Love With Your heart,not yours eyes Bab 18
Bab 18
Nazril....
“Muslimah bukanlah layang-layang yang bisa ditarik ulur perasaannya, bukan juga pancingan yang diumpan, ditarik lalu dilepas kembali diberikan pujian namun akhirnya menyakitkan di janjikan dengan harapan palsu namun dikhianati kemudian”..
Kalimat itu terus terulang di kepalaku, Nisya benar aku memang pengecut yang telah mengkhianati dan menyakiti perasaannya. Bahkan sudah sebulan sejak pertemuan terakhir kami, kata-kata itu masih terekam jelas di ingatanku. Pelik memang jika di fikirkan, aku yang notabennya mantan idola kampus yang bisa mendapatkan gadis mana saja yang aku suka untuk kali pertama di tolak oleh seorang Nisya. Tak bisa kubayangkan jika salah satu dari teman kuliahku dulu tahu kalau aku di tolak oleh seorang gadis, mengingat hampir seluruh teman-temanku iri denganku yang sering di tembak cewek. Namun sejak kuliah aku hanya dekat dengan Diana dan hanya Diana yang bisa mengisi tempat istimewa di hatiku.
Tapi kini, setelah delapan tahun berlalu.. Diana yang bulan lalu masih menjadi kekasihku kini telah menjadi milik lelaki lain. Jalan hidup kadang hanya hal klise jika di pikirkan dengan sudut pandang optimisme, bagai rangkain potongan puzzle yang pada akhirnya disusun dengan rapi hingga menjadi sesuai yang indah dan memiliki makna. Alangkah indahnya hidup jika segalanya berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi kini kamu harus berfikir realitis Muhammad Nazril Akim! Jalan hidup tak selamanya mulus seperti jalan tol, hambatan dan rintangan itu selalu ada. Aku tak menemukan hambatan dalam pendidikanku karena kepintaran yang kumiliki dan bisnis percetakan yang di embankan padaku sejak kuliah berjalan lancar dan kini Mitra telah menjadi salah satu perusahaan percetakan terbesar di Aceh. Soal cinta dulu aku memiliki Diana gadis yang tak kalah pintar dariku, cantik dan setiap kami berjalan bersama selalu diiringi dengan decak kagum orang-orang. Pasangan yang serasi dan kompak walau jarang memisahkan kami.
Dan kini, duniaku seakan terjungkir balik 180 derajat, Cintaku.. impianku berubah dan belum tentu arah. ALLAH mengapa begitu sulit menghapus bayang Diana dari hidupku. Bahkan setelah menghadiri acara pernikahan Diana sebulan yang lalu aku masih berharap keberuntungan berbalik padaku, namun semuanya nihil yang ku dapatkan adalah tatapan bahagia Diana dan Suaminya akan kedatanganku yang turut mendoakan pernikahan mereka.
“hay, Bro! Kenapa melamun?” tegur seseorang yang langsung membuyarkan lamunanku. Kulirik Randi sahabat yang sekaligus merangkap menjadi Konsultan Hukum Perusahaanku.
“masuk ruanganku seharusnya di awali dengan salam Randi, bukan main nyelonong aja” tegurku kesal.
“salam apa? Sudah berulang kali aku mengucapkan salam tapi tak ada jawaban sampai pegal aku menunggu di luar”
Aku hanya mendengus, “apa kamu sudah membawa semua berkasnya?”
“sejak kapan kamu meragukan kredibilitasku dalam bekerja, tentu saja aku membawanya walau aku masih belum mengerti jalan pikiranmu” ucapnya dengan nada membanggakan.
“kamu tak perlu mengerti terlalu banyak, cukup tegakkan keadilan di bumi seuramoe ini” timpalku.
“hay, tengku! Aku ini pengacara bukan pengadilan”
“apapun itu! Mau minum apa?” tawarku.
“air putih saja, aku sudah ngopi tadi di cafe bang ramli, By the way bang ramli menitip salam kapan kamu kesana lagi?”.
Aku menghela nafas, sudah sebulan aktifitasku di isi dengan kerja, kerja dan kerja.
“C’mon Nazril Akim, dunia ini belum berakhir walau Cut Diana tiada disisimu”.
“aku hanya belum siap saja Ran”
“lalu harus menunggu sampai kamu siap dulu, dan apa keputusanmu ini sudah kamu pikirkan dengan baik-baik?” Randi meletakkan sebuah Map besar di hadapanku.
Segera ku buka dan ku baca tulisan-tulisan yang tertera disana. “aku ingin memulai sesuatu yang baru Ran, dan menata ulang hidupku”.
“menata ulang hidupmu? Aku tak melihat sesuatu yang merugikan saat ini dengan kekalutan hatimu yang kudapatkan hanya keberantakan penampilanmu” sungutnya dengan senyum sinis.
Aku tertawa, Randi benar bahkan dia bukan orang pertama yang memprotes penampilanku akhir-akhir ini, di rumah Dhea menjadi yang paling gentar menyuruhku cuti beberapa minggu dari pekerjaan. Aku tersenyum pekerjaan Randi memang selalu rapi segera kutanda tangani surat pengalihan kepemilikan Mitra menjadi atas nama Nisya Azzahra.
“semua telah berakhir Randi, nanti malam aku akan menyerahkan berkas ini pada Nisya dan mulai minggu depan patner kerjamu akan berubah”.
“ini sulit di percaya Ril, kamu benar-benar akan melepaskan Mitra ini aku takut sepeninggalmu nanti masa kejayaan Mitra akan berakhir apalagi jika menelisik latar belakang gadis yang bernama Nisya Azzahra itu”
“sejak kapan kamu bisa melamar masa depan Ran, aku yakin justru Mitra akan lebih berkembang jika di pimpin oleh Nisya”.
“aku jadi penasaran seperti apa gadis yang bernama Nisya itu? Bahkan dhea bisa berubah drastis setelah mengenal gadis gendut itu”.
Aku tersenyum, Randi memang sudah mengatakan jika dia menyukai Dhea namun Dhea menolak untuk berpacaran dengannya dengan alasan tak ada pacaran dalam islam.
“Nisya bukan gadis gendut Randi” tegurku.
“bukankah kamu bilang..”
“itu karena aku belum bertemu dengannya, sudahlah kapan kamu akan melamar Dhea?” pancingku mengalihkan pembicaraan.
Randi menyipitkan mata, “Dhea masih terlalu muda untuk menikah Ril”.
“itu bukan alasan Ran, bukankah Dhea sudah mengatakan jika kamu benar-benar serius temui Ayahnya”.
Randi diam, ku tahu sahabatku ini masih terlalu takut untuk berkomitmen dengan pernikahan.
“ayo ikut aku” ajakku mengambil kunci mobil.
“kemana?”
“melamar Dhea untukmu”
“apa? Jangan bercanda Ril”
Aku tertawa “pikirkan baik-baik aku hanya tak ingin kamu mengalami hal yang sama sepertiku menyadari begitu naifnya diri setelah tiada lagi pilihan untukku”
“apa.. apa kamu mencintai gadis itu.. maksudku Nisya” tanyanya penuh selidik.
Aku hanya diam dan berlalu pergi, entahlah aku juga belum bisa meyakini perasaanku sendiri saat ini.
“mau kemana kita ril?” tanya Randi nampaknya dia masih takut jika aku benar-benar membawanya kehadapan ayah dhea.
“makan siang di cafe bang Ramli”
***
Alue_Bilie, (12.00) WIB
@afri_azzahra
@afri_azzahra
Comments
Post a Comment