Love With Your heart,not yours eyes Bab 21
Nisya...
Hari ini tiba juga akhirnya, rasa haru dan bahagia menjadi satu saat aku berdiri diantara ratusan mahasiswa lainnya dengan mengenakan baju toga dan mendapatkan Gelar Sarjanaku.
Dan detik-detik yang kunantikan itu akhirnya tiba juga, manakala namaku di panggil untuk menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik fakultas Bahasa dan Sastra.
Usai Bapak Rektor menyerahkan Piagam penghargaan, aku di minta untuk menyampaikan sepatah kata di podium..
Dengan penuh haru aku menuju podium..
“Bissmillahirahmanirahim.. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Alhamdulillah.. puji syukur hanya untuk-NYA, terima Kasihku padamu Ya ALLAH atas segala Nikmat-Mu..
Ucapan Terima kasih untuk Bapak Rektor, Para Dosen dan Bu Eliza selaku Dosen pembimbingku yang tak pernah lelah merevisi skripsiku” Berhenti sejenak, Aku tersenyum pada Bu Eliza yang duduk diantara para Dosen.
“Dan Penghargaan ini aku persembahkan untuk Sosok wanita yang begitu berjasa dalam hidupku, wanita sederhana yang rela bekerja keras di kilang padi untuk menyekolahkanku hingga bisa berdiri disini hari ini... Terima kasih untukmu Bundaku Sayang.. Bunda terbaik yang kumiliki.. Bunda hari ini Sya penuhi janji Sya.. Sya bisa seperti Ayah Bunda... Nisya takkan mungkin bisa seperti ini jika tanpa dukungan dan bimbingan Bunda, makasih ya Bunda, Nisya sayang Bunda karena ALLAH” ujarku terisak. Bulir-bulir air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah juga tatapanku tertuju pada Bunda.
Terima Kasih, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Riuh suara tepuk tangan mengiringi langkahku turun dari podium..
Turun dari panggung, aku langsung menghampiri bunda yang duduk bersebelahan dengan Kak Inong yang memangku Siti, Kak Nurma dan Mila.
“Alhamdulillah.. selamat ya Nak, Bunda bangga padamu” ucap Bunda serayan memelukku. Aku menangis dalam pelukan Bunda.
‘Terima Kasih Ya ALLAH, telah ENGKAU hadirkan Bunda yang luar biasa untukku, Dan andai Ayah ada disini tentu kebahagiaan ini terasa lebih lengkap, Ayah.. Sya hari ini wisuda InsyaALLAH setelah ini Sya akan menjadi guru seperti Ayah dulu.. ‘
‘Eheem... kapan kita bisa foto-foto nih? Padahal aku sudah bawa kamera khusus lho hari ini” ujar Mila.
Bunda melerai pelukanku, “iya nih.. lihat tampilanmu Sya, bagaimana bisa di foto jika wajahmu penuh dengan air mata” Bunda menghapus air mata di pipiku.
“Kak Nisya payah, gitu aja Nangis. Siti kemaren tuh jatuh dari sepeda aja ngak nangis” Celetuk Siti yang langsung di sambut tawa kami semua.
“hahaa.. biasa Siti, Kak Nisya agak lebay dikit” imbuh Mila, yang langsung ku hadiahi dengan pelototan mata.
“Sudah..sudah..! ini mesti cepat di lerai Kak Inong kalau tidak Mila bisa merekrut Siti menjadi anggota genknya yang baru” ujar Kak Nurma.
“kalian ini,” Bunda hanya menggeleng-geleng kepala.
Kemudian kami berfoto bersama. Usai sesi foto-foto Kami bersiap pulang karena Ba’da Asar nanti ada acara syukuran merayakan kelulusanku bersama para akhwat LDK dan teman-temanku. Dan Kak Inong telah menyiapkan menu makanan untuk menyambut mereka.
Saat depan gedung kampus, aku melihat Ibu Eliza dengan seorang pria yang kuyakini sebagai suami beliau. Aku mengajak Bunda untuk mendekati beliau.
“Assalamu’alaikum Ibu” sapaku.
Ibu Eliza menoleh dan tersenyum “Wa’alaikum Salam, Nisya”
“Ibu ini kenalkan Bunda Nisya” ujarku memperkenalkan Bunda.
Bunda menyalami Ibu Eliza “terima kasih atas bimbingannya selama ini untuk putri saya bu” ujar Bunda.
“sama-sama Bu, itu sudah menjadi kewajiban saya lagi pula saya senang menjadi Dosen Pembimbing Nisya Oya kenalkan ini suami saya Pak Basri”
Aku tersenyum mengangguk pada Pak Basri.
“Kamu hebat Nak, selamat ya atas penghargaan lulusan terbaik fakultas bahasa” ujar Pak Basri.
“Terima Kasih Pak”
“oya Bu, Pak dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, kami bermaksud mengundang Bapak dan Ibu untuk bisa hadir di acara Tasyakuran kelulusan Nisya di rumah kosnya ba’da asar nanti” kata Bunda.
“Wah terima kasih atas undangannya Bu, tapi maaf kami tidak bisa datang karena setelah ini di rumah juga ada acara Tasyakuran untuk kelulusan anak saya” jawab Ibu Eliza.
“Anak Ibu, di wisuda hari ini juga?” tanyaku. Aku tak pernah tahu jika ibu Eliza mempunyai anak yang kuliah disini dan apalagi wisuda di hari yang sama denganku.
“Iya, Putra kami kuliah di jurusan Kedokteran seharusnya dia sudah selesai dari setahun yang lalu namun karena dia lebih sibuk mengurus organisasi dari pada tugas akhirnya baru bisa diwisuda tahun ini” jelas pak Basri.
“wah, kalau begitu selamat ya Pak, Bu atas wisuda putranya” imbuh bunda.
‘Aku mengenal beberapa mahasiswa kedokteran tapi siapa ya anak Ibu Eliza’ batinku.
“Abi....!”
“Nak itu putra kami” ujar Pak Basri.
Aku menoleh ‘Akhi Hafiz’ gumamku
Author..
Hafiz berjalan mendekati kedua orang tuanya, dan tersenyum ramah pada Nisya dan Bundanya.
“Maaf, sudah membuat Abi dan Ummi lama menunggu tadi teman-teman ngajak foto bareng dulu” ujarnya.
“Iya Hafiz, Abi mengerti namanya juga anak muda tapi ummimu ini loh, maunya cepat pulang saja dari tadi untunh ketemu Nak Nisya dan Ibunya disini jadi bisa ngobrol-ngobrol dulu” jelas Pak Basri.
“Abi!” tegur istrinya.
“Oya Nisya kenalkan ini putra kami Muhammad Al Hafiz” kata Bu Eliza.
“Sudah kenal Kok Ummi iya kan Nisya?” jawab Hafiz.
Nisya hanya mengangguk.
Mereka terlibat obrolan sejenak, namun Nisya lebih banyak diam dan mengangguk saja. Setelah di rasa cukup Nisya dan Bunda berpamitan untuk kembali ke Kost.
To Be Continue...
Alue-Bilie, (20.49) WIB
@afri_azzahra

Comments
Post a Comment