Love With Your heart,not yours eyes Bab 17
Nazril
Manusia dalam menapaki jalan kehidupan selalu di selingi dengan berbagaia macam cerita. Dan cerita-cerita itu akan tergambar jelas dalam frame-frame memoar ingatan hati. Tiada yang simple karena semua telah di atur dengan apik oleh Pencipta sekenario kehidupan. Dunia menyajikan berbagai macam warna kehidupan dan pada akhirnya yang akan selalu di pertanyakan adalah kesiapan kita mengisi lembaran-lembaran kehidupan dengan warna-warna yang akan kita pilih.
Rabb... mungkin aku pernah salah menempatkan cinta pada dia diatas cintaku Pada-MU, kini dalam balutan kemelut hatiku engkau menegurku dengan membiarkan dia yang Diana ku cintai pergi.. apakah aku tak pantas untuk memilikinya? Lelaki pengecut seperti diriku memang pantas mendapatkan ini semua. Setelah apa yang ku lakukan pada Mama dan Nisya.
Gadis itu, ternyata Nisya Azzahra.. Dudut kecilku dulu yang kini telah berubah menjadi gadis yang.. harus ku akui walau di setiap pertemuan kami dia selalu mengenakan pakaian yang sangat tertutup tapi tak bisa menyembunyikan kepolosan wajah ayunya. #praak... bicara apa kamu Nazril, setelah kamu menolaknya kenapa baru sekarang kamu menyedarinya. gadis yang tanpa sengaja telah memberikan Mushaf cinta-MU untukku. Tidak mushaf itu bukan milikku, besok akan ku kembalikan padanya. Akan ku serahkan semua yang menjadi haknya.
“Ril... kamu ada di dalam?” gedoran pintu membuyarkan Lamunanku.
“ada, masuk Dee” ujarku.
Dhea membuka pintu kamarku namun dia hanya berdiri di depan pintu, “bisa keluar sebentar ada yang ingin kubicarakan denganmu”.
Aku menghela nafas, sudah ku duga Dhea takkan puas begitu saja dengan penjelasanku pada Mama dan Papa tadi.
“semuanya sudah jelas Dee, sudahlah aku ingin istirahat sebelum bertemu dengan pengacara Papa nanti”
Dhea menyilangkan tangannya di dada, “apa kamu akan menyerah begitu saja?”
“ini bukan soal menyerah Dhea, tapi aku harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kuputuskan!”tegasku.
“dengan menyerahkan perusahaanmu begitu saja?”.
“Itu perusahaan Kakek Dee, dan kamu sudah baca sendiri kan apa yang di tulis kakek di surat wasiatnya”.
“yah.. aku tahu, tapi perusahaan itu tidak mungkin bisa maju seperti sekarang jika tidak ada campur tanganmu Ril, aku ngak bodoh, aku tahu impian terbesarmu adalah menjadikan Mitra sebagai perusahaan percetakan terbesar di Aceh”.
Aku memejamkan mata frustasi, apa yang dikatakan Dhea memang benar tapi aku bisa apa sekarang,
“kesempatan kedua itu selalu ada Ril, temui Kak Nisya kembali” ujar Dhea yang sontak membuatku menoleh padanya.
“Untuk apa? Memintanya kembali
untuk menikah denganku setelah aku membatalkan pertunangan ini? “.
Dhea memutar bola matanya “bisa jadi, bukankah Nazril yang ku kenal tak pernah
kenal menyerah”.
“Tidak akan Dee, sudah cukup dengan perjodohan konyol ini.. aku akan menemuinya tapi untuk meyerahkan aset Mitra”.
“lalu kamu sendiri bagaimana?”
Aku tertawa namun lebih kepada menertawakan diriku sendiri “ aku akan melanjutkan kuliah atau mungkin akan melamar pekerjaan di tempat lain”.
Dhea menggeleng kepala, “aku pernah bilang Ril, Diana bukan pilihan yang terbaik bagimu kan? Sekarang semuanya telah jelas apa kamu masih juga kekeuh mempertahankan kekerasan hatimu itu?”
“ini masalah perasaan Dee!” teriakku frustasi.
“haa.. jadi sekarang kamu baru sadar tentang perasaan, lalu pernahkah kamu berfikir tentang perasaan Kak Nisya?”
ALLAHU Rabbi... adakah yang konslet dengan indera pendengaranku kali ini, kenapa perkataan Dhea seolah berubah menjadi genderam musik yang memekakkan telinga. Jika bukan karena dia sepupu satu-satunya yang ku miliki akan ku tarik telingganya seperti guru SMU yang menghukum muridnya yang nakal.
“Dhea benar Ril, temui Nisya dan lamar kembali dia” aku terkejut melihat mama yang sudah masuk ke kamarku.
“Aril tidak bisa Ma, Aril mencintai Diana”.
“apa yang masih kamu harapkan dari gadis yang akan menikah dengan orang lain Ril? Mama tidak ingin kamu berlarut-larut dengan keadaan seperti ini? Kata Mama.
“Ril, kali ini ikutilah keinginan Mak Cik,”tambah Dhea.
“baiklah, tapi jika dia menolak jangan pernah paksa Nazril lagi” ujarku.
***
Aku tak tahu keputusan yang ku ambil ini tepat atau tidak, mengingat aku masih mengharapkan diana walau itu sama sekali tak mungkin. Sejujurnya aku juga tidak ingin menjadikan Nisya sebagai pelarian setelah Diana meninggalkanku. Tapi demi permintaan Mama yang tak mungkin ku tolak setelah apa yang ku lakukan.
Dan disinilah aku sekarang, bersama Dhea di sebuah Cafe yang menghadap ke laut pantai Ulee lee. Dhea duduk di depanku dengan sesekali meminum air kepala muda yang di pesannya.
“Masih lama ngak Dee?” tanyaku sembari meminum kopi.
“Sabar Ril, paling bentar lagi mereka juga nyampe” ujar Dhea yang masih asyik dengan Smartphonenya.
“mereka?” aku menyegik.
“iya, Kak Nisya dan Kak Mila.. aku harap kamu tidak lupa kan Seorang perempuan tak boleh berjalan berdua saja dengan lelaki yang bukan mahramnya dan kamu lelaki dan perempuan pergi berdua orang ketiganya adalah...? kamu tahu sendiri kan jawabanya “
Sontak aku tertawa, sejak kapan pemikiran sepupuku ini menjadi sangat kolot.
“hay, tak perlu ketawa itu memang benar makanya aku meminta Kak Mila juga ikut juga” Dhea malah ikut tertawa denganku juga.
“sudah lama ya, kita tidak tertawa seperti ini.. biasanya setiap kita bersama selalu berakhir dengan perdebatan” tambahnya.
Aku mengangguk “ itu karena kamu selalu berubah menjadi sosok Ustadzah yang bawel setiap berdekatan denganku”.
“hahaa.. itu cara terbaik agar aku bisa mengontrol emosiku, karena pemikiranmu itu selalu membuatku geregetan”.
Aku
tersenyum sinis, “memang ada ya akhwat yang tertawanya seperti mak lampir
gitu?”. Dan kali ini ku tahan tawaku manakala melihat raut wajah Dhea menahan
kesal.
“eeh.. itu Kak Nisya dan Kak Mila” ujar Dhea spontan aku menoleh ke belakang
dan benar saja dua orang gadis berkerudung lebar berjalan mendekati kami.
“Urusan kita belum selesai ya Pak Nazril Akim”. Ujar Dhea dengan nada mengancam kemudian berlalu mengahampiri Nisya dan temannya. Aku hanya tersenyum sinis, kulihat mereka saling bersalaman dan berpelukan. Emang mesti gitu ya kalau ketemu teman sesama jilbab besar? ^_^
***
Author
“ayo kak, kam sudah menunggu dari tadi” ajak Dhea pada Nisya dan Mila.
Nisya melangkah dengan enggan, sebenarnya ia tak ingin datang tapi Dhea yang terus menerus memaksanya untuk datang dan Bundapun memintanya datang mau tak mau Nisya datang juga.
Nazril bangkit dari tempat duduknya,saat Nisya dan temanya sudah sampai di depan mejanya. “silahkan duduk” ujarnya melirik Nisya.
Nisya melihat sekilas dan mengangguk. Setelah semuanya duduk suasana berubah jadi hening, Nazril diam ‘huff.. kenapa jadi gugup seperti ini’ batinya.
“oya kak Mila kenalkan ini Abang Nazril sepupu Dhea” ujar Dhea memecah kesunyian. Dengan matanya ia memberi isyarat pada Nazril untuk berbicara.
“kenalkan saya Nazril” ucap Nazril menelungkupkan tanganny di dada, dan Mila juga melakukan hal yang sama. Nazril cukup memahami bahwa gadis seperti Nisya dan Mila takkan mau berjabat tangan dengan lelaki yang bukan muhrimnya.
“eem.. Kak Nisya dan Kak Mila mau minum apa?’’ tanya Dhea.
“tidak usah Dhea, kebetulan kami sedang berpuasa” jawan Nisya.
“oya, Dhea lupa ini hari kamis ya”.
Nazril urung meminum kopinya, mendengar kedua gadis di hadapannya ini sedang berpuasa. Kenapa Dhea tidak bilang kalau mereka berpuasa sunnah.
“eem.. Kak Mila, temanin Dhea ke toilet bentar yuk..” ucap Dhea.
Semua menoleh pada Dhea, Nisya nampak jenggah dan tak enak. ‘kenapa Dhea mesti mengajak Mila ke Toilet’.
Mila menoleh pada Nisya meninta izin menemani Dhea, akhirnya Nisya mengangguk. Setelah kepergian Dhea dan Mila suasana jadi canggung. Nisya diam menunduk, Nazril melirik Nisya entah kenapa nyarinya mendadak cuit saat berhadapan dengan gadis ini.
Setelah beberapa detik..
“maaf kata Dhea ada yang ingin di bicarakan, bisa langsung dikatakan” ujar Nisya dengan nada datar.
Nazril mengangguk walau tahu Nisya sama sekali tak melihat ke arahnya. “sebelumnya aku minta maaf mengenai pertunangan...”
“saya mengerti dan bisa memahaminya” ujar Nisya
Nazril menghela frustasi, kenapa gadis dihadapannya ini begitu tenang. ‘Tenang Nazril, kenapa tiba-tiba aku jadi gugup begini’batinnya.
“Nisya “ panggil Nazril .
Nisya mengangkat alis heran.
“Nisya sekali lagi aku minta maaf mungkin aku memang lelaki pengecut tapi bolehkah aku meminta satu kesempatan lagi untuk bisa melanjutkan pertunangan kita” Nazril menuturkan kata dengan keyakinan namun lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri, egonya di simpan sejenak di logikanya. ‘Ingat keinginan Mama Ril’.
Namun raut keterkejutan terlihat jelas di wajah Nisya, “maksudnya apa? Bukankah Aril sudah memiliki seseorang yang di sayangi sebelumnya?” tanyanya penuh penekanan.
Tiba-tiba Nazril tertawa, tawa yang terdengan miris lebih kepada menertawakan dirinya sendiri “ haa.. ini memang konyol gadis yang kucintai meninggalkanku untuk menikah dengan orang lain setelah aku membatalkan pertunanganku denganmu lalu sekarang aku menemuimu untuk memintamu melanjutkan kembali pertunangan kita”.
Di saat bersamaan Dhea dan Mila telah kembali dari toilet dan duduk di bangku yang masih kosong. “maaf lama” ujar Dhea memecah kebisuan diantara mereka.
Nisya hanya tersenyum mengangguk pada Dhea. Sementara Nazril mengerutuki Dhea kenapa hadir di saat ia sedang menunggu jawaban Nisya.
“jadi bagaimana dengan pertanyaanku tadi Nisya?” tanya Nazril to the poin.
Nisya melirik Mila seolah berbicara dengan tatapan mata meminta pendapat Mila, Mila menautkan matanya sembari mengangguk sebagai arti ‘jawablah’.
Nisya mengerti dan berkata pada nazril “ sebelumnya boleh saya bertanya satu hal?”.
“silahkan” jawab Nazril dengan penuh percaya diri.
Dhea yang duduk di sebelah Nazril mencibir ‘percaya diri sekali bapak satu ini’
Nisya melirik Dhea tersenyum kemudian berkata “apa arti pertunangan ini bagimu?”.
“pertunangan ini seperti semu bagiku karena jujur aku mencintai gadis lain dan tak pernah menghendaki perjodohan apalagi pertunangan ini” jawab Nazril.
“lalu kenapa sekarang meminta kesediaanku untuk melanjutkan pertunangan ini jika memang ini hanya kesemuan dan kekonyolan bagimu?”
“karena.. Mama..”
Astaghfirullah..” kata-kata Nazril terhenti saat Dhea dengan tiba-tiba beristikfar. Sontak mereka semua menatap Dhea penuh tanya tanya. Sementara Dhea menggeleng-geleng kepala frustasi akan kecerobohan Sepupu ganteng tersereknya ini.
“ee... heee maksud bang Aril karena Mama maksudku mak Cik Maryam telah menyadarkan Abang Nazril bahwa kak Nisya calon isteri yang baik untuk abang Nazril” celetuk Dhea.
“benarkah?” tanya Nisya.
Nazril mengangguk mau tak mau, “seperti itulah kira-kira”ujarnya.
“kalau
begitu maaf, saya menolaknya” jawab Nisya tegas dan berhasil membuat Nazril
terdiam mati kutu.
Dhea menatap Nisya penuh harap.
“Maaf Dhea... Aril.. saya rasa semua sudah jelas dan saya harus segera pergi, terima kasih” Nisya hendak bangkit.
“tunggu dulu, boleh aku tahu apa alasanmu menolak?’’ tanya Nazril.
“apakah alasanku penting bagimu?”
“tentu saja penting kak, maaf jika Dhea ikut campur kak, tapi Dhea rasa tak ada salahnya jika kakak memberi abang Nazril kesempatan” potong Dhea.
Nisya menggeleng “maaf Dhea untuk kali ini kakak tidak bisa”.
“kenapa apa kakak marah sama abang nazril?’’
“Dhea sudahlah” tegur Nazril.
“saya tidak marah, yang tak ada yang mengharuskan saya untuk marah karena sedari awal saya telah meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehendak ALLAH dan semua ada hikmahnya” Nisya tersenyum pada Dhea.
“tapi kak..”
“Dhea, kakak harap Dhea mengerti posisi kakak saat ini.. kita semuslimah dan Muslimah bukanlah layang-layang yang bisa ditarik ulur perasaannya, bukan juga pancingan yang diumpan, ditarik lalu dilepas kembali diberikan pujian namun akhirnya menyakitkan di janjikan dengan harapan palsu namun dikhianati kemudian” ucap Nisya.(1)
Dhea, Nazril dan Mila terdiam seketika.
Dhea dalam hati membenarkan perkataan Nisya,
“kami permisi Assalamu’alaikum” lanjut Nisya.
“Wa’alaikum salam” jawab Dhea dan Nazril dengan suara pelan.
“Kak!” panggil Dhea saat Nisya dan Mila sudah berbalik pergi.
Nisya menoleh, Dhea mendekat dan memeluknya “Dhea minta maaf ya kak, seharusnya Dhea bisa lebih peka dengan perasaan kakak.. sepupu Dhea itu memeng resek dan nyebelin jadi wajar jika kini kakak menolaknya” bisik Dhea.
Nisya tersenyum, pandangannya tertuju pada nazril yang sedang menatap mereka. “dia pasti akan mendapatkan yang terbaik Dhea, Dhea ingat makna surat An-Nur ayat 26 kan?” Nisya melepas pelukan Dhea.
Dhea mengangguk. “setelah ini kita masih tepa bisa bertemu kan kak?”.
“tentu saja, rumah kami selalu terbuka untuk Dhea, ya sudah kakak pamit dulu sekalian tolong sampaikan permintaan maaf kakak pada Mak Cik Maryam maaf kali ini kakak mengecewakan beliau”
“iya nanti Dhea sampaikan pada Mak Cik,”.
*****
Ket : (1) : Setia Furqon Kholid
Alue-Bilie, (16.58)

Comments
Post a Comment