Love With Your heart,not yours eyes Bab 22



Nazril...
“Aril yakin mau berangkat ke Malaysia?” tanya Mama saat aku sedang merapikan beberapa berkas dokumen di kamar.
“Iya Ma, Mama kan tahu sejak dulu Aril ingin segera mengambil gelar Master” ujarku.
“tapi kan ngak harus di Malaysia Ril, Di Aceh atau Indonesia kan masih ada Universitas yang bagus” bujuk Mama.
“Ma...” panggilku lirih, kupandang mata Mama yang sudah berkaca-kaca.
“Anak Mama Cuma satu Ril, kalau Aril pergi Mama akan sendirian Mama’’

Nah kan, apa yang di khawatirkan Dhea terjadi juga ternyata, Mama masih kekeuh berusaha membatalkan rencanaku untuk ke Malaysia.  Ku pegang tangan Mama, “Ma.. Aril hanya akan belajar disana, Aril janji setelah selesai nanti Aril akan kembali lagi kesini”tukasku.
“tapi bagaimana jika selesai kuliah kamu justru menetap disana, bekerja bahkan menikah disana seperti Almahum Pamanmu dulu, bahkan Mama tak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya”
“Ya ALLAH, Mama jangan di ingat lagi...” aku tak bisa berkata-kata lagi jika Mama sudah mengungkit tentang adik Mama yang hanya satu-satunya itu.
“Aril janji sama Mama ya, Aril harus kembali ke sini dan jangan menikah disana siapapun pilihan Aril nanti pertemukan dengan Mama terlebih dahulu ya” isak Mama.
“Iya Ma...” jawabku.
“eheem... Mama disini rupanya, dari tadi Papa panggil-panggil tidak ada sahutan” suara Papa mengejutkan kami. Papa sudah berdiri di depan pintu kamarku dengan menenteng tas kerjanya.
“Mamamu kenapa Ril?” tanya Papa.
Aku mengangkat bahu, “Biasa Pa, Mama tak rela berpisah dengan Putra tertampannya” cegirku.
Yang langsung di hadiahi pukulan di lengan oleh Mama.  “Kamu itu ya, masih bisa ketawa saat Mama gelisah begini”
“Apa yang mesti di takutkan sih Ma, Aril sudah dewasa dia tentu dapat memilih apa yang baik menurutnya” Papa tersenyum meyakinkan Mama.
“tapi tetap saja Pa, Mama takut dia akan menikah disana dan..”
“Ma.....!” tegurku “Ok.. baiklah, Aril janji Aril hanya akan menikah dengan wanita pilihan Mama”
“Kalau begitu Nikahi Nisya” lanjut Mama.
“Ma....!” kali ini suara Papa juga ikut menimpali suaraku.
Aku mengaruk kepala, frustasi. Beginilah Mama akhir-akhir ini akan sangat cepat sensitive perasaannya, tepatnya sejak aku mengutarakan keinginanku untuk kuliah kembali ke Malaysia.
“Ma, Papa pengen Teh hangat buatin lah kita ngeteh di teras belakang yuk” ajak Papa pada Mama.
“Baiklah” Mama segera berjalan mendekati Papa.
Dan aku tersenyum pada Papa “makasih Pa” bisikku namun jelas terdengar oleh Papa dan Mama.
“Ingat Janjimu Aril” ujar Mama.
Aku hanya mengangguk pasrah.
“tenang Aril, nanti Papa juga bakalan ikut menyeleksi calonmu” timpal Papa sebelum menutup pintu kamarku.
Huffttt....!
Mungkin ini hukuman dari ALLAH karena aku telah mengecewakan Mama dengan menolak perjodohan dengan Nisya. Dan sekarang aku harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menerima siapapun calon yang di pilihkan oleh Mama. Biarlah waktu yang menjawab pada akhirnya.
Drrrttt..drrrtttt....
Blackberry yang kuletakkan diatas nakas bergetar menandakan ada pesan masuk,
---
From : Dhea
‘tiket penerbangan ke Malaysia udh di tanganku, jika Bang Nazril Akim menginginkannya maka bang Nazril harus menyetujui persyaratanku terlebih dahulu”
---
Aku mengerutkan kening, apa-apaan Si Dhea ini. Segera ku replay :
---
To : Dhea
‘Terima kasih atas tawarannya Bu Ustazah, tapi sorry aku sudah duluan pesan tiket via Randi. So, no persyaratan’ #emoticon nyegir
---
From : Dhea
‘owh! Jadi Bapak pengacara itu belum mengabari bang Nazril ya? Ckckck.. kasian sekali kalo begitu mungkin sebentar lagi tiket ini bakar berakhir di tong sampah menjadi  kertas-kertas kecil”
---
Apa-apaan ini? Kenapa Dhea berbicara seperti itu segera ku hubungi Randi.
“Assalamu’alaikum Ran, gimana udah dapat tiketnya?” tanyaku setelah panggilan terjawab.
“Wa..alaikum salam, sudah Ril tiketnya sudah kutitipkan pada Dhea”
“Apa?!”
“Santai Bro, aku harus berangkat ke Medan kebetulan tadi bertemu Dhea di Kantor ya sekalian aku berikan padanya”
“Randi, kamu kan bisa menitip kepada Sayed atau siapapun di kantor asal bukan Dhea” gerutuku.
“Ok! Tak perlu di permasalahkan lagi Ril, Dhea itu sepupumu kan? Sebentar lagi tiketnya pasti berada di tanganmu ya sudah obrolannya kita lanjutkan nanti saja pesawat yang ku tumpangi mau berangkat ini”
Tiit..tiit...
Randi langsung mematikan sambungan teleponnya.
ALLAHU AKBAR.. Dhea mau apa lagi sekarang, tak habis-habisnya dia mengerecoki kehidupanku. Jangan-jangan dia telah berkonspirasi dengan Mama untuk mengagalkan keberangkatanku ke Malaysia.
Ok! Nazril Akim, sekarang tenangkan pikiranmu dan tanyakan maksud Ustadzah yang menyerupai sepupu resekmu itu.
---
To : Dhea
‘Dee.. kamu dmn skrg?’
---
Pesan langsung sending ke nomor Dhea.
Selang beberapa detik, dia membalas :
---
From : Dhea
‘Ada apa?’
---
Ckck... tuh kan, reseknya mulai kumat. Kuputuskan untuk menelponnya langsung.
“Assalamu’alaikum Pak Nazril Akim..” sapanya yang ku yakini pasti diiringi dengan senyum mengejek ala Dhea.
“Wa’alaikum Salam, Dee aku mau Tiket yang dititipi Randi”
“oww.. itu, eemm...”
“Dee... please jangan bercanda aku butuh tiket itu lusa”
“Oke..Oke.. tiket itu masih di tanganku tapi sebelum aku memberikannya penawaran tadi masih berlaku ya”.
“mau mu apa sih Dee?”
“aku Cuma mau bang Nazril besok ikut denganku”
“kemana?”
“jalan-jalan”
“Apa? Jalan-jalan yang benar saja Dee lusa aku sudah harus berangkat dan masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan besok”.
“eee.. jangan bohong Pak Nazril, Aku sudah menemui Pak Sayed tadi, dan semua pekerjaanmu sudah beres sejak kemarin tidak ada penolakan jika masih menginginkan tiket itu dan tunggu informasi dariku besok pagi Assalamu’alaikum..”
Tut..tut....
Lagi, setelah Randi kali ini Dhea juga memutuskan sambungan secara sepihak. Aarrgghhh.... Musibah apa lagi besok bersama Dhea.
 
****
Author..
Langit Banda nampak sangat cerah. Terlihat indah memang, warna biru dihiasi awan-awan tipis yang bersih. Suasana di Taman Putroe Phang yang ramai di kunjungi pengunjung tak menyurutkan semangat dan senyum Nisya manakala bisa membawa Siti jalan-jalan yang bermain disana.
Hari ini memang mereka habiskan untuk berkeliling tempat wisata di Banda Aceh, mengingat beberapa hari lagi mereka akan kembali ke kampung.
“Sya, tolong potoin aku dan siti di jembatan gantung ya” ujar Mila di ikuti anggukan Siti.
“oke” Nisya segera mengambil kamera dari Mila dan mengambil beberapa pose mereka.
Saat Mila menyarankan mereka mengunjungi Taman Putroe Phang tadi, Nisya memang sudah bisa menebak tujuan utamanya adalah berfoto disini. Karena Siti yang sangat antusias akhirnya Nisya mengikuti keinginannya setelah sebelumnya mereka mengunjungi Mesium Tsunami bersama Bunda dan Kak Inong, namun sekarang Bunda dan kak Inong sudah kembali kost.
“Kak Mila, Siti mau poto bareng Kak Sya juga” ujar Siti.
Nisya mengangguk dan segera berdiri di samping Siti.
Usai foto-foto mereka membeli jajanan dan memakannya di bangku taman, sesekali di isi dengan tawa dan celotehan Siti.
“Siti liat sini satu dua tiga...” Mila mengambil foto Siti dan Nisya yang sedang menikmati kembang gula.
“jangan di upload di media sosial ya Mil” ingat Nisya.
“Ok! Tenang saja. Aku hanya akan mengoupload poto Siti, abisnya Siti ngemesin sih” ujar Mila sembari mencubit sayang pipi Siti.
Nisya hanya mengeleng-geleng kepala.
“Sya, bukannya itu Dhea dan Nazril” ucap Mila yang sontak membuat Nisya menoleh pada dua sosok yang sedang berjalan mendekati mereka.
 
****
Nazril...
Hari yang benar-benar melelahkan plus membosankan, huft.. kalau bukan karena tiket penerbangan ke Malaysia yang masih di pegang Dhea aku takkan sudi menemaninya hari ini. Bayangkan saja saudara-saudara.. pagi tepat jam tujuh Dhea menghubungiku dan memintaku menjemputnya kemudian menuju Pasar Aceh setelah itu menjemput Mama untuk mengunjungi Panti Asuhan. Dua wanita yang dekat denganku ini memang tahu kelemahanku. Mau tak mau aku menemani hingga siang hari di panti asuhan.
Dan, yang lebih mengesalkan lagi, usai mengantar Mama pulang Dhea malah mengajak ku mengunjungi Taman Putroe Phang. Katanya sebagai kenang-kenangan sebelum aku berangkat ke Malaysia.
Dan disinilah kami sekarang di Taman Putroe Phang atau yang lebih dikenal dengan Taman Sari, bangunan yang di bangun Oleh Sultan Iskandar Muda untuk istrinya Putri Pahang yang bersal dari Pahang Malaysia. Bangunan yang juga menjadi saksi reka jejak sejarah kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Musa di Aceh.
“Bang Aril, aku pengen kembang gula itu yuk kesana” ujar Dhea yang langsung kuhadiahi perototan.  Dia itu bukan anak yang berusia enam tahun tapi kenapa tingkahnya hari ini persis anak-anak sekolah Dasar ckck.. dengan enggan akupun mengikutinya. Harap-harap tiada siapa yang mengenaliku, kalau tidak bisa jatuh wibawa Muhammmad Nazril Akim hari ini.
“eeh.. Bang Aril, bukankah itu Kak Mila dan Kak Nisya” kata Dhea.
Aku melihat ke depan pada bangku yang di duduki oleh dua orang gadis dan seorang anak kecil.
 
“ayo kesan, kebetulan sekali ya “
“Dee.. aku disini saja ya?”
“lho bang, setidaknya setidaknya bang Nazril harus bicara dengan kak Nisya”
“tak ada yang harus kami bicarakan Dhea, bukankah semuanya sudah jelas” tekanku.
“Oke! Kalo begitu Dhea kesana dulu ya” Dhea segera berjalan beberapa langkah di depanku dan aku sendiri baru menyadari bahwa langkahku sudah semakin dekat dengan mereka.
‘Dheeeeaaaa....!.’ geramku dalam hati. Ku tahan amarahku melihat dua gadis yang duduk di sana menoleh kepadaku.
Sementara Dhea sudah sibuk cipika-cipiki dengan Mila dan Nisya aku hanya dia membatu.
“Apa kabar bang Nazril?” sapa Mila.
“Alhamdulillah baik” jawabku.
“eh.. ini pasti Siti kan?” kata Dhea pada gadis kecil.
Gadis kecil itu mengangguk.
“adek mau es krim ngak?”
“mau kak, tapi kami mau pulang iya kan kak Nisya” gadis kecil itu menoleh pada Nisya.
Nisya tersenyum mengangguk.
“tak apa, sebentar saja yuk Kak Dhea yang belikan” Dhea sudah memegang tangan gadis kecil itu.
Dhea langsung membawa gadis kecil itu pergi, meninggalkan aku, Nisya dan Mila.
“Apa kabar Nisya?” tanyaku sembari duduk di kursi yang agak jauh dari tempat duduk mereka namun suaraku masih bisa di dengar oleh mereka.
“Alhamdulillah baik” jawabnya singkat dan kini ia telah menunduk.
“selamat ya atas wisudanya kemarin”
“terima kasih”
Ckck.. kenapa suasana jadi canggung seperti ini.
“oya Nisya, apakah kamu merasa kehilangan Mushaf Al-Qur’an sekitar dua bulan yang lalu?” tanyaku.
“Mushaf?”. Dia menoleh sejenak padaku.
Aku mengangguk, nah lho kenapa aku  jadi gugup gini.
“Apa Mushafnya berwarna hijau?”
“iya, aku menemukannya di tangan Masjid Raya sebenarnya aku sudah ingin mengembalikannya tapi saat ini aku lupa membawanya karena tidak menyangka akan bertemu denganmu disini, tapi nanti akan aku titipkan pada Dhea saja ya” haaa... catat ini kalimat terpanjang pertama yang kukatakan pada Nisya setelah dua belas tahun kami tak bertemu.
“tidak apa-apa, di simpan saja aku sudah mengihklaskannya sejak kehilanganya” suaranya terdengar tenang dan datar.
“apa kamu tidak keberatan jika aku mengunakannya? Terus terang selama ini aku sering mengaji dengan mushaf itu dan aku berencana membeli yang sama persis setelah aku kembalikan padamu”
“tidak apa-apa tak perlu di kembalikan lagi”
“Terima kasih Nisya”
“sama-sama”
“oya, besok aku akan berangkat ke Malaysia mohon doanya ya” aku tak tahu kenapa aku mengatakan ini.
Namun espresi Nisya benar-benar mengejutkanku di tersenyum padaku dan berkata “InsyaALLAH, selamat belajar di negeri jiran ya”.
“wah, selamat ya Bang Aril bisa belajar Kat universiti Malaysia “ Ujar Mila dengan logat Merayu yang membuat kami semua tertawa.
Dan lagi.. aku melihatnya tersenyum, teess... ada rasa hangat menyelusup dalam hati, ‘Astaghfirullah istikfar Nazril’.
Selanjutnya obrolan kami semakin hidup dengan komentar Mila, Nisya hanya menimpali sesekali.  Obrolan kami terhenti saat Dhea dan Siti kembali dan mereka segera berpamitan untuk pulang. Sebelum pergi Nisya berkata padaku yang juga di dengar oleh Dhea, Mila bahkan Siti.
“semoga kita bisa sama-sama belajar untuk lebih memperbaiki diri setelah apa yang terjadi.. dan lebih mendekatkan diri kepada ALLAH, biarlah ALLAH yang mengatur segalanya seperti yang di firmankannya dalam surat An-Nur ayat 26”
Kata-kata Nisya terus tergiang di ingatanku, sesampainya di rumah aku segera membuka mushaf hijaunya dan menemukan jawabannya disana..
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Subhanallah..
Ya ALLAH.. siapapun Jodohku kelak, ku yakin dialah yang terbaik untukku dari-MU..

Alue-Bilie, (17.37) WIB
@afri_azzahra..

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19