus menemuinya di mushala kampus”

Pagi-pagi sekali Nafisah sudah berangkat ke kampus dan saat jam di pergelanggan tanganya menunjukkan angka sembilan dia sudah berada di depan Mushala kampus. Nyalinya untuk masuk kedalam mushala mendadak hilang saat melihat beberapa wanita yang mengenakan pakaian dan jilbab besar  memasuki masjid, Nafisah menatappenampilannya sendiri. Saat ini ia mengenakan kemeja lengan panjang, celana jeans, dan jilbab. Menurutnya penampilannya masih cukup sopan untuk mengikuti perkuliahan tapi untuk masuk ke dalam mushala dan bergabung dengan wanita-wanita berjilbab besar itu. 

“eheem... kenapa tidak masuk kedalam ukhti?”sebuah suara sontak membuatnya menoleh kebelakang. Dan alangkah terkejutnya Nafisah saat yang berdiri di hadapannya adalah sosok yang ingin ditemuinya. Nafisah menoleh ke kiri dan kanan, adakah orang yang bernama ukhti yang di maksud Alif. Namun tidak ada siapapun disana selain mereka berdua.

“Maaf, saya Nafisah bukan ukhti” ujar Nafisah memberanikan diri.

Sosok yang berdiri di hadapannya menyunggingkan senyum di wajah, namun tatapan lurus kedepan. Nafisah menyengik ‘dia dihadapanku saat ini, tapi sama sekali tak menoleh padaku’.

“Maksud ana ya kamu, jadi namamu Nafisah” tanya.

Nafisah mengangguk “Tak apalah, tadi saya hanya melihat-lihat saja kalau begitu saya permisi mau masuk kelas”.

“Bukankah hari ini libur nasional? Tiada kegiatan perkuliahan hari ini” Ujar Alif.

Nafisah diam, dalam hati mengerutuki kebodohannya.

“Masuklah, sebentar lagi pengajiannya akan dimulai” 

“tapi.. saya...” Nafisah kembali melirik penampilannya. Setelan kemeja, celana jeans dan jilbab ala kadar.

“Didalam ada mukena yang bisa kamu kenakan jika merasa tidak nyaman dengan pakaianmu sekarang dan ALLAH tak pernah memandang rendah hamba-Nya yang ingin mendekat pada-Nya.

Akhirnya Nafisah mengikuti Alif masuk kedalam mushala, Nafisah duduk di shaf perempuan paling depan setelah sebelumnya mengenakan mukena yang di sediakan mushala. Awalnya Nafisah merasa aneh karena hanya dia sendiri yang mengenakan mukena diantara para hijaber lebar.namun itu hanya berlaku sesaat, pendengaran Nafisah selanjutnya terfokus pada suara maskulin yang bergema menyampaikan Tausyiah dan walau tanpa melihat karena di batasi dengan hijab, Nafisah sudah sangat hafal suara itu, itu suara Alif. 

Sudah sebulan berlalu, setiap sabtu Nafisah rutin mengikuti pengajian di mushala. Dia juga mulai mengenakan rok panjang dan memilih menyimpan celana jeansnya baik-baik dirumah. Banyak pelajaran baru tentang islam yang di peroleh setelah rutin mengikuti pengajian. Nafisah juga mulai akrab dengan beberapa akhwat berkerudung besar. Salah satunya Mba Jannah wanita yang terkenal aktif dan ramah. Dan pada Jannah Nafisah akhirnya menceritakan kegalauan hatinya namun tak mengatakan jika yang ia sukai itu Alif Nurdiansyah Ketua LDK mereka. 

“Jika lelaki itu baik akhlak dan agamanya dan Dik Naf sudah yakin dengan istikharah mintalah kesediannya untuk menikahimu karena tiada hubungan paling berkah bagi lelaki dan perempuan sebelum mengikatnya dalam ikatan pernikahan yang sah dimata ALLAH” jelas Mba Jannah.

“kalau seandainya Naf ditolak bagaimana Mba?”

“Jangan berburuk sangka dulu, ingat Rasulullah juga dilamar oleh Khatijah dik”

Berbekal dengan kemantapan hati atas dorongan Mba Jannah, pada akhirnya Nafisah menulis sebuah surat yang berisi perasaanya untuk Alif. Nafisah menyerahkan surat itu langsung pada Alif saat pengajian rutin telah usai,

 “Apa ini? Boleh ana baca sekarang saja?” tanya Alif
Nafisah menggeleng, “baca nanti saja setelah saya pergi”
Alif mengangguk paham. Kemudian Nafisahpun pamit.
Alif  langsung membaca surat yang di berikan Nafisah.
---
Teruntuk Ihkwan Shaleh
Alif Nurdiansyah...

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.....
Sebelumnya, ijinkan aku meminta maaf atas kelancangan mengirimkan surat ini kepada akhi. aku tahu ini salah namun ini juga tak bisa terus di diamkan sementara hati terus bergejolak tak  tenang untuk  itu aku memberanikan diri mengutarakan apa yang kurasakan melalui surat ini.
Akhi Alif, dengan segala kerendahan hati dan kekuranganku maukah engkau menjadi imanku menjadi penuntunku meraih cinta dan Surga-Nya?
.......
____
“Astagfirullah..” ujar Alif  penuh penyesalan tanpa menyelesaikan membaca surat yang di tulis Nafisah.
====
Seminggu sudah berlalu sejak Alif menerima surat dari Nafisah, namun sampai detik ini Alif tak membalas sama sekali. Nafisah masih rutin mengikuti pengajian di mushala kampus namun beberapa hari ini Alif tak nampak mengikuti pengajian.

Dari salah satu ikhwan yang mengantikan Alif mengisi kajian, Nafisah ketahui bahwa Alif sedang merawat ibunya yang sedang sakit. Dalam hati Nafisah berdoa semoga ibu Alif segera di berikan kesembuhan oleh ALLAH.

Waktu terus bergulir diantara kebimbangan Nafisah menanti jawaban dari Alif. Setiap malam ia berdoa yang terbaik menurut ketentuan ALLAH baginya. Hijrah... jalan ini telah ia pilih, sanggupkah ia bertahan nanti jika pada akhirnya harapannya tak tertunaikan?
Deretan kata-kata pertanyaan akan kesungguhan dan keistiqamahan dirinya akan jalan yang telah di tempuh menghiasi pikirannya. “ALLAH betapa malunya diri, ketika semangat hijrahku pada-Mu mulai pias sedikit demi sedikit karena rasa cinta pada insan ciptaan-Mu” batinnya.
Nafisah tidak ingin terus terpuruk, baginya setelah minggu-minggu ini adalah jawaban. Harapan akan sosok Alif harus segera di hapus dari hatinya.
“Bissmillah....”
---
Alue-Bilie, 25 April 2012
Cerita ngantung.... hehee...
Tulisan lamaku diantara tumpukan diary ^^




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19