Aku Dan Dia...





Prolog


“Berhenti mengikutiku dan berhentilah mengharapkanku!” tegas lelaki yang berdiri di hadapanku sembari merobek kertas yang berada di tangannya lalu menghamburkannya di hadapanku.

Aku diam menunduk, menatap potongan kertas yang telah tercecer di tanah. Rasanya menyakitkan melihat hasil karya yang ku tulis dengan sepenuh hati menjadi potongan-potongan kecil tak terbaca lagi.

“Dengar ya! Saya takkan pernah bisa tertarik walaupun seribu surat cinta kamu tulis untukku!” ketusnya.

Aku mendongkah menatap wajahnya “ su..rat..itu, bukan dariku, itu dari..”

ucapanku terpotong dengan perkataan sinisnya “ masih ingin menyangkal hah? Sudah jelas-jelas ini tulisanmu dan dari semua surat yang ku temukan di loker setiap harinya tulisannya persis sama dengan tulisanmu”

“aku hanya membantu para pengemar  kamu untuk bisa menyampaikan perasaannya untukmu” ujarku. Iya, memang seharusnya aku tak perlu takut karena dari awal aku memang sudah siap dengan segala resiko sebagai kuli tinta surat cinta siswa-siswi SMU Permata.

“bodoh! Apa perduliku yang jelas aku tak suka dengan semua surat-surat itu dan kamu bisa tidak mencari pekerjaaan yang lebih baik daripada menjadi kuli surat tak berbobot ini” katanya sebelum emlangkah meninggalku.

Aku menatap kesekeliling dan aku baru meyadari telah menjadi bahan tontonan gratis penghuni SMU Permata. 

“hai tunggu!” ujarku lantang.

Langkah lelaki itu terhenti dan berbalik menghadapku. Aku berjalan mendekatinya.
Tepat di hadapanya aku berkata “ jangan pernah merendahkan pekerjaanku, aku hanya menulis apa yang tak mungkin di katakan secara langsung oleh pengemarmu kepadamu”.

“hah.. lalu kamu mau aku bertepuk tangan dan mengucapkan selamat karena telah berhasil menulis puluhan surat cinta dari pengemarku itu?” ketusnya.

“kamu bisa menolaknya dengan baik-baik jika tak menyukai pengirim surat itu dan satu lagi aku sama sekali tak pernah berharap apalagi mengikutim” tungkasku kemudian meninggalkannya...

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19