Love With Your heart,not yours eyes Bab 16



Nazril mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, berkali-kali ia membanting stir dengan geram. Tak tahu arah tujuan Nazril terus mengendarai mobil hingga sampai di depan kantornya. Nazril memilih untuk kembali ke kantor, setidaknya dia bisa menyibukkan diri sejenak dengan pekerjaan.

Nazril berjalan menuju lantai dua tempat ruangannya berada, saat berpapasan dengan karyawannya Nazril hanya mengangguk tanpa menyungingkan senyum. Rasanya setelah kejadian di cafe Ramli tadi ia enggan untuk tersenyum. 

“Sayed, bawakan laporan buku-buku yang harus kita terbitkan bulan depan” ujarnya pada sayed lalu segera masuk ke ruangannya.

“baik Pak” sayed heran dengan kedatangan Nazril tiba-tiba ke kantor padahal tadi pagi Nazril telah mengabarinya tidak masuk kantor hari ini.

“ada apa dengan Pak Nazril?” tanya Leni salah seorang staf keuangan.

“aku tidak tahu, tapi sepertinya ada yang tidak beres” ujar sayed.

“apa ada masalah dengan laporan keuangan perusahaan?”

Sayed menggeleng “ aku tak tahu Lani, sebaiknya kita jangan berspekulasi dulu selesaikan pekerjaanmu saja aku mau menyerahkan laporan ini dulu pada pak Nazril”

Sayed mengetuk pintu ruangan Nazril hingga terdengar suara Nazril menyuruhnya masuk.
Nazril duduk di kursinya laptop di hadapannya telah menyala menampilkan slide-slide foto-foto desain sampul buku-buku yang akan di terbitkan.

“Pak, ini laporan buku-buku yang akan kita terbitkan bulan depan”

“terima kasih sayed” Nazril membuka map yang berisi laporan, di baca dengan teliti. “ sayed, segera publikasi ke divisi percetakan mulai minggu depan kita mulai mencetak buku-buku ini jangan lupa konfirmasi juga ke penulisnya”.

“apa ngak kecepatan Pak, Maksud saya di kontrak tertulis kita baru mulai mencetak buku-buku tersebut bulan depan?”

Nazril mengangguk “ saya tahu, tapi jika kita bisa menyelesaikannya lebih cepat bukankah lebih baik lagipula saya takut projek ini akan terbengkalai nantinya”

“terbengkalai bagaimana maksud bapak? Maaf pak setahu saya selama ini kita selalu mencetak buku-buku sesuai dengan tanggal kontrak dan sebanyak apapun yang kita produksi tak pernah ada costumer yang merasa terabaikan, apakah ada perubahan dengan mekanisme kerja kita pak?” tanya Sayed sebagai salah satu Staf kepercayaan Nazril ia sudah sangat paham dengan mekanisme kerja di perusahaan percetakan ini.

Nazril tersenyum “ aku suka dengan kepekaan dan loyalitasmu selama ini, tidak ada perubahan mekanisme kerja selama saya masih memimpin disini tapi saya hanya ingin sebelum RAP Tahunan di kerjakan buku-buku ini sudah bisa langsung di distribusikan ke distributor”. Jelas Nazril ‘setidaknya sebelum aku keluar tanggung jawabku telah kuselesaikan’.

“baik pak, saya mengerti”.

“iya, kamu bisa kembali bekerja” 

“iya pak”

Setelah Sayed keluar dari ruangannya Nazril membuka blackberrynya ada pesan singkat dari Dhea :

Ril, serius kamu mau bawa Diana ke rumah? Ku lihat Mak Cik Maryam meminta Bik Isah memasak komplit”.

Nazril menghela nafas frustasi, kali ini kekecewaan Mama padanya akan bertambah. ‘Hubunganku dengan Diana telah berakhir Dee’ ucapnya lirih tanpa membalas pesan Dhea.

Drrttt..drrtt.. 

Blackberrynya kembali bergetar tertera nama Cut Diana di layarnya. Nazril menimbang-nimbang sebelum mengangkatnya. Hingga panggilan berakhir Nazril tak juga menjawab.

Drrtttdrttt..

berganti dengan gambar amplop terbuka tertera di layar benda mungil persegi itu.
--


Aril, aku kembali ke jakarta siang ini.. mohon maaf dan terima kasih untuk segalanya.. InsyaALLAH akan menghadirkan seseorang yang lebih baik dariku untukmu..
Sahabatmu.. Cut Diana...
--
Nazril tak berniat membalas pesan dari Diana, bukan karena dia benci namun ia takut tak bisa mengontrol perasaannya nanti. Jika menuruti kata hati saat ini juga ia akan bergegas menyusul Diana ke Bandara Sultan iskandar Muda untuk untuk meminta gadis itu membatalkan keputusannya. Namun itu tak mungkin di lakukannya, kini walaupun menyakitkan sebagai seorang lelaki ia harus bisa berfikir realitis bahwa Diana telah memilih jalan dan masa depannya sendiri. Pemikiran yang konyol menurutknya, namun ini lebih baik dari pada dia harus mennagis seharian seperti gadis-gadis yang patah hati dalam sinetron-sinetron alay langganan Bik Isah.
***
Nazril..

Katakan aku gila hari ini, ya.. aku gila dengan kegilaanku sendiri. Tiga belas jam ku habiskan dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan, aku akui beberapa karyawan menatap heran dengan sikapku hari ini namun tak ku perdulikan. 

Hufffttt....

kulirik jam di pergelanggan tanganku sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Semua karyawan telah pulang hanya tinggal aku sendiri di kantor.

Drrtt..drrttt... blackberryku kembali bergetar , nama papa tertera disana.

“Assalamu’alaikum Pa” sapaku.

“Wa’alaikum salam, Nazril kamu dimana? Ini sudah tengah malam kamu belum pulang” ujar papa walau tegas namun tersirat kekhawatiran dari suara Papa.

“Aril masih di kantor Pa, ada pekerjaan yang harus Nazril selesaikan”

“apa ada masalah Ril? Papa dengar dari Mama tadi kamu akan membawa gadis pilihanmu kerumah tapi kenapa tiba-tiba kamu membatalkannya?”

Aku menghela nafas berat, papa selalu bisa memahamiku “Aril minta maaf Pa, hufftt.. besok pagi kita bicarakan di rumah ya Pa” 

“ya sudah, pulanglah jangan buat Mamamu semakin cemas”

“iya Pa, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”
---
Aku turun ke lantai bawa, menuju parkiran namun langkahku terhenti saat melihat sesosok tubuh tengah sujud di Mushala. Aku terpaku berdiri di depan Mushala. Aku sangat mengenali sosok tubuh yang sedang sujud menghadap Sang Pencipta, dia Pak Aiyub petugas keamanan Kantor.  

“maaf, bapak siapa?” sebuah suara dari belakang mengagetkanku.

Aku menoleh di belakangnya berdiri bocah laki-laki yang kira-kira berusia lima belas tahun. 

“kamu siapa?” tanyaku.

“Aku Madun anak Pak Aiyub, apa bapak salah satu karyawan disini juga?” tanyanya.

Aku tersenyum ”kamu sedang apa disini?” sengaja tak kujawab pertanyaannya.

“aku menemani Bapak piket malam ini” ucapan Madun terpotong dengan kedatangan Pak Aiyub yang sudah keluar dari Mushala.

“Pak Nazril belum pulang?” tanya Pak Aiyub.

“Belum Pak” jawabku ramah, namun tiba-tiba kepalaku terasa sakit, aku memicit kening perlahan.

“kalau begitu saya pamit dulu ya Pak” ucapku. 

Pak Aiyub mengangguk, aku berjalan mendekati mobil namun kepalaku kembali berdenyut sakit sebelum pintu mobil terbuka.

“Bapak, bapak tidak apa-apa? Sepertinya bapak kurang sehat?” tanya Pak Aiyub.

“kepalaku tiba-tiba pusing Pak, mungkin karena kelelahan” ucapku.

Pak Aiyub memegani bahuku “ apa tidak sebaiknya bapak istirahat dulu, akan sangat berbahaya jika bapak menyetir dalam keadaan seperti ini” 

Aku hanya mengangguk dan baru ingat bahwa sedari pagi perutku tak di isi dengan  apapun selain segela kopi saat di cafe Ramli tadi pagi. 

“mari pak, istirahat dulu di Mushala bisa sambil rebahan nanti” ajak Pak Aiyub.

Aku mengangguk dengan keadaan seperti ini aku tak mungkin menolak. Kami duduk di pelantara mushala.

“Madun, jak cok ie teh ngon kuweh buno keu bapak Nazril”(1) perintah Pak Aiyub pada putranya.

“got Yah”(2)

“dia anak bapak?” tanyaku.

“iya pak, dia Midun putra kedua saya yang masih kelas 2 SMP”.

Aku mengangguk, 

Midun datang membawa cerek, tiga buah mug plastik dan sebuah rantang. Pak Aiyub segera mengisi salah satu mug dengan air teh dan menyerahkan padaku.

“ini minum dulu pak”

Aku meminumnya perlahan.

“ini juga ada gorengan yang di bawa Midun dari rumah” 

“terima kasih Pak”

Akhirnya sembari beristirahat aku menghabiskan waktu dengan bercerita panjang lebar dengan Pak Aiyub dan putranya Midun. 

“Bapak ini bekerja di bagian apa?” tanya Midun.

Aku tertawa serayan mengacak rambut Midun. Pak Aiyub merasa tak enak berkata “Midun, Pak Nazril ini pemilik kantor ini”.

“ow.. berarti bapak orang hebat, Midun juga ingin memiliki kantor sebagus ini” ujar midun.

“makanya belajar yang rajin Midun” ujar Pak Aiyub.

“kamu pasti bisa jika rajin belajar dan tak pernah putus asa” imbuhku

Tak terasa waktu telah beranjak dini hari, pak Aiyub berinisiatif menelpon taksi untuk mengantarku pulang. Beliau melarangku menyetir. Pukul dua dini hari sebuah taksi berhenti di depan pos satpam, setelah berpamitan dengan Pak Aiyub dan Midun aku memasuki taksi.

***
Ket : (1) : "Midun, Ambilkan teh dan kue untuk pak Nazril"
(2) : baik yah

Alue_bilie, (16.32)

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19