Love With Your heart,not yours eyes Bab 19


Nisya menunggu harap-harap cemas, di hadapannya Bu Eliza selaku dosen pembimbingnya sedang memeriksa Skripsi yang telah di selesaikannya. Dua puluh menit telah berlalu Ibu Eliza masih fokus membaca Skripsinya, dalam hati Nisya tak henti-henti melantunkan doa ‘Ya ALLAH, mudahkanlah...mudahkanlah’. Nisya Sangat berharap Skripsinya bisa di terima dan bisa mengikuti sidang munggu depan. Setelah satu semester di lewati untuk menyelesaikan tugas akhirnya.
“sejauh ini tidak ada masalah Nisya, minggu depan kamu bisa langsung mengikuti sidang nanti saya berikan rekomendasinya” ujar bu Eliza.
“Alhamdulilllah Ya ALLAH.. terima kasih bu” Nisya tak dapat menyebunyikan kebahagiaannya.
“saya kagum dengan tekat dan semangatmu untuk menyelesaikan skripsi barakallah ya Nak”
“Aamiin sekali lagi terima kasih banyak bu” Nisya mencium telapak tangan Dosen pembimbingnya.
Setelah dari ruangan Ibu Eliza, Nisya menuju mushala fakultasnya, masih ada waktu dhuha.
“Assalamu’alaikum” sapa seorang lelaki yang membawa ransel tepat di depan mushala.
“Wa’alaikum salam” Nisya tersenyum sejenak kemudian menundukkan pandangannya.
“Apa kabar ukhti? Sudah lama tidak ikut kajian dengan anak-anak LDK ya?’’
“Alhamdulillah, iya afwan ana sedang fokus menyelesaikan skripsi” .
“oh.. begitu,..”
“hafiz!” perkataan lelaki itu terhenti manakala Budi anggota LDK memanggilnya dan berjalan menghampiri mereka.
“eemm.. maaf akhi, saya mau ke mushala dulu permisi” Nisya segera berlalu meninggalkan Hafiz.
“ada apa Bud?” tanya Hafiz setelah Nisya berlalu.
“itu tadi Nisya anak Fakultas Bahasa kan?” tanya Budi tanpa menjawab pertanyaan Hafiz.
“iya”
“ku dengar dia salah satu mahasiswi berprestasi di fakultasnya ngomong-ngomong sejak kapan Akhi dekat dengan Nisya?” tanya budi penuh selidik.
“tidak, tadi aku hanya menanyakan kenapa dia sudah jarang ikut kajian”
“ciieee... tumben mau perhatian dengan akhwat, tapi dia cantik sih”.
Hafiz hanya geleng-geleng kepala menanggapi Budi.
“khi, ente serius demen sama ntu akhwat? Lamar langsung gih dari pada jadi fitnah nanti”  lanjut budi.
Hafiz berlalu tanpa menangapi banyolan Budi, tersenyum mengingat Nisya. Astagfirullah Nisya memang masuk dalam kategori calon pedampingnya tapi entah kenapa setiap bertemu dengan gadis itu, kata-kata yang telah disusun menjadi beku tanpa intonasi yang jelas.
*****
Nisya sudah mempersiapkan segala materi untuk sidang skripsinya, Hatinya yang henti-henti bersyukur pada ALLAH telah diberikan kemudahan dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Bunda yang telah kembali ke kampung tak pernah lelah memberikan semangat dan motivasi untuknya begitu juga dengan Nurma dan Mila. Mila dan Nurma bahkan berjanji akan meluangkan waktu minggu depan untuk menemani Nisya saat Sidang Skripsinya.
“Sya, ada Dhea di luar temuin gih” kata Mila saat Nisya sedang merapikan buku-bukunya.
“kenapa ngak di suruh masuk saja Mil” ujar Nisya. Biasanya saat Dhea datang Dhea akan langsung masuk ke kamar Nisya jika Nisya berada di kamar.
“Dhea datang dengan Nazril dan seorang pria lagi yang tak ku kenal ” Mila berkata dengan pelan.
Nisya mengerutkan kening, ada apa lagi Nazril menemuinya bukankah semua masalah mereka sudah jelas.
“lha, kenapa malah bengong disini, temuin dulu gih aku buat minum dulu ya” Mila menepuk bahu Nisya kemudian menuju dapur.
Nisya meletakkan buku-bukunya di atas meja, merapikan kerudungnya sejenak kemudian keluar.
Di teras depan, Dhea dan Nazril dan seorang pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak duduk di kursi rotan. Saat Nisya keluar Dhea tersenyum menghampiri Nisya.
“Assalamu’alaikum kak “
“Wa’alaikum salam” jawab Nisya ramah “silahkan duduk Dhea”.
Dhea duduk kembali di kursinya, sementara Nisya duduk di kursi sebelah Dhea. Nazril hanya tersenyum pada Nisya.
“Oya kak, kenalkan ini Pak Randi konsultan hukum perusahaan bang Nazril” ujar Dhea.
Nisya hanya mengangguk pada Randi, hati kecilnya bertanya ada apa Nazril sampai membawa konsultan hukum segala untuk menemuinya.
Mila keluar dengan membawa napan berisi tiga cangkir teh, dan mengambil posisi di sebelah Nisya.
“silahkan di minum”
“maaf ada apa ya?” tanya Nisya kemudian.
“ ini kak, maksud kedatangan kami kemari karena ada yang ingin bang Nazril sampaikan pada kakak” jelas dhea.
Nisya menoleh sejenak pada Nazril, lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya. Dan menyerahkan sebuah map pada Nisya.
“apa ini?” tanya Nisya urung mengambil map tersebut.
“coba di baca dulu nanti Randi akan menjelaskannya j”. Kata Nazril.
Nisya menerimanya dan mulai membaca tulisan yang tertera disana, ia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat membaca kalimat pertama yang tertera disana.
SURAT PENGALIHAN KEPEMILIKAN PERUSAHAAN” dan disana namanya tertulis sebagai pemilik sah Mitra Percetakan terhitung mulai hari ini.
“a...apa maksud surat ini?” tanyanya.
“itu surat pengalihan kepemilikan perusahaan Mitra,” jawab Nazril.
“lalu kenapa surat ini, maksudku kepemilikan perusaan ini kenapa bisa beralih padaku?”Nisya menatap Nazril dan Dhea bergantian.
“Karena Perusahaan percetakan Mitra memang seharusnya menjadi milikmu” jawanb Nazril.
“Aku.. aku tidak mengerti”.
“ Begini Nisya, Perusahaan Mitra awalnya di bangun dengan kepemilikan saham dari Tgk.Sulaiman menurut surat wasiat yang di tulis oleh Alm. Saleh Akim yaitu kakeknya Nazril, Mitra Percetakan akan tetap menjadi milik Nazril hingga dia menikah dengamu dan jika Nazril menolak maka Kepemilikan Mitra akan berpindah tangan kepada Nisya Azzahra selaku cucu dari Alm. Tgk Sulaiman dan karena Nazril telah membatalkan pertunangan kalian maka kamu berhak atas kepemilikan Mitra”. Jelas Randi.
Nisya menggeleng “ini.. aku tak pernah tahu jika ada surat wasiat yang melatar belakangi perjodohan beberapa bulan lalu, dan aku sama sekali tak mengerti kenapa Kakek Saleh membuat surat wasiat seperti itu”.
“inilah permintaan terakhir kak, kata Mak Cik Maryam Bunda dan Alm. Ayah kakak juga sudah setuju” timpal Dhea.
Nisya memicitkan mata, kenapa Bunda tak pernah menceritakan padanya masalah ini
“ini..”
“tak perlu di permasalahkan lagi Nisya, sekarang kamu bisa menanda tangani surat itu dan Mitra menjadi milikmu” kata Nazril.
“aku tidak bisa menerimanya” kata Nisya.
“kenapa?”
“aku sudah mengikhlaskan masalah pertunangan kemaren, dan  tak ingin membebani siapapun setelah ini jadi maaf aku tidak bisa menerimanya” tolak Nisya.
“lalu bagaimana dengan keberlangsungan perusahaan Mitra”.
“aku sama sekali tak mengerti tentang percetakan lagipula aku tak bisa menerimanya”
Mereka semua terdiam, Nisya masih kekeuh tidak mau menerima kepemilikannya atas Mitra.
***
Nisya...
Aku benar-benar tak mengerti kenapa Kakek Saleh harus membuat surat wasiat seperti itu,  hufft.. Ya Rabbi.. kenapa semakin kesini, masalah kian berdatangan.. ? andai saja besok  bukan sidang skripsiku mungkin saat ini aku sudah berada di kampung menanyakan secara langsung pada Bunda segala hal mengenai Wasiat yang di tulis Alm. Kakek Saleh.
Astaghfirullah...
fokus..fokus.. Nisya, Besok menjadi hari penentu atas perjuanganmu selama empat tahun ini.
****
Subhanallah Walhamdulillah Wala illaha ilallah Allahu Akbar...
Rasa haru dan bahagia kian menyeruak saat Dosen penguji menyatakan aku lulus sidang dengan nilai yang memuaskan.  Terima Kasih Ya ALLAH..
“Selamat Nisya” ujar bu Eliza sesaat setelah sidang usai.
“terima kasih bu, semua ini juga berkat bimbingan dan arahan dari ibu selama ini” ucapku terisak, Ibu Eliza memelukku hangat.
Semua terasa begitu indah dan haru, apalagi melihat Kak Nurma dan Mila yang tetap setia menemaniku hingga sidang usai... Usai di nyatakan lulus aku segera menghubungi bunda di kampung.
“Alhamdulillah Nak, Bunda sangat bahagia.. Insya ALLAH saat Wisudamu  nanti Bunda ke Banda” ucap Bunda ku tahu bunda disana pati sedang menahan rasa haru.
“Bunda, Sya ingin pulang ke kampung dulu, minggu depan baru mulai mengurus persiapan Wisuda”
“kapan kamu akan pulang Nak?”
“InsyaALLAH besok pagi dari sini”
“ya sudah, jaga dirimu baik-baik Nak..”
Iya Bunda, Sya mau pulang ke Kost dulu ya Nda Assalamu’alaikum...”.
“Wa’alaikum Salam”..
*****
Keesokan harinya....
Perjalanan menyusuri jalanan lintas barat selatan Aceh kali ini terasa begitu nyaman bagi Nisya. Mini Bus L300 melaju dengan kecepatan maksimal sehingga Nisya bisa menikmati pemandangan pantai yang di lewatinya. Aceh masih menyimpan pesona alam yang indah baginya walaupun sempat di porak porandakan oleh gempa dan Tsunami  beberapa tahun yang lalu...  
Tiba-tiba Nisya ingin menulis sesuatu  yang di rasakannya saat ini, maka di keluarkan buku notes kecil dan pulpen...
...
Perjalanan ini.. kali ini terasa berbeda...
Setelah empat tahun ku lalui dengan satu mimpi...
Kini aku pulang dengan satu impian yang selangkah lagi akan terwujud..
Bunda...  semua ini mungkin takkan pernah terwujud
Jika aku tak memilikimu.....
Kala itu, ku tahu Bunda menangis melepasku..
Hatiku juga berat meninggalkan Bunda sendiri di kampung, apalagi setelah Ayah meninggalkan kita untuk selamanya....
Namun tekatku untuk bisa kuliah di Universitas kebanggaan Bumi Seuramoe Mekkah
Membuat Bunda luluh...
Aku pergi untuk pertama kali dengan pesan nasihat Bunda yang selalu di ucapkan padaku...
“Hati-hati di rantau orang Nak, jangan Lupa Shalat, hati-hati dalam bergaul, Bunda sayang Sya.. sangat..sangat Sayang, Sya penguat hati bunda setelah Ayah jadi jangan pernah lupakan Bunda Nak” kalimat itu masih terekam jelas di ingatanku.
Bunda...
Ku tahu takkan pernah mampu membalas semua pengorbananmu...
Bahkan dalam sakitpun engkau masih setia mendoakanku...
Aku anakmu yang selalu engkau bangga-banggakan di kampung...
Aku anakmu yang selalu engkau didik dengan kasih sayang...
Bunda... hari ini Sya pulang....
Sya akan menjemput Bunda untuk bisa menghadiri hari dimana Sya mengenakan baju Toga berdiri diantara ratusan Mahasiswa lainnya...
Sya akan mengandeng Bunda nanti..
Memperkenalkan Bunda pada semua orang...
bahwa Sya sangat bangga bisa memiliki Bunda....
Terima Kasih Bunda......
Sya sayang Bunda, sangat..sangat.. sayang seperti Bunda menyayangi Sya...
Lintas Calang, 22 Maret ...
Nisya Azzahra...
---

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19