Love With Your heart,not yours eyes Bab 24




Dua tahun kemudian.....

Matahari bersinar cerah di temani deretan awan-awan putih di atas birunya langit. Nisya tak henti mengukir senyum melihat beberapa muridnya antusias membantu beberapa guru wanita yang sedang membakar ikan. 

Pantai Ujong Kareung Meulaboh masih memancarkan pesona keindahannya, walau pernah di hantam  golombang Tsunami, bahkan kini tempatnya jauh lebih indah dengan adanya beberapa cafe dan pepohonan rindang. Dulu saat dia masih di sekolah dasar setiap akhir semester pihak sekolah pasti akan membawa murid-muridnya bertamasya alam disini. Tak terasa puluhan tahun tlah berlalu dan kini Nisya berdiri disini sebagai seorang guru yang membawa murid-muridnya.



“Ibu Nisya, ikannya ngak bakalan matang kalau di lihatin saja bantuinlah” Sisi salah seorang muridnya mengerutu dengan memanyunkan bibirnya.

Nisya tertawa, gadis empat belas tahun itu memang tak pernah segan untuk meminta pertolongan Nisya yang notabennya gurunya.

“Sini biar aku yang bantuin aja ya Si, Ibu Nisya lagi menikmati pemandangan iya kan Bu?” kali ini giliran Rasya yang membela Nisya sembari mengedipkan sebelah matanya pada Nisya. Dan Nisya langsung paham maksud kedipan mata itu. Ia terkikik menahan tawa, apalagi saat melihat ekspresi tidak suka Sisi. Bukan rahasia umum lagi di kelas VII2 SMP Negeri 2 Meulaboh Rasya memang terang-terangan sudah mengatakan menyukai Sisi namun Bocah yang mulai dewasa sebelum waktunya itu tak pernah menyerah walau berulang kali Sisi menolaknya. 

“Rasya! Ngapain kamu di kelompak anak perempuan?” suara tegas Pak Harlan guru Olahraga sembari berkacak pinggang di depan mereka.

Nisya mengeleng-geleng kepala, sudah hapal betul apa yang akan terjadi setelah ini. Dia harus segera bertindak sebelum peristiwa di lapangan sekolah beberapa hari yang lalu terulang kembali.

“saya yang meminta Rasya membantu disini Pak?” ujar Nisya.

Pak Harlan menoleh pada Nisya,“ tapi Bu, tempat Rasya bukan disini saat teman-temannya sedang bermain bola disana” pak Harlan menunjuk pada siswa-siswa lelaki yang sedang bermain bola di tepi pantai. 

“hari ini kita sedang bertamasya alam Pak, bukan pertandingan bola jadi saya rasa setiap anak-anak punya cara tersendiri untuk menikmati acara ini selama itu masih wajar dan tidak melanggar moral tentunya”ujar Nisya. 

Rasya melirik Nisya dengan senyum. “Ibu Nisya memang guru yang paling mengerti muridnya” gumamnya dalam hati. Sementara Sisi beranjak menjauh dari Rasya, membiarkan Bela mengantikan tugasnya tanpa disadari Rasya.

“terserah ibulah, ibu terlalu memanjakan murid-murid ibu sehingga mereka tak pernah merasa takut pada ibu” Pak Harlan segera berlalu.

Nisya hanya menghembus nafas pelan, sejak ia mengajar di SMP negeri 2, ia menangkap geragat ketidaksukaan Pak Harlan padanya. Apalagi baru beberapa bulan mengajar Nisya sudah di tugasi untuk menjadi Wali kelas.

“sudah lanjutkan kerja kalian, Rasya ikan itu sudah bisa di angkat” pinta Nisya pada rasya.
Rasya mengangguk, “Sini biar Abang Rasya aja yang angkat ikannya Dek Sisi” ujarnya.

“sejak kapan namaku berubah jadi Sisi?” tanya Bela garang menoleh pada Rasya.
Rasya gelagapan kenapa jadi Bela yang duduk di sebelahnya, bukankah tadi dia mengipas ikan dengan Sisi.

Deru tawa Nisya dan Sisi, menyadari Rasya dari kebingungan. 

“nyan, makanya Abang Rasya jangan melamun sampai ngak sadar siapa di samping” celetuk Nisya.

“Ibu....”  jerit Bela saat rasya mengipas asap kearahnya.

Anak-anak ini...

“sudah-sudah kerjakan tugas kalian dengan baik, jangan bercanda lagi nanti kalian kena tegur Pak Harlan lagi ibu ngak mau bantu loh” lerai Nisya.

Sontak mereka kembali bekerja membakar beberapa ikan yang belum matang.

“Ibu.. Sisi sebel dengan Rasya” gerutu Sisi yang berdiri disamping Nisya.

“kenapa?’’ Nisya mencoba tersenyum.

“Lihat tuh, Rasya selalu mempermalukan Sisi padahal Sisi selalu bilang ngak mau dekat-dekat dengannya tapi tetap aja SKSD sama Sisi” tuturnya kesal.

“emang SKSD itu apa?” tanya Nisya menyembunyikan kegeliannya.

“Sok Kenal Sok Dekat bu”

“Loh, bukannya Sisi dan Rasya sudah kenal sejak dari TK?” 

“iya sih bu, tapi Sisi ngak mau di kira PHP nantinya?”

“Nah, apa lagi tuh PHP?”

“Duh.. Ibu ngak update banget deh, PHP itu Pemberi Harapan Palsu” 

Tawa Nisya akhirnya meledak juga, 

“Tuh kan Ibu malah ngetawain? Sisi kan ngak mau pacaran dulu sebelum menikah” 

Subhanallah, Nisya tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada gadis kecil di sampingnya ini. Sisi gadis yang sejak kecil di asuh tanpa kasih sayang kedua orang tua, namun terkadang memiliki pemikiran positif yang dewasa melebihi umurnya. Agaknya neneknya telah mendidiknya untuk menjaga diri dan iman sejak kecil. Penampilannya saja berbeda dengan rata-rata gadis seusianya yang biasanya sedang senang-senangnya bereksperimen dengan fesyen-fesyen aca kadul menurut Nisya. Sisi mengunakan Pakaian Longgar dan jilbab yang menutup dada. Gadis kecil ini malah baru saja meraih juara Umum Lomba Tilawah Al-Qur’an Tingkat Kabupaten dan akan mengikuti MTQ Provinsi beberapa bulan lagi di Banda. 

Nisya sangat bersyukur saat ini ALLAH memberinya kesempatan untuk berdiri disini diantara anak-anak luar biasa, belajar dan mengajar bersama mereka. Tidak di pungkiri kadang adakala Nisya belajar dari mereka bagaimana menyikapi masalah perasaan. Karena saat dia berada di Tsanawiyah dulu ia didik untuk selalu menjaga jarak dengan lelaki yang bukan Mahram segitu pula sebaliknya jadi tidak pernah ada kejadian seperti Rasya dan Sisi. Tapi lihatlah Sisi bagaimana ia yang sejak dini telah pandai mengawal perasaannya pada lelaki yang bukan mahramnya.  

Teringat pertemuan Nisya dengan Nenek Katijah wanita paruh baya yang merawat Sisi sejak orang tuanya meninggal saat Nisya menyaksikan Sisi di Musabaqah Tilawatil Qur’an di Pendopo Bupati. Betapa raut kebahagiaany dan kebanggaan jelas terukir di wajah senja itu melihat cucu kesayangannya yang di elu-elukan oleh seluruh dewan juri dan penonton.
“Ibu Nisya, aku yakin saat ini suami, anak dan menantuku sedang tersenyum disana melihat cucu dan putri kecil mereka  Sisi Khumaira, aku bahagia disisa umurku bisa melihatnya melantunkan Ayat Al-Qur’an dengan Merdu dan mengetarkan hati, doaku selalu pada ALLAH jika nanti aku harus menghadap-NYA cucuku bisa di asuh oleh orang yang bisa mendidiknya untuk selalu mencintai AL-Qur’an, aku tidak punya apa-apa yang bisa kuwariskan padanya selain mengajarkannya mencintai Al-Qur’an sejak kecil” tutur nenek Katijah dengan berlinangan air mata.

Nisya mengengam tanah rapuh sang nenek dengan senyum namun tak mampu menyembunyikan tangis harunya. “InsyaALLAH kelak Sisi akan jadi salah satu Hafidzah Nek, dan itu semua berkat Nenek yang selalu mengajarinya mengaji sejak kecil” Nisya memeluk wanita paruh baya itu dengan penuh keharuan. 

“ALLAH berkahinya umur nenek Katijah” doanya dalam hati.

"Ibu, ayo kita makan siang bersama ikan bakarnya sudah siap di nikmati"  Panggil Rasya membuyarkan lamunan Nisya.

Nisya menngangguk dan segera menghampiri murid-muridnya yang sudah bergabung dengan guru-guru yang lain.

To Be Continue....
-------
Catatan Penulis :
Teurimong geunaseh kepada sahabat-sahabat yang masih setia membaca kisah ini...
Maaf maaf dan maaf jika kelanjutannya selalu tak punya jadwal pasti kapan di posting.. :))

Bab ini juga Afri dedikasikan untuk Ummi dan Mba-Mbaku tersayang di ODOJ 805,^^
Jazakumullah Ummi, Kakak, dan Mba.. Mba ku tersayang yang selalu memotivasi diri yang berlumur dosa ini untuk semakin mencintai Al-Quran. Semua kelak kita semua di pertemukan di Jannah-NYA... Aamiin...


Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19