Love With Your heart,not yours eyes Bab 23
[ALL ABOUT NAZRIL AKIM]
Pesawat mulai mengudara,
setelah lepas landas dari Bandara Sultan Iskandar Muda. Ku pandang kumpulan
awan-awan putih yang menghiasi langit dari jendela pesawat. Akhirnya hari ini
tiba juga, memang tidak banyak yang tahu jika sejak dulu aku memiliki harapan
untuk bisa belajar di luar negeri. Dua tahun yang lalu saat aku menyelesaikan
S1 di Unsiyah bersama Cut Diana kami memang sudah memiliki cita-cita untuk bisa
melanjutkan kuliah di negeri sakura.
Tapi karena saat itu aku masih menjabat sebagai
pimpinan Mitra Percetakan, Papa memintaku untuk lebih fokus mengelola
Perusahaan Almahum Nek Yah itu. Dan pada akhirnya Diana berangkat sendiri
menempuh pendidikan di Jepang. Kini tiada alasan bagi Papa untuk menolak
menginginanku belajar di luar negeri. Awalnya aku berniat ke Jepang tapi
mengingat harapan dengan Diana yang telah pupus di tengah jalan aku harus bisa
mengubur semua harapan itu. Maka pilihan terakhir adalah Malaysia.
“Kalau menurutku Malaysia
itu masih terlalu dekat Bro, kenapa ngak sekalian ke Amerika atau Turki
sekalian” Kata Randi saat kuutarakan keinginanku beberapa minggu yang lalu.
Dan aku hanya bisa
tersenyum menanggapinya, biarlah dia berspekulasi dengan argumennya sendiri.
Setidaknya saat ini hatiku jauh lebih tenang untuk memulai langkah baru di
tanah jiran yang Insya ALLAH beberapa jam lagi akan kutapaki.
Kucoba untuk memejamkan
mata sejenak memasang handseat ipad di telinga.
Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Jika aku (jika aku) bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
(jika aku bukan jalanmu)
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Jika aku (jika aku) bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
(jika aku bukan jalanmu)
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
(Afgan-Jodoh Pasti Bertemu)
Aku menyegik, kenapa lagu di ipadku berubah menjadi lagu Melow seperti ini. Kuperiksa dengan seksama Ipadku sepertinya ada yang salah disini, segera kubuka Memory cardnya dan benar ini bukan memory card milikku, lalu milik siapa? ALLAHU AKBAR! Tidak salah lagi ini pasti kerjaan sepupu teresek si Dhea. Beberapa hari yang lalu dia memang sempat meminjam ipadku.
Seorang Pramugari tersenyum ramah menawarkan
kopi padaku, aku menolaknya biarlah sisa perjalanan ini aku nikmati dengan
tidur sejenak mengingat beberapa hari belakangan ini aku terus lembur di kantor
dengan jam tidur yang tak lebih dari tiga jam.
Ku pejamkan mata perlahan, mencoba terlelap.
Alam wajah sadarku melukisnya wajah teduh Nisya yang tersenyum padaku. Senyum
yang sama seperti saat kami bertemu di Taman Putroe Phang.
Senyuman itu mengapa
membuat hatiku bergetar?
“semoga kita bisa sama-sama belajar untuk
lebih memperbaiki diri setelah apa yang terjadi.. dan lebih mendekatkan diri
kepada ALLAH, biarlah ALLAH yang mengatur segalanya seperti yang di
firmankannya dalam surat An-Nur ayat 26”
Kalimat itu kembali tergiang-giang
di telinggaku.
ALLAH ada apa dengan perasaanku?
Telah ratusan mil aku meninggalkan bumi Aceh tapi kenapa bayangan gadis itu
masih enggan leyap dari pikiranku.
“Astaghfirullah....” aku tersentak
terjaga.
Ya ALLAH peliharalah Cinta dan Imanku hanya
pada-MU hingga saat engkau pilihkan bidadari terbaik bagiku untuk mengarungi
lautan kehidupan ini.
Ku ambil Mushaf Al-Qur-an hijau dari
dalam tas ransel. Membuka lembarannya dan mulai mengumandangkan ayat-ayat
Cinta-Nya.
“Karena hanya dengan mengingat ALLAH
hati menjadi tenang” aku tersenyum, itu pesan Mama sebelum berangkat tadi.

Comments
Post a Comment