Love With Your heart,not yours eyes Bab 20



Berada di kampung memang hal yang paling menyenangkan bagi Nisya, suasana dan keakraban antara warga selalu membuat Nisya rindu kampung. Setelah dua hari berada di kampung Nisya bisa melepas rindu dengan bunda dan berkeliling kampung dengan sepeda kesayangannya.
Pagi ini, Nisya membonceng Siti dengan sepedanya, Putri Kak Inong itu nampak sangat bahagia bisa jalan-jalan bersama Nisya.
“Kak Sya, kita jalan kaki saja ya, jalan ke Blang licik kalau habis hujan” ujar siti saat mereka sampai di jalan setapak yang di kelilingi hamparan hijau tanaman padi.
“baiklah,  biar kakak yang membawa sepeda tapi Siti tolong pegang rantang ini ya” Nisya menyerahkan rantang yang di pegangnya pada Siti.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju sawah Kak Inong. Sesekali Nisya bertegur sapa dengan beberapa warga yang di temuinya.
“Blangnya masih jauh Siti?” tanya Nisya.
“sebentar lagi sampai kak, setelah melewati sungai itu” siti menunjukkan jembatan yang berada di hadapan mereka.
Nisya mengangguk paham, dulu saat ini sering bermain di Blang, belum ada jembatan yang bisa digunakan untuk menyebrangi sungai. Nisya juga baru tahu dari bunda jika suami kak inong membeli lahan disana untuk di tanami sawit. Sawit beberapa tahun belakangan ini memang menjadi komoditas tanaman yang menguntungkan bagi petani di pesisir barat Aceh.
“Kak Nisya, dari pada bosan kita nyanyi saja yukk..” ujar Siti dengan wajah sumringah.
“Nyanyi..? Siti mau nyanyi lagu apa? Kakak ngak pandai nyanyi lho”. Nisya tersenyum penuh selidik.
“ Siti ada lagu baru yang di ajarkan ibu guru di sekolah, kakak pasti bisa kata Mak kalau bisa kuliah di Banda pasti pinter “ jawab Siti yang sontak membuat Nisya tertawa.
“memangnya Mak Siti bilang begitu? “
Siti mengangguk...
“ayo kita nyanyi, satu.. dua..tiga....
Daerah aceh , Tanoh lon sayang..
Nibak teumpat nyan, lon udep matee..
Tanoh keunebah, indatu moyang..
Lampoh dengon blang, luah bukon lee..
Tanoh keunebah, indatu moyang..
Lampoh dengon blang, luah bukon lee..” (1)
Tiba-tiba Siti berhenti  bernyanyi meletakkan jari di keningnya,
“kenapa berhenti Siti” tanya Nisya..
“hee.. kelanjutanya apa lagi ya kak?” tanyanya.
Nisya Tersenyum.. “yukk.. nyanyi bareng-bareng
“Keureja udep, na soe peutimang..
Na soe peusenang, keureja matee..
Hatee nyang susah lon rasa seunang
Aceh lon sayang sampoan matee..
Hatee nyang susah lon rasa seunang
Aceh lon sayang sampoan matee.. “(2)

“Hay.. seru tat bak menyanyi si Nyak dua nyo” (3)  Suara Kak Inong, menghentikan nyanyian mereka.
Nisya tersenyum, rupanya mereka telah sampai di kebun Kak Inong “ Alhamdulillah akhirnya sampai juga” seru Nisya.
“Mak...  ini Siti  bawa makan siangnya, tadi kak Nisya yang masak di rumah Nek Nda”  Siti menyerahkan rantang kepada Kak Inong.
“Wah. Teurimong Geunaseh Nisya, kakak rencana keu neu jak woe cit jak maguen tapi Alhamdulillah kana rantang nyo pat”4 ujar Kak Inong.
“Sama sama kak”.
“Beuh jak ta pajoh bue sama-sama bak jamboe” 5 ajak Kak Inong.
Nisya mengangguk, setelah meletakkan sepedanya ia berjalan mengikuti Kak Inong memasuki kebun yang di penuhi dengan tanaman sawit yang masih kecil. Di tanah yang kosong banyak di tanami kacang panjang dan kacang tanah.
Nisya tersenyum melihat Siti yang begitu gembiranya menghampiri Ayahnya yang sedang beristirahat di Jamboe6
Usai menikmati makan siang, Siti di ajak Ayahnya melihat jala ikan yang di pasang di sungai. Sementara Nisya membantu Kak Inong memetik kacang panjang. Tanaman kacang panjang memang sengaja di tanam diantara jarak pohon sawit dengan pohon sawit lainnya.
“banyak juga kacang panjangnya ya kak? Biasanya di jual kepasar atau di konsumsi sendiri? Tanya Nisya.
“kadang-kadang kakak bagi-bagikan ke tetangga Sya, tapi seringnya di beli sama Mbok Darsi untuk sayur pecel dagangannya”.
“owh...”
“oya Sya, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Nazril?” tanya Kak Inong
Nisya berhenti memetik kacang panjang, menyerahkan kacang panjang yang telah di petiknya kepada kak Inong. Kak inong menatapnya penuh selidik, “kenapa Dek? Apa ada masalah?”
Nisya mencoba tersenyum, “tidak ada apa-apa Kak”.
“Kakak dengar dari Bunda, Nazril menyerahkan perusahaannya untukmu apa benar sya?”
Nisya mengangguk, Kak Inong adalah orang terdekat bagi keluarganya. Bunda juga telah menganggap Kak inong seperti anaknya sendiri. Tentu bunda sudah lebih dulu menceritakan segala yang terjadi pada Kak Inong.
“seperti yang kakak dengar dari Bunda, tapi Nisya tak bisa menerimanya walaupun mereka mengatakan itu hak Nisya”.
“Sya, apa ngak sebaiknya kamu pertimbangkan kembali lamaran Nazril?”
“Kak Inong tentu mengerti kenapa Nisya menolak lamarannya kembal” tanya Nisya balik.
Kak Inong menghela nafas, ia tahu benar sifat dan karakter Nisya. Nisya yang berdiri di hadapannya sekarang bukan lagi Nisya kecil yang mudah menangis dan merajuk.
“Nisya kenal  wanita yang dicintai Nazril?”.
Nisya menggeleng, “Nisya tak tahu tentang kehidupannya dan apapun itu Nisya tak mau tahu lagi kak”.
“lalu Bunda bagaimana?”
Nisya menghela nafas sejenak menghirup udara segar “Bunda menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Nisya”.
“lalu jawaban Nisya?”
Nisya menggeleng. “Dia pasti bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari Nisya” Nisya berhenti sejenak “dan... Nisya saat ini Nisya masih ingin melakukan sesuatu yang lebih menarik”
“sesuatu yang menarik? Apa itu?” tanya Kak Inong serius.
Nisya tersenyum “Membakar Ikan bersama Siti dan Bang man, yook.. Kak..” Nisya segera berlari kearah Siti dan Bang Man Suami Kak Inong yang membawa goni yang berisi ikan.
Kak Inong melongo sejurus kemudian tertawa melihat tingkah Nisya dan untuk saat ini sangat mirip dengan tingkah Siti putrinya yang masih berusia enam tahun.
“Nisya...Nisya...”
 
******
Nisya..
Usai melaksanakan shalat Isya, Aku duduk di beranda depan rumah. Halaman rumah yang begitu Asri dengan tanaman Coklat membuat Aku bisa dengan leluasa menatap Langit malam yang di penuhi bintang. Sesekali aroma segar bunga melati bercampur seulanga menyeruak. Aroma udara seperti ini memang hanya akan kutemui disini. Sejak dulu Bunda memang senang memelihara tanaman bunga.
Dulu sebelum di landa Tsunami, dihalaman juga terdapat pohon rambutan yang usianya lebih tua dariku. Setelah Tsunami bunda memutuskan untuk menebangnya dan menggunakan kayunya untuk membangun dapur rumah yang rusak. Sebagai gantinya kami menanam beberapa pohon coklat yang buahnya bisa di jual jika sudah kering.
“Aneuk Dara Bunda ternyata sedang melamun disini, dari tadi Bunda cariin” suara Bunda yang sudah duduk di sampingku langsung membuyarkan lamunanku.
Aku tersenyum, “Bunda belum tidur? Sya kira bunda sedang beristirahat”
“usai shalat tadi Bunda memang sempat ketiduran sebentar, tapi bunyi telepon membangunkan bunda” jawab Bunda.
“siapa yang telepon Nda?”
“Mak Cik Maryam”
“eehmm...”
“Sya, kata Mak Cik Maryam Aril mau melanjutkan Kuliahnya ke Malaysia” lanjut Bunda.
Aku mengerutkan kening, ‘lalu apa hubungannya denganku’ batinku namun tak ku katakan pada Bunda.
“Kata Mak Cik Maryam, Nazril menyerahkan Percetakan Mitra untuk kamu kelola”
“Nda.... berapa kali Sya Bilang, Sya tidak mau menerimanya Sya.. Sya ngak bisa Nda..” ujarku putus asa.
“Sya pasti bisa! Sya harus yakin itu Nak” tegas Bunda.
“ Bunda... Sya mohon, Sya...” aku merasa serba salah jika bunda sudah bersikeras agar aku menerima keputusannya.
“Bunda pun memohon pada Sya, Bunda tak memaksa Sya untuk menerima Nazril sebagai pedamping Sya tapi bunda Mohon Sya bisa menerima untuk menggelola Mitra karena jika Sya menolak maka Sya akan mengecewakan Bunda, Mak Cik Maryam, Paman Yusuf, Alm NekYah, Nek Yah Saleh” tutur bunda.
Aku menghela nafas..
Bunda kalau sudah begini akan sangat sulit bagiku untuk menolak.
“Baiklah Sya terima” jawabku pasrah.
Bunda memelukku.
“tapi Sya ngak mau jauh dari Bunda lagi”
“iya... nanti kita pikirkan bagaimana caranya”
Dan gerimispun perlahan menetes membasahi bumi, kami beranjak masuk kedalam rumah.
 
*****
Ket :
(1)    ) : lirik Lagu Aceh Loen sayang
(2)    ) : lirik Lagu Aceh Loen sayang
(3)    ) : “Hay, serunya nyanyian dua gadis ini?”
(4)    ) : “Wah, terima kasih Nisya, kakak rencana mau pulang juga mau masak tapi Alhamdulillah sudah ada rantang ini”.
(5)    ) : “ayo, kita makan nasi sama-sama di gubuk”
(6)    ) : Gubuk, tempat istirahat petani yang di buat dari papan atau anyaman rotan biasanya memiliki tangga.

Alue-Bilie, (20.49) WIB
@afri_azzahra

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19