Nisya menunggu harap-harap cemas, di hadapannya Bu Eliza
selaku dosen pembimbingnya sedang memeriksa Skripsi yang telah di
selesaikannya. Dua puluh menit telah berlalu Ibu Eliza masih fokus membaca
Skripsinya, dalam hati Nisya tak henti-henti melantunkan doa ‘Ya ALLAH,
mudahkanlah...mudahkanlah’. Nisya Sangat berharap Skripsinya bisa di terima dan
bisa mengikuti sidang munggu depan. Setelah satu semester di lewati untuk
menyelesaikan tugas akhirnya.
“sejauh ini tidak ada masalah
Nisya, minggu depan kamu bisa langsung mengikuti sidang nanti saya berikan
rekomendasinya” ujar bu Eliza.
“Alhamdulilllah Ya ALLAH.. terima
kasih bu” Nisya tak dapat menyebunyikan kebahagiaannya.
“saya kagum dengan tekat dan
semangatmu untuk menyelesaikan skripsi barakallah ya Nak”
“Aamiin sekali lagi terima kasih
banyak bu” Nisya mencium telapak tangan Dosen pembimbingnya.
Setelah dari ruangan Ibu Eliza,
Nisya menuju mushala fakultasnya, masih ada waktu dhuha.
“Assalamu’alaikum” sapa seorang
lelaki yang membawa ransel tepat di depan mushala.
“Wa’alaikum salam” Nisya
tersenyum sejenak kemudian menundukkan pandangannya.
“Apa kabar ukhti? Sudah lama
tidak ikut kajian dengan anak-anak LDK ya?’’
“Alhamdulillah, iya afwan ana
sedang fokus menyelesaikan skripsi” .
“oh.. begitu,..”
“hafiz!” perkataan lelaki itu
terhenti manakala Budi anggota LDK memanggilnya dan berjalan menghampiri
mereka.
“eemm.. maaf akhi, saya mau ke
mushala dulu permisi” Nisya segera berlalu meninggalkan Hafiz.
“ada apa Bud?” tanya Hafiz
setelah Nisya berlalu.
“itu tadi Nisya anak Fakultas
Bahasa kan?” tanya Budi tanpa menjawab pertanyaan Hafiz.
“iya”
“ku dengar dia salah satu
mahasiswi berprestasi di fakultasnya ngomong-ngomong sejak kapan Akhi dekat
dengan Nisya?” tanya budi penuh selidik.
“tidak, tadi aku hanya menanyakan
kenapa dia sudah jarang ikut kajian”
“ciieee... tumben mau perhatian
dengan akhwat, tapi dia cantik sih”.
Hafiz hanya geleng-geleng kepala
menanggapi Budi.
“khi, ente serius demen sama ntu
akhwat? Lamar langsung gih dari pada jadi fitnah nanti” lanjut budi.
Hafiz berlalu tanpa menangapi
banyolan Budi, tersenyum mengingat Nisya. Astagfirullah Nisya memang masuk
dalam kategori calon pedampingnya tapi entah kenapa setiap bertemu dengan gadis
itu, kata-kata yang telah disusun menjadi beku tanpa intonasi yang jelas.
*****
Nisya sudah mempersiapkan segala
materi untuk sidang skripsinya, Hatinya yang henti-henti bersyukur pada ALLAH
telah diberikan kemudahan dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Bunda yang telah
kembali ke kampung tak pernah lelah memberikan semangat dan motivasi untuknya
begitu juga dengan Nurma dan Mila. Mila dan Nurma bahkan berjanji akan
meluangkan waktu minggu depan untuk menemani Nisya saat Sidang Skripsinya.
“Sya, ada Dhea di luar temuin
gih” kata Mila saat Nisya sedang merapikan buku-bukunya.
“kenapa ngak di suruh masuk saja
Mil” ujar Nisya. Biasanya saat Dhea datang Dhea akan langsung masuk ke kamar
Nisya jika Nisya berada di kamar.
“Dhea datang dengan Nazril dan
seorang pria lagi yang tak ku kenal ” Mila berkata dengan pelan.
Nisya mengerutkan kening, ada apa
lagi Nazril menemuinya bukankah semua masalah mereka sudah jelas.
“lha, kenapa malah bengong
disini, temuin dulu gih aku buat minum dulu ya” Mila menepuk bahu Nisya
kemudian menuju dapur.
Nisya meletakkan buku-bukunya di
atas meja, merapikan kerudungnya sejenak kemudian keluar.
Di teras depan, Dhea dan Nazril dan
seorang pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak duduk di kursi rotan. Saat
Nisya keluar Dhea tersenyum menghampiri Nisya.
“Assalamu’alaikum kak “
“Wa’alaikum salam” jawab Nisya
ramah “silahkan duduk Dhea”.
Dhea duduk kembali di kursinya,
sementara Nisya duduk di kursi sebelah Dhea. Nazril hanya tersenyum pada Nisya.
“Oya kak, kenalkan ini Pak Randi
konsultan hukum perusahaan bang Nazril” ujar Dhea.
Nisya hanya mengangguk pada Randi,
hati kecilnya bertanya ada apa Nazril sampai membawa konsultan hukum segala
untuk menemuinya.
Mila keluar dengan membawa napan
berisi tiga cangkir teh, dan mengambil posisi di sebelah Nisya.
“silahkan di minum”
“maaf ada apa ya?” tanya Nisya
kemudian.
“ ini kak, maksud kedatangan kami
kemari karena ada yang ingin bang Nazril sampaikan pada kakak” jelas dhea.
Nisya menoleh sejenak pada
Nazril, lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya. Dan menyerahkan
sebuah map pada Nisya.
“apa ini?” tanya Nisya urung
mengambil map tersebut.
“coba di baca dulu nanti Randi
akan menjelaskannya j”. Kata Nazril.
Nisya menerimanya dan mulai
membaca tulisan yang tertera disana, ia tak dapat menyembunyikan
keterkejutannya saat membaca kalimat pertama yang tertera disana.
“SURAT PENGALIHAN KEPEMILIKAN PERUSAHAAN” dan disana
namanya tertulis sebagai pemilik sah Mitra Percetakan terhitung mulai hari ini.
“a...apa maksud surat ini?”
tanyanya.
“itu surat pengalihan kepemilikan
perusahaan Mitra,” jawab Nazril.
“lalu kenapa surat ini, maksudku
kepemilikan perusaan ini kenapa bisa beralih padaku?”Nisya menatap Nazril dan
Dhea bergantian.
“Karena Perusahaan percetakan
Mitra memang seharusnya menjadi milikmu” jawanb Nazril.
“Aku.. aku tidak mengerti”.
“ Begini Nisya, Perusahaan Mitra
awalnya di bangun dengan kepemilikan saham dari Tgk.Sulaiman menurut surat
wasiat yang di tulis oleh Alm. Saleh Akim yaitu kakeknya Nazril, Mitra
Percetakan akan tetap menjadi milik Nazril hingga dia menikah dengamu dan jika
Nazril menolak maka Kepemilikan Mitra akan berpindah tangan kepada Nisya
Azzahra selaku cucu dari Alm. Tgk Sulaiman dan karena Nazril telah membatalkan
pertunangan kalian maka kamu berhak atas kepemilikan Mitra”. Jelas Randi.
Nisya menggeleng “ini.. aku tak
pernah tahu jika ada surat wasiat yang melatar belakangi perjodohan beberapa
bulan lalu, dan aku sama sekali tak mengerti kenapa Kakek Saleh membuat surat
wasiat seperti itu”.
“inilah permintaan terakhir kak,
kata Mak Cik Maryam Bunda dan Alm. Ayah kakak juga sudah setuju” timpal Dhea.
Nisya memicitkan mata, kenapa
Bunda tak pernah menceritakan padanya masalah ini
“ini..”
“tak perlu di permasalahkan lagi
Nisya, sekarang kamu bisa menanda tangani surat itu dan Mitra menjadi milikmu”
kata Nazril.
“aku tidak bisa menerimanya” kata
Nisya.
“kenapa?”
“aku sudah mengikhlaskan masalah
pertunangan kemaren, dan tak ingin
membebani siapapun setelah ini jadi maaf aku tidak bisa menerimanya” tolak Nisya.
“lalu bagaimana dengan
keberlangsungan perusahaan Mitra”.
“aku sama sekali tak mengerti
tentang percetakan lagipula aku tak bisa menerimanya”
Mereka semua terdiam, Nisya masih
kekeuh tidak mau menerima kepemilikannya atas Mitra.
***
Nisya...
Aku benar-benar tak mengerti
kenapa Kakek Saleh harus membuat surat wasiat seperti itu, hufft.. Ya Rabbi.. kenapa semakin kesini,
masalah kian berdatangan.. ? andai saja besok bukan sidang skripsiku mungkin saat ini aku
sudah berada di kampung menanyakan secara langsung pada Bunda segala hal
mengenai Wasiat yang di tulis Alm. Kakek Saleh.
Astaghfirullah...
fokus..fokus.. Nisya, Besok menjadi hari penentu atas perjuanganmu selama empat
tahun ini.
****
Subhanallah Walhamdulillah Wala
illaha ilallah Allahu Akbar...
Rasa haru dan bahagia kian
menyeruak saat Dosen penguji menyatakan aku lulus sidang dengan nilai yang
memuaskan. Terima Kasih Ya ALLAH..
“Selamat Nisya” ujar bu Eliza
sesaat setelah sidang usai.
“terima kasih bu, semua ini juga
berkat bimbingan dan arahan dari ibu selama ini” ucapku terisak, Ibu Eliza
memelukku hangat.
Semua terasa begitu indah dan
haru, apalagi melihat Kak Nurma dan Mila yang tetap setia menemaniku hingga
sidang usai... Usai di nyatakan lulus aku segera menghubungi bunda di kampung.
“Alhamdulillah Nak, Bunda sangat
bahagia.. Insya ALLAH saat Wisudamu
nanti Bunda ke Banda” ucap Bunda ku tahu bunda disana pati sedang
menahan rasa haru.
“Bunda, Sya ingin pulang ke
kampung dulu, minggu depan baru mulai mengurus persiapan Wisuda”
“kapan kamu akan pulang Nak?”
“InsyaALLAH besok pagi dari sini”
“ya sudah, jaga dirimu baik-baik
Nak..”
Iya Bunda, Sya mau pulang ke Kost dulu ya Nda Assalamu’alaikum...”.
“Wa’alaikum Salam”..
*****
Keesokan
harinya....
Perjalanan menyusuri jalanan
lintas barat selatan Aceh kali ini terasa begitu nyaman bagi Nisya. Mini Bus
L300 melaju dengan kecepatan maksimal sehingga Nisya bisa menikmati pemandangan
pantai yang di lewatinya. Aceh masih menyimpan pesona alam yang indah baginya
walaupun sempat di porak porandakan oleh gempa dan Tsunami beberapa tahun yang lalu...
Tiba-tiba Nisya ingin menulis
sesuatu yang di rasakannya saat ini,
maka di keluarkan buku notes kecil dan pulpen...
...
“Perjalanan ini.. kali ini terasa berbeda...
Setelah
empat tahun ku lalui dengan satu mimpi...
Kini
aku pulang dengan satu impian yang selangkah lagi akan terwujud..
Bunda... semua ini mungkin takkan pernah terwujud
Jika aku
tak memilikimu.....
Kala itu,
ku tahu Bunda menangis melepasku..
Hatiku
juga berat meninggalkan Bunda sendiri di kampung, apalagi setelah Ayah
meninggalkan kita untuk selamanya....
Namun tekatku
untuk bisa kuliah di Universitas kebanggaan Bumi Seuramoe Mekkah
Membuat
Bunda luluh...
Aku
pergi untuk pertama kali dengan pesan nasihat Bunda yang selalu di ucapkan
padaku...
“Hati-hati
di rantau orang Nak, jangan Lupa Shalat, hati-hati dalam bergaul, Bunda sayang
Sya.. sangat..sangat Sayang, Sya penguat hati bunda setelah Ayah jadi jangan
pernah lupakan Bunda Nak” kalimat itu masih terekam jelas di ingatanku.
Bunda...
Ku tahu
takkan pernah mampu membalas semua pengorbananmu...
Bahkan
dalam sakitpun engkau masih setia mendoakanku...
Aku
anakmu yang selalu engkau bangga-banggakan di kampung...
Aku anakmu
yang selalu engkau didik dengan kasih sayang...
Bunda...
hari ini Sya pulang....
Sya akan menjemput Bunda untuk bisa menghadiri hari dimana Sya mengenakan baju
Toga berdiri diantara ratusan Mahasiswa lainnya...
Sya
akan mengandeng Bunda nanti..
Memperkenalkan
Bunda pada semua orang...
bahwa Sya sangat bangga bisa memiliki Bunda....
Terima
Kasih Bunda......
Sya
sayang Bunda, sangat..sangat.. sayang seperti Bunda menyayangi Sya...
Lintas
Calang, 22 Maret ...
Nisya
Azzahra...
---
Comments
Post a Comment