Love With Your heart,not yours eyes Bab 25




[Nisya...]

“Jalan hidup takkan pernah lurus
Pasti ada salah lewati segalanya..
Tapi TUHAN tak pernah berhenti
Membuka jendela untuk kita” (Edcoustic-Jalan Masih Panjang)

Aku tersenyum menoleh ke luar jendela mobil, memandang lautan biru yang mengalir sepanjang lintasan calang menuju Banda. Senandung edcoustic masih setia menemani para penumpang minibus L300. Perjalanan ini terasa menyenangkan apalagi saat masa libur sekolah seperti saat ini.

“Bustami, lagu apa sih itu lirihnya sangat cocok sebagai instropeksi diri”tanya seorang bapak yang duduk di samping supir, sementara aku dapat mendengar dengan jelas percakapan keduanya karena aku duduk di jok belakang supir
“kalau ngak salah itu lagunya edcoustic, itu nasyid pak” ujar Supir tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“ed...kustik..?” bapak paruh baya itu nampak sukar mengeja.
“edcoustic Pak, kalau bapak ingin tahu lebih jelas tentang nasyid ini bapak bisa langsung tanya pada yang memberikan VCD ini padaku”
“lhaa.. kamu ini bagaimana sih Bus aku nanya padamu, tapi kamu mau menyuruhku bertanya pada orang yang tak ada disini” gerutu bapak paruh baya
“orangnya ada disini kok pak? Itu Cekgu Nisya”

Aku tersenyum, Bang Bustami masih saja memanggilku dengan panggilan Cekgu, dengan logat bahasa negeri jiran.
“oh.. “gumam bapak itu sembari menoleh kebelakang, tersenyum ramah padaku.
“ibu ini yang mengajar di SMP 2 kan?” tanyanya.
“Iya Pak?” aku mencoba mengingat siapa bapak ini, apakah beliau salah satu dari orang tua muridku.
“saya Iskandar, Orang tua dari Rasya Iskandar”
“owh.. iya pak, Rasya Murid saya”

Lalu obrolanpun berlanjut dengan Rasya, pak Iskandar sempat juga mengeluh padaku tentang sikap Rasya yang kadang suka kebut-kebutan motor. Aku hanya diam saja karena aku tak tahu juga  Rasya memiliki hobi ngebut motor, setahuku Rasya anak yang baik, penurut dan sedikit jail. Hehee...

Hapeku bergetar sebuah pesan Whatsaap masuk dari nomor Dhea.
“kk dmn? Udh brgkt?”
Segera kureplay
“sdh di jln dek, InsyaALLAH sblm magrib udh di Banda”
...
“syukurlah.. kalo kk bnr2 ngak dtg aku ngak yakin rapat bsok bisa berjln dg baik.. kk turun dmn? Biar nanti Dhea jemput” balasnya
....
Aku tersenyum “tak perlu di jemput, nanti kk nginap di kost Mila”
...
“eehmm.. Okelah, tp bsok pagi biar Dhea yg jemput ya kita brgkat bareng ke kantor”
.....
“Oke.. adek loen” #emoticon penuh cinta
...
#emoticon nyegir “oya, bbrp naskah sudah Dhea kirim ke email kk, nanti coba di cek ya kak..”
....
Aku menyegik “lho, jd juga Dhea kirim? Kan kk sdh blg ngak apa2 bsok biar sekalian kk periksa di kantor”
....
“udh ngak apa2 kan, pokoknya sblm rapat bsok kk sudah baca bbrp naskah ya, pliss.. Dhea ngak mau kena Tausiyah dr Direktur cool itu” #emoticon kedip mata sebelah+ketawa
....
“ya sudah, kalian berdua sama saja suka memberi Tausiyah gratis” gurauku.
.....
“yeee... secara kami sepupu sekutu yg kompak namun kdg dianya yg ngeselin”
...
“iya..iya... Ibu Pimred, yg sudah nanti sesampai di banda kita sambung lg ya Tausiyahnya, kk ngantuk neh mau melelepkan mata sejenak”
...
“sipp.. Oke deh, Ibu Editor”
..
Aku mencoba melelapkan mata disisa perjalanan menuju Banda, sepertinya seminggu kedepan aku bakalan sibuk di kantor penerbitan Mitra.
___

Nazril..
Mata hari sudah tengelam ketika aku sampai di flat, setelah seharian mengurus berkas-berkas penelitian tesisku.

Sesampai di flat azan magrib berkumandang, setelah membersihkan diri aku menunaikan kewajibanku pada Sang Pencipta. Di akhir salam ku tandahkan tangan memohon kebaikan dan kebahagian dunia akhirat bagiku dan orang-orang yang kucintai dan ku sempatkan untuk mengaji.

Dua tahun telah berlalu banyak yang telah berubah dalam hidupku, dan itu semua sangat kusadari.. sejak menginjakkan kaki di negeri jiran ini, aku semakin merasa dekat dengan-NYA, bahkan aku tak pernah enggan untuk bergabung di organisasi keislaman bersama beberapa mahasiswa SI sesama dari Indonesia. Suatu perubahan yang tak pernah terfikirkan olehku sebelumnya, saat kuliah SI dulu aku malah lebih senang bergabung Mahasiswa pencinta Alam(MAPALA) dari pada ikut organisasi KAMMI atau organisasi lainnya yang sarat dengan dakwah. 

Nilah Hidayah dan Hikmah yang diberikan ALLAH padaku, hidupku kini terasa begitu ringan dan nyaman. 

Drrrtt..drrtt...

Smartphoneku berdering, dari nadanya aku tahu ada email masuk.
Setelah menutup Al-Qur’an, aku mengambil Smartphone yang kuletakkan di atas tempat tidur.

Email dari Dhea.
“lapor pak Direktur, Kak Nisya sudah berada di Banda.. besok pagi rapat bisa di lakukan”
....
“Iya...” balasku.
....
What? Cuma balas ‘Iya...’ saja.. ckckck.. td pagi aja marah2 “
.....
“iya..iya... bulan depan tiket PP Banda Aceh_Malaysia kupastikan berada di tanganmu, tp dg syarat jgn mengabari siapapun termasuk Randi”
.....
“Alhamdulillah... jd juga liburan ke Malaysia”
.....
Dhea tak pernah berubah untuk hal satu ini. Liburan gratis ya.. sejak setahun lalu dia gencar membujukku untuk memberikan paket liburan gratis ke Malaysia sebagai rewad loyaritas atas pekerjaannya sebagai pengantiku sementara di Mitra. Dan kali ini mau tak mau aku memenuhi permintaannya itu sekalian memberikan dia kejutan akan sidang tesisku sebulan lagi.
....
AUTHOR
Lantunan azan subuh memecah kesunyian kota Banda, rintik-rintik hujan yang turun membuat sebagian insan masih enggan beranjak dari selimut nyamannya. Namun tidak demikian dengan Nisya, sejak pukul empat pagi dia telah bangun menanti subuh dengan tilawah kemudian melanjutkan dengan shalat subuh, dan membaca email yang di kirim Dhea kemaren.
“Rajinnya ibu guru merangkap editor ini, pagi-pagi sudah berkutat di depan laptop” tegur Mila. 
Sahabat Nisya satu ini memang masih menetap di Banda untuk menyelesaikan S2, namun kini ia memilih pindah kost setelah Nisya dan kak Nurma menyelesaikan kuliahnya dua tahun yang lalu. Alasannya ia takkan sanggup menahan rindu pada sahabat-sahabatnya karena terlalu banyak kenangan mereka di rumah kost dulu. 
“Sya, Ya ALLAH nih Cekgu di panggil dari tadi ngak dengar apa?” Mila mendekati Nisya. “lagi baca apaan sih, serius sekali nampaknya?”
Nisya tersenyum menoleh kearah Mila sejenak, “ ini beberapa Naskah yang telah diseleksi untuk lomba menulis even Mitra”.
“Heeem... ada cerita menarik ngak?”
“ada ini beberapa yang menurut referensi Dhea menarik, tapi aku belum baca semua naskahnya kebanyakan pesertanya anak kuliahan”.
“emang temannya apaan Sya, koq aku ngak tahu?”
“temanya ‘Mengapai Hidayah dengan Al-Qur’an’ deadlinenya masih dua hari lagi dan sampai saat ini naskah yang sudah masuk ada seratus lebih pesertanya tersebar dari seluruh Aceh dan ada beberapa dari Medan”
“heem.. sayang ya, aku ngak bisa nulis cerita kalau tidak pasti kerjaanmu takkan serepot sekarang”
“maksudmu?”
“iya, secara kalau aku ikutan even ini kalian kan takkan perlu susah-susah menentukan pemenangnnya?” Jawab Mila dengan penuh keyakinan.
Nisya menautkan alisnya penuh tanda tanya.
“Ya ALLAH, Ibu Nisya masih belum ngerti?”
Nisya menggeleng.
“Duh.. udah jelaslah Sya, kalau aku ikutan sudah pasti aku pemenangnya” Mila tersenyum puas.
Namun tawa Nisya meledak seketika, “Mila..Mila... aku kira apaan, ada-ada saja kamu”.
Mila hanya nyegir.
Percakapan mereka terhenti saat ada yang mengetuk pintu, Mila segera membuka pintu.
“Assalamu’alaikum Kak Mila” sapa Dhea.
“Wa’alaikum salam Cut Adek Dhea” jawab Mila Ramah.
Di lanjutkan dengan cipika-cipiki ala akhwat.
“Kak Nisya ada kak?”
“Nyan Ban, munyo na Nisya ban beugoh ka trok Cut Adek nyo”(1) 
“hehee.. maaf Cut Kak Mila, lawet nyo lee buet bacut di kanto ngon kuliah lom, jadi ka jareung jak saweuh Cuk Kak disino” (2)
“betoi keuh?” (3)
“ betoi hay Cuk Kak Meutuah, jadi loen hana geu yue tamong u dalam nyo?”(4)
“hehee.. uppss... ka tuwo, beuh tamong keno lah”(5)
Nisya keluar dari kamar sudah siap dengan tas samping yang berisi notebooknya,Dhea langsung menyalami dan memeluk Nisya.
“Mil, ikut kami ke kantor aja yuk? Ngak kuliah kan hari ini?” ajak Nisya. 
“ngak usah Sya, ntar aku malah ngerecokin kerjaan kalian lagi”
“iya kak, ikut aja ngak apa-apa kok, malah kalau ada kak Mila ntar pasti tambah seru dan rame” timpal Dhea.
“ngak apa-apa kakak di rumah aja Dhea, ada beberapa tugas yang harus kakak selesaikan”
“Oke deh, kalau begitu Dhea pinjam kak Nisya dulu ya”
“Jiaah.. kok pinjam memangnya daku barang apa” sewot Nisya.
“hehee... “

-----
Rapat dengan seluruh panitia Even Lomba Menulis ‘Mengapai Hidayah dengan Al-Qur’an” dan beberapa direksi Mitra yang di pimpin Dhea berjalan lancar. Panitia juga telah menyeleksi mereka juga telah menyeleksi naskah-naskah yang telah masuk, selanjutnya tinggal menunggu deadline dua hari lagi dan Nisya baru mulai bekerja menyeleksi naskah-naskah yang lolos ke tahap selanjutnya.
Beberapa karyawan telah meninggalkan ruang rapat, hanya tinggal Nisya, Dhea dan Lisma.
“Nisya, Dhea, makan siang dulu yuk” ajak Kak Lisma kepala bagian promosi, sejak Dhea mengambil alih tanggung jawab Nazril di Mitra, mereka telah merekrut beberapa tenaga kerja wanita tentunya dengan seleksi yang ketat. Dan Kak Lisma adalah salah satu wanita yang kompeten di bidangnya, ibu dua anak ini sangata cekatan mengerjakan tugas kantor penerbitan yang semakin banyak setiap harinnya.
“Oke, kita makan siang dimana kak?” kata Dhea.
“bagaimana jika menunya Ayam penyet?”
“waah.. pas sekali itu kak, apalagi di tambah lemon tea” Dhea tampak antusias
Nisya hanya tersenyum menggeleng-geleng kepala,
“jadi kita berangkat sekarang aja yuk kak” ajak Dhea.
“Tak perlu Dee, seseorang telah mentraktir kita di kantin  bawah”
“siapa kak?” tanya Dhea dan Nisya berbarengan.
“udah, sekarang kita ke bawah aja ntar juga tahu sendiri”
Akhirnya mereka turun ke lantai bawah dimana kantin berada, benar saja begitu sampai di kantin beberpa karyawan tengah menikmati makan siangnya dengan menu Ayam Penyet, padahal setahu mereka kantin kantor tidak menyediakan menu itu.
“apa ada yang ulang tahun hari ini ya Dee?’ tanya Nisya.
“Dhea, juga tidak tahu kak” jawab Dhea.
“sudah yang penting sekarang kita makan aja dulu yuk” Lisma menunjuk salah satu meja yang masih kosong.
Mak Siah wanita paruh baya yang selama ini berjualan di kantin, menghidangkan tiga piring nasi dan ayam penyet di atas meja.
“terima kasih Mak Siah” kata Nisya.
“sama-sama bu Nisya, kapan sampai?” tanya wanita paruh baya itu ramah.
Dhea dan Lisma hanya tersenyum dan mulai menikmati makan siangnya.
“Kemarin sore Mak, Mak dan keluarga apa kabar?”
“Alhamdulillah sehat bu, Cuma bapak sedang sakit di rumah sudah beberpa hari tidak ikut jaga malam lagi dan di ganti oleh Midun”.
“Innalillah... sudah di bawa berobat Mak?”
“Sudah bu, Cuma itulah bapak masih kekeuh ingin ikut jaga malam di kantor”.
Nisya tersenyum mengangguk, semua orang di kantor ini sangat hapal bahkan bangga dengan dedikasi suami Mak Siah yang telah puluhan tahun bekerja di kantor ini sebagai petugas keamanan.
“kalau begitu Mak pamit dulu ya bu, mau melayani pelanggan yang lain”
“Iya Mak, sampaikan salam saya untuk Pak Aiyub, semoga segera sembuh”
“terima kasih Bu”.
Nisya mulai menikmati makan siangnya setelah Mak Siah pergi.
“Subhanallah, mantap nih ayam penyet kak” gumam Dhea.
“Alhamdulillah” sambung Nisya. “tapi kak Lisma, sebenarnya siapa yang mentraktir kita semua hari ini?”
“iya kak, Dhea juga mau ngucapin terima kasih nih” ujar Dhea.
Kak Lisma tersenyum “orangnya yang itu tuh” 
Nisya dan Dhea segera menoleh kearah yang di tunjuk Kak Lisma, seorang pria dengan setelan jasnya berjalan menghampiri mereka.
“Randi” ucap Dhea dan Nisya.
“Iya, katanya sih kemarin dia baru saja memenangkan kasus besar dan hari ini mentraktir kita semua” jelas kak Lisma.
“Maaf saya telat” ujar Randi dengan senyum ramahnya yang telah duduk berhadapan dengan Dhea.
Dan Dhea langsung menghentikan kegiatan makannya, ‘hufft... nih orang satu ngak ada kapok-kapoknya apa’ gumamnya dalam hati.
Randi tersenyum pada Dhea dan Nisya, “Apa Kabar Nisya” sapanya..
“Alhamdulillah baik Pak Randi” jawab Nisya.
“Nisya, kan sudah saya bilang berulang kali kalau lagi nyantai seperti ini jangan panggil saya pak, Bang Randi  aja, iya ngak kak Lisma” tutur Randi. Lisma hanya mengangguk setuju.
“Bang..bang.. bang tukang mie ayam kali” sewot Dhea.
Nisya dan kak lisma cekikikan menahan tawa, Dua tahun telah berlau namun hubungan Dhea dan Randi masih tetap saja seperti ala Tom and Jerry.
“Hay Dee, gimana ayam penyetnya sesuai dengan seleramu ngak?” tanya randi.
“biasa aja tuh, masih kalah enak dengan tempat langganan kami iya kan kak” Dhea melirik Nisya dan Lisma.
Nisya dan Lisma hanya memutar bola mata, sementara randi tertawa.
‘hahaa.. oh, rasanya biasa aja tapi di piringmu hanya tinggal tulang-tulang ayamnya saja ya Dee” goda Randi.
Dhea mengengam erat kedua telapak tangannya, menahan amarahnya. Sementara Nisya hanya tersenyum geli pada Lisma.
“eem.. makasih ya Bang Randi sudah mentraktir kita semua hari ini” ucap Nisya.
“sama-sama Nisya”
“kakak juga terima kasih ya Ran, apalagi tadi kata Mak Siah kamu juga menyiapkan dua bungkus lagi untuk kakak bawa pulang” ujar Kak lisma.
“sama-sama kak, salam untuk Dimas dan Dian ya”
“pasti, nanti kakak bilang ini pemberian Om Randi pasti mereka bakalan heboh nanti” ujar kak Lisma penuh senyum.
“kamu ngak ingin mengatakan sesuatu padaku Dee?” tanya Randi pada Dhea.
“Terima kasih!, Kak Dhea pamit ke mushala duluan ya” Dhea segera beranjak dari kursinya tanpa senyum.
Randi hanya tersenyum mengangkat  bahu. Gadis ini memang sulit untuk di taklukan Egonya.
“sepertinya Nisya ketinggalan info terbaru tentang yang satu ini  ya kak?” tanya Nisya pada Lisma.
Lisma tersenyum, “Bisa langsung tanya pada yang bersangkutan Sya” ujarnya melirik Randi.
Randi tersenyum, “Aku sudah melamarnya pada Papanya Sya” 
“kapan? Kenapa Dhea tidak mengatakan padaku?” tanya Nisya Antusias.
“dua minggu yang lalu, Ya begitulah Dhea, sangat sulit di mengerti” kali ini raut wajah Randi nampak gelisah.
“lalu jawabannya bagaimana?”
“Papanya menerima dengan baik, tapi Dhea belum meberikan jawabannya?” Randi menghela nafas “ Sya.. bantuin aku ya?”.
“bantu apa?”
“bujuk Dhea, bilang padanya aku benar-benar serius dengannya”
Nisya menatap Kak Lisma, seolah meminta jawaban. “kakak udah berulang kali bicara dengan Dhea, tapi ya.. kalian lihat sendiri kan”
“lalu aku harus melakukan apa?” Nisya bingung apalagi saat Randi dan Lisma menatapnya penuh harap.
“kamu tahu apa yang harus kamu lakukan Sya” kata Randi penuh harap di ikuti anggukan Lisma.
“Oke... aku coba” ucap Nisya Pasrah.

Keterangan :
(1)         : “Nah, kalau ada Nisya pagi-pagi Cut Adek sudah sampai kesini”
(2)         :”hee... maaf Cut Kak Mila, akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaan      kantor dan kuliah, makanya sudah jarang berkunjung kemari”
(3)         :”benar kah?”
(4)         :”benarlah Cut kak, jadi saya tak diminta masuk nih?”
(5)         :”hehee... Upss.. hampir lupa, marilah masuk kedalam”

Alue-Bilie, 27 April 2014 (11.00)
@afri_azzahra..


Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19