Love With Your heart,not yours eyes Bab 27
Author...
Langit fajar mulai
mngantarkan sang mentari kesinggasana agungnya. Suasana Flat mahasiswa
Indonesia di malaysia masih nampak lenggah, bahkan beberapa di antara mahasiswa
masih bergelut di bawah selimut nyamannya usai melaksanakan shalat subuh.
Sayup-sayup lantunan murratal surat Ar rahman bergema dari sebuah kamar Flat,
suara merdu dan indah Mishary Rashid alAfasy mampu mengetarkan hati siapapun yang mendengarnya
apalagi saat ayat ‘Fabiayyi 'ala irabbikuma tukadziban’ di baca
berulang-ulang.
“Ustadz Nazril! Jom
kita jalan-jalan pagi minggu asik kat bilik je” ujar Lian Mahasiswa
berdarah campuran Indonesia-Malaysia.
“duluan sajalah Lian, aku mau menyelesaikan pekerjaan
dulu” jawab Nazril tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
“Alah.. Jomlah.. tak seronoklah tak ada kau”
“Maaf Alan, tapi aku harus segera memeriksa laporan ini”
Nazril menoleh pada Lian. Dia memang masih harus memeriksa laporan keuangan
Mitra yang telah dikirim Dhea Via email.
“Alah.. Jomlah sekejap saje, penatlah asik dalam bilik
je”
“penat, tido lah dulu” ujar Nazril dengan logat jiran
yang telah di pelajarinya.
“alah.. korang tak tau ke semua budak kat sini cakap
pasal kau yang nak balik kat Aceh macam mana pelik aku fikir”
“pelik kenape pulak?” ujar Nazril dengan senyuman.
“ah.. kau nih, mesti pura-pura tak paham lagi yang kau
balik cepat sangat tu kenape?”
“amboi, sejak kapan Teuku Alan Syah perhatian sangat kat
aku nih” gurau Nazril.
“Alah Nazril, aku cakap betol-betollah yang kau nak balik
cepat tuh kenape?”
Nazril menutup laptopnya, temannya satu ini memang sejak
awal berkenalan sudah mempunyai suatu rencana untuk Nazril. Tepatnya rencana
menjodohkan Nazril dengan Adiknya yang saat ini masih kuliah dimesir.
“kau ada Makwe ke?” tanyanya lagi penuh selidik.
Nazril mengangkat bahu. “kau nih Lan, asik nak jodohkan
aku dengan adik kau je, manalah mau adik kau tu dengan peragai pelik macamku
nih”.
“sapa cakap perangai kau buruk? Selama nih Ok je aku
lihat semacam mat saleh lah sesuai tuk kategori Husband Masyitah”.
Nazril mengeleng-geleng kepala. “Jomlah.. kita jalan, tak
habis bahas pasal jodoh dengan kau penatlah aku”
“laa.. apasal pulak kau yang penat? Kau tinggal oke je
langsung lamar adikku” Alan mengikuti Nazril yang sudah keluar kamar.
Di ruang tamu ada Imran dan Izar mahasiswa S1 asal
Lhoksemawe dan jakarta.
“alah hay, abang Alan nih tak habis-habis cakap pasal jodoh dengan bang Nazril tak tau ke abang nazril dah punya calon kat Aceh” Ujar imran yang diikuti anggukan Izar.
“Iye ke Ril?” tanya Alan.
“Jodohku masih jadi rahasia ALLAH” jawab Nazril.
“Abang Alan nak sangat ke beradik ipar dengan Bang
Nazril? Kalau bang Nazril tak nak macam mana?” tanya Izar.
“Alah.. korang berdua nih penyibuk je, aku cakap kat
Nazril lah” ujar Alan kesal.
“Alan jangan terlalu berharap padaku, aku yakin adikmu
pasti akan mendapatkan iman yang lebih baik dariku” ujar Nazril.
“Nah, itu bahasa halus sebuah penolakkan Bang Alan”
sambung Izar. Yang langsung mendapatkan senggolan dari Imran.
“aku penatlah Ril, sebagai abang tertua dan anak laki
satu-satunya aku memiliki tangguh jawab besar untuk mencarikan jodoh yang
terbaik untuk adik-adikku”
“kalau macam tuh kami juga mau menjadi calon adik ipar
Bang Alan, ya ngak Zar” ujar Imran.
Mereka semua tertawa.
Nazril jadi teringat pesan mamak sebelum dia berangkat
kemalaysia dua tahun lalu “Aril janji sama Mama ya,
Aril harus kembali ke sini dan jangan menikah disana siapapun pilihan Aril
nanti pertemukan dengan Mama terlebih dahulu ya”
‘kenapa disaat aku telah jauh
meninggalkan bumi rencong, hatiku masih bertaut disana, Masyitah adik Alan
gadis yang baik tapi tak ada sedikitpun perasaanku untuknya’ gumamnya.
Nazril membuka pintu,
“Mau kemana Bang?” tanya Izar
“mau cari udara segar sejenak”
“aku ikutlah” ujar Alan.
“Jomlah, tapi jangan bahas pasal
jodoh lagi ya” kata Nazril.
“iyelah”
Merekapun berjalan santai di komplek
flat mahasiswa. Nazril menghirup udara pagi dengan nyaman sembari memejamkan
mata. Tak terasa dua tahun sudah dia menetap disini dan kini detik-detik
kepulangannya ke Aceh kian dekat, hanya tinggal menunggu sidang tesisnya saja
tiga minggu lagi.
***
Nazril..
Usai mengucapkan salam, smartphoneku
berbunyi, pesan WA dari Dhea.
“Bang, Video call bentar ya ada yg mau aku omongin penting!”
“Assalamu’alaikum” sapaku saat layar
laptopku telah menampilkan wajah Dhea.
“Wa’alaikum salam” Wajah sepupuku
terlihat memprihatinkan dengan kantung mata menghitam.
“Kenapa Dhea? Jangan katakan kamu
telah menghabiskan semalam suntuk untuk membuat kantung mata itu?”
“ini semua salah Bang Aril”
“Salahku? Bagaimana bisa aku disini
dan kamu disana” candaku namun langsung di hadiahi perototan oleh Dhea.
“kenapa abang Aril membiarkan Randi
ketemu dengan Papa?” tanyanya sinis.
Aku tersenyum, apa anehnya coba, aku
hanya memberikan jalan bagi Randi untuk bertemu dengan Paman Husein untuk
melamar Dhea.
“Randi pilihan yang baik untukmu
Dee” ujarku tulus.
“Bang Aril tahu kan aku masih
kuliah” gerutunya.
“tinggal menyusun skripsi
Dee”lanjutku.
“sama saja, aku tak pernah berpikir
untuk menikah sebelum mendapatkan pekerjaan yang sesuai denganku, tapi Abang
tahu sekarang? Papa tak henti-hentinya memintaku untuk segera menikah dengan si
kunyuk itu” cecarnya.
Aku tertawa “ Si kunyuk? Maksudmu
Randi?”
“Iya siapa lagi, sampai Karyawan
Mitra sudah hapal kelakuannya, Abang bayangkan saja bagaimana mungkin dia
mentraktir seluruh karyawan hingga pertunangan sepihak ini diketahui oleh
mereka”
Aku terkekeh melihat ekpresi Dhea
yang mengerutu.
“puas ngetawain aku?” sewotnya.
“Ok.. sorry, trus maunya kamu
sekarang bagaimana Dee?”
“Aku tidak ingin menikah dalam waktu
dekat Titik! Setidaknya sebelum abang menikah”. Tegasnya.
“Lhaa.. kenapa jadi nyangkutnya di
aku? Yang dilamar itu kamu Dee bukan aku lagi pula saat ini aku sudah merasa
cukup nyaman disini”kilahku.
Biasa gawat urusannya jika Dhea
menyampaikan pada Mama kalau dia akan menikah setelah aku menikah, bisa-bisa
perjodohan ala Mama akan terulang kembali.
Maafkan Nazril Mama...
“Bang Aril kapan akan menikah?”
tanyanya.
Aku hanya mengangkat bahu, “kenapa
jadi bertanya tentangku? Bukankah saat ini kamu yang tengah dilanda kegalauan
tentang pernikahan”
“ckck.. buruan pulang sebelum Kak
Nisya di lamar orang lain” ujarnya. Aku melotot
“apa maksudmu Dee? Ini tak ada
hubungannya..”
“sudahlah aku tahu apa yang ada di
hati abang”
“cih... sejak kapan kamu pandai
membaca isi hati orang?” ujarku dengan senyum mengejek.
Dhea cengegesan, kenapa jadi aku
yang di bully, bukankah tadi yang curhat dia.
“Deee... udah siap belum? Kakak ke
mushala dulu ya?” sebuah suara mengalihkan lamunanku. Di layar laptop terlihat
wajah seorang yang dulu... ah.. bibirku terasa keluh untuk menyebut namannya.
Aku hanya terpaku melihat dia berbicara dengan Dhea tanpa menoleh ke arahku.
“Bang Aril, Dhea tutup dulu ya.. mau
ke mushala Assalamu’alaikum” .
Dan sambungan Video Call pun
terputus tanpa mendengar komentarku dulu.
Aku menghela nafas, kenapa tiba-tiba
hatiku menjadi gelisah?
“ckckck... buruan pulang sebelum Kak
Nisya di lamar orang lain” kalimat Dhea kembali tergiang di kepalaku.
“Astagfirullah... apa yang kamu
fikirkan Nazril, bukankah ini semua pilihanmu” aku menertawakan kealpaan
diriku.
####
Author
Waktu terasa begitu cepat berlalu,
hingga akhirnya kembali mengantarkan Nazril pulang ke bumi tanoh rencong. Hari
ini dia kembali ke Aceh setelah menyelesaikan semua urusan pendidikan di
malaysia.
Pintu masuk kedatangan luar negeri
Bandara Sultan Iskandar Muda tanpa ramai siang ini. Nazril mengatur langkah
sembari menarik kopernya.
“Apa Kabar Ril?” tepukan di bahu
membuat Nazril menoleh.
Nazril tersenyum, mengenali Randi
yang berdiri di hadapannya “ Alhamdulillah.. jadi juga pak pengacara menjemput”
ujar Nazril.
“tentu saja, aku akan selalu sedia
untuk sahabat sekaligus calon sepupu iparku ini” kekeh Randi.
“iyalah.. asalkan kamu bisa bersikap
sebagai sepupu yang baik nanti”.kekeh Nazril.
“hay Bro, sudah puluhan tahun kita
bersahabat mana mungkin aku tak bisa jadi sepupu ipar yang baik” sewot Randi.
Mereka terus bercanda menuju mobil
Randi yang terparkir di depan bandara. Setelah menempuh perjalanan selama
setengah jam akhirnya mobil Randi berhenti di depan rumah Nazril.
Di depan pintu Nazril mengucap salam.
Tak lama kemudian Bik Ijah membuka pintu. Wanita paruh baya itu nyaris histeris
tak percaya melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
“Ya ALLAH.. Nazril..”
“Assalamu’alaikum Bik Ijah” sapa
Nazril dengan senyuman sembari menyalami wanita paruh baya yang telah lama
bekerja di keluarganya.
“Wa’alaikum salam.. kalau bibik
tidak salah, bukannya minggu depan Nazril baru pulang?”
Nazril tersenyum “Kejutan Bik, udah
kangen Aceh oya Mama mana?” tanyanya serayan masuk.
“siapa yang datang Bik... Ya ALLAH
Nazril” ibu Maryam keluar hendak melihat siapa yang datang dan alangkah
terkejutnya ketika melihat putra yang dirindukan sudah berdiri di hadapannya.
Nazril langsung berlari bersimpuh
dihadapan mamanya. Ibu Maryam menangis haru, kerinduannya pada putra semata wajangnya
terobati sudah.
“kenapa Aril tidak bilang kalau
pulang cepat?”tanya ibu maryam saat mereka sudah duduk di ruang tengah.
“sengaja, mau bikin kejutan untuk
mama” jawab Nazril.
“Kamu ini, jadi kecuali mama yang
lain tahu kalau Aril pulang hari ini? Dan Randi juga?” tanya mama sembari
menoleh pada Randi.
Randi tersenyum “ Pakcik juga tahu”
“kalian ini, pantas saja Papa
meminta Mama untuk menyiapkan makanan kesukaanmu siang ini, alasannya karena
kangen masakan mamalah” omel Mama yang di ikuti tawa Nazril dan Randi.
“tapi Papa sekarang masih di kantor
Pa, ada rapat dengan Dewan” jelas Nazril.
Ibu Maryam mengangguk bahagia.
“Dhea ngak kesini Ma?” tanya Nazril.
“baru setengah jam yang lalu pulang,
katanya mau mengantar Nisya ke terminal”.
“Wah.. kita telat selangkah Bro”
gerutu randi.
“Tenang Bro, bukannya dua minggu
lagi kalian bakalan Sah” kekeh nazril.
Dua minggu lagi Randi memang akan
melangsungkan pernikahan dengan Dhea, akhirnya setelah perdebatan panjang Dhea
luluh juga untuk menerima Randi sebagai pendampingnya.
“kalian ini, sudah ayo kita makan
Mama sudah siapkan semua” ajak ibu Maryam.
###
Tbc.^^
Alue-Bilie, 6 syawal 1435 H

Kebanyakan belum diselesaikan ya afri?? Bagus kok tulisan2 nya, afri termasuj produktif dan cerita2 nya asik, kurang semangat aja afri jd kdg blm bs nyelesaikan sampai akhir.. hehehe sama kayak saya... xixixi sy suka cerita surat cinta nafisah.. hmm sedikit mirip... xixixi
ReplyDeleteiya kak, kadang semangat nulisnya sering down... hehee...
ReplyDeletehehee.. yang surat cinta nafisah itu sedikit curhatan kak..
heheee.....
maaf baru buka blog kembali... :)