Love With Your heart,not yours eyes Bab 15
......
Sebuah ikatan terjalin karena keluarga...
Ikatan yang seharusnya menjadi bingkai kebahagiaan
Justru menjadi memoar luka yang menyakitkan..
Mungkin bagi dia semua ini tak ada artinya..
Tapi tidak bagi seorang Nisya Azzahra...
Sebuah ikatan yang pada akhirnya membawa beban baginya..
Namun ku sadar, saat kata ‘IHKLAS’ itu telah terlontarkan,
Maka tak ada alasan lagi untuk kata ‘SAKIT’..
Tuhan ku tahu, bagaimana selama ini aku menjaga cintaku hanya untuk-NYA
Namun salahkah sejak saat itu, saat sebuah cincin melingkar di jari manisku
Aku juga mulai merajut Asa dan benih-benih perngarapan untuk membingkai sebuah mahligai bersamamu kelak....
Dua belas tahun tak pernah melihatmu,
Dua belas tahun tak pernah mendengar suaramu,
Namun sosok kecilmu dulu selalu terekam jelas dalam ingatanku..
Kamu yang selalu memarahiku..
Namun tak pernah suka jika aku menangis...
Kamu yang mengajarkan aku tentang warna-warna pelangi yang indah itu..
Kamu yang selalu mau ku repotkan dengan tugas ‘BERHITUNG’
“Dudut... berhentilah berhayal, cepat selesaikan peermu!”
“Dudut.. bisa ngak sekali aja ngak buat Aril Kesal, anak perempuan tidak boleh maen bola sana pulang!”
^_^ seolah baru kemarin aku mendengar kata-kata itu.
...
Melihatmu tadi, aku sama sekali tak mengenal siapa yang ada di hadapanku..
Tatapan matamu tak lagi sehangat dulu..
Hanya senyum sinis yang menghiasi wajahmu...
Hatiku bertanya lirih apa benar kamu MUHAMMAD NAZRIL AKIM yang ku kenal dulu?
Cucu kesayangan Kakek Saleh Akim yang ku kenal dulu tak pernah membiarkanku menangis selain di hadapannya..
Tapi perkataannya tadi cukup membuat hatiku nyeri, kini ku tahu jawabannya...
Banda Aceh.... ,..,...
-Nisya-
=====
“Nisya, tidurlah sudah larut malam ini” suara Bunda membuyarkan kosentrasi Nisya di depan laptopnya.
“iya Bunda” Nisya menghela nafas berat, matanya mulai berkaca-kaca , di liriknya bunda sudah kembali terlelap.
“maafkan Sya, Bunda, Sya janji takkan pernah membuat bunda kecewa lagi”
*****
Nazril
“aarrrggtthh....” aku mengerutu kesal. Sudah sejam berlalu tapi mata ini belum bisa terpejamkan juga.
Semua ini gara-gara pertemuan dengan gadis itu, huffh.. ternyata dia Nisya, gadis yang ku temui di masjid dan di apotik tadi. Tunggu dulu, Al-Qur’an.. iya Al-Qur’an.
Segera ku ambil Mushaf kecil berwarna hijau yang ku letakkan di dalam laci nakas. Apa maksud dari semua ini ya? Hufft.. kenapa hatiku tiba-tiba tak tenang begini,..
‘ayo.. Nazril cool down, kamu pasti bisa, bukankah Mama dan gadis itu sudah memyetujui permintaan itu.. tapi wajah gadis itu tadi membuat ku merasa eerrr.. menjadi lelaki jahat dengan membatalkan pertunangan ini. Aku melihatnya, ada luka di matanya tapi kenapa dia tak menangis seperti saat aku memarahinya dulu. Kenapa hanya diam dan menunduk errr... apa Dudut yang ku kenal dulu telah bermetamorfosis menjadi gadis kalem dan tertutup..
What?? Bermetamorfosis ? tapi dia memang telah berubah menjadi kupu-kupu yang cantik... eerrrgg.. apa yang kamu fikirkan Nazril! Ini bukan pelajaran IPA yang selalu kamu banggakan di hadapannnya dulu. Ingat Nazril kamu punya Cut Diana.. dia masih lebih cantik dari gadis itu, dan Cut Diana masih lebih modern dari pada Nisya.
Ddrrrttt..ddrrttttt.....
Blackberryku bergetar tanda panggilan masuk, tanpa melihat siapa yang menelpon langsung ku jawab panggilan itu.
“Jangan bilang kamu tak bisa tidur karena menyesali keputusanmu Nazril Akim” ujar seseorang yang menelpon yang langsungku kenali.
“berhenti mengangguku Dhea! Ini sudah larut malam” gerutuku.
“Whaat pagi? Ini sudah pagi kale..” ujar Dhea dengan nada mengejek“aku hanya takut terjadi sesuatu, tak pernah-pernah seorang Nazril Akim masih membiarkan lampu kamarnya menyala sampai jam tiga pagi, apa ada yang menganggu pikiranmu?”
Aku mendegus kesal “apa maumu Dee? Aku lelah mau tidur puas!”
“ee..ee..jangan
membolak-balik pertanyaan Abang Nazril Akim, this just question Ok! do you
regret your decision after
meeting him?”
“do
not. and it will never!” teriakku kesal serayan memutuskan teleponnya.
Beberapa menit kemudian Blackberryku kembali bergetar
Sebuah pesan dari si resek dhea
“Hati-hati dengan
ucapanmu Bapak Nazril Akim, aku takkan bertanggu jawab jika sewaktu-waktu nanti
kamu menyesali ucapanmu :P ” tulisnya
Dengan kesal ku balas “ hentikan ceramahmu Ustadzah dadakan, I know what
is
best for
me Ok!”
Setelah pesan sending ku letakan blackberryku begitu saja
di atas nakas, mematikan lampu dan mulai memejamkan mata.
Drrrttt..drrtttt... blackberryku kembali bergetar, namun
tak ku hiraukan paling juga balasan pesan dari Dhea.
*****
Allahu Akbar!
Aku mengerutuki diriku sendiri, setelah terjaga dari
tidur. Bagaimana mungkin aku baru terjaga ketika sinar matahari telah meninggi
dan lebih menyedihkan lagi jam di nakas telah menunjukkan pukul 10.00.
aarrgggh... subuhku terlewat.. subuh apa jam 10 pagi?
‘Ya ALLAH maafkan hamba-MU kali ini’
‘Kenapa tidak ada yang membangunkanku? Mama biasanya tak
pernah lupa membangunkanku jika setengah jam setelah azan subuh aku tak keluar
kamar, Astaghfirullah aku lupa, apa mama masih marah padaku? Lalu si Dhea
kemana biasanya juga dia paling bawel”
Drrrrttt..drrttt..
Blackberryku bergetar ada pesan masuk, segera ku buka.
“Aril kamu dimana?
Aku sudah setengah jam menunggumu?”
(Cut Diana)
‘Apaaa... Diana menungguku,
Segera kubuka sms lainnya yang belum terbaca. Dan sebuah
sms yang di kirim sekitar pukul 7 pagi tadi membuatku menepuk jidat.
“Aril, aku sudah
sampai di Banda. Aku ingin bertemu jam 9.30 nanti kita bertemu di tempat biasa
ya”
Allahu Akbar! Kenapa sms sepenting ini baru aku baca
sekarang. Segera ku dial nomor Cut Diana.
“Assalamu’alaikum, Aril” terdengar sapaan lembut di seberang sana.
“Wa’alaikum salam.. Di, maaf aku baru baca smsmu, kamu
tunggu aku ya setengah jam lagi aku sampai kok” ujarku cepat khawatir dia marah
karena kelamaan menunggu.
“baiklah, aku tunggu”
“aku merindukanmu sweetheart”ujarku. Namun Diana langsung mematikan teleponnya.
Hufftt.. sepertinya nanti aku harus siap dengan
kemarahannya.
Dengan terburu-buru, aku melangkah ke kamar mandi. Tak
butuh waktu lama bagiku di kamar mandi, dua puluh menit kemudian aku sudah siap
dan bergegas keluar kamar.
“ngak sarapan dulu Ril?” panggil Mama yang tengah duduk
di sofa.
Mama, aku menoleh mama tersenyum padaku meletakkan buku
yang tengah di bacanya. Alhamdulillah ya ALLAH akhirnya mama mau bicara kembali
denganku.
“Aril buru-buru Ma, ada janji” ujarku berjalan mendekati
mama.
“ya sudah, nanti makan siang di rumah atau di kantor?”
Aku tersenyum “ Aril ngak ke kantor hari ini Ma, nanti
Aril makan siang di rumah sama Aril mau mengenali seseorang kepada mama boleh?”
tanyaku hati-hati.
Mama terdiam menatapku, Duh, alamat mama marah besar nih,
aku mengerutuki mulutku yang langsung ceplos mengatakan meinginanku untuk
mengenalkan Diana pada Mama.
Namun perkiraanku meleset 180 derajat, saat mama
tersenyum mengangguk “iya boleh, bawa dia kemari”.
“Benar Ma, Alhamdulillah” aku tak dapat menyembunyikan
kegembiraanku.
“Kalau gitu Aril pergi dulu ya Ma, sebelum jam Makan
siang Aril pulang nanti, Assalamu’alaikum” ujarku serayan mencium telapak
tangan mama.
“Wa’alaikum salam, hati-hati nyetirnya”
“siip Ma”
***
Author
Setelah melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal,
akhirnya Nazril sampai di sebuah Cafe di daerah Ulee kareng. Cafe ini memang
tempat Aril dan Diana sering menghabiskan waktu masa kuliah dulu. Di kawasan
ini juga terdapat cafe yang menyediakan kopi aceh.
Dari pintu cafe, Nazril langsung dapat mengenali seorang
gadis yang mengenakan jilbab krem, yang
duduk di salah satu kursi menghadap ke jalan.
“Diana” panggil Aril serayan berjalan mendekat.
Diana tersenyum mengangguk, setelah Aril berada di
hadapannya mereka bersalaman.
“Apa kabar Ril?” tanya Diana.
“Baik Di, maaf aku terlambat” ujar Aril serayan duduk di kursinya.
Diana tersenyum mengangguk,
“kapan sampai dari jakarta?” tanya Nazril kemudian.
“kemarin sore”
Nazril tersenyum “hanya kopi saja?” tanya Nazril menunjuk
secangkir kopi di hadapan Diana.
“aku sudah sarapan, tapi bang Ramli sedang menyiapkan menu andalannya saat ku
katakan kita akan bertemu disini”
Nazril tertawa, bang Ramli bukanlah orang asing bagi
mereka. Bang Ramli pemilik cafe ini dan sudah bertahun-tahun Nazril dan Diana
menjadi langganan tetap di cafenya.
“oya, bagaimana kabar keluargamu di jakarta?”.
“Baik Ril, hanya Bapak baru keluarga dari RSCM beberapa
hari yang lalu”.
“Bapak sakit?”
Diana terdiam sesaat menatap Nazril, inilah saatnya ia
mengatakan kebenaran pada Nazril. “Iya Ril, Bapak harus menjalani operasi jantung”
Ujar Diana lirik menyembunyikan kesedihannya.
“Innalillah... kapan operasinya?”
“kata dokter paling lambat sebelum bulan depan harus
sudah di operasi, tapi beliau hanya mau di operasi jika...” Diana mengantung
kalimatnya mengatur nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak.
“jika apa Di?” tanya Nazril penasaran.
“Jika... jika aku segera menikah dengan Mas Dimas” ujar
Diana lirih namun masih dengan jels bisa di dengan oleh nazril.
“Apa... Di? “ tanya Nazril volume suaranya mulai meninggi
sehingga beberapa pengunjung cafe yang lainnya melirik pada mereka.
“Aku minta maaf Ril, kamu tahu kan bagaimana berjasanya
Bapak dan Ibu terhadapku semenjak kedua orang tuaku tiada aku tak mungkin
menolak keinginan mereka” Diana menatap Nazril penuh harap agar Nazril
mengerti.
“aku ngak ngerti Di, bagaimana mungkin kamu dan Dimas kan
bersaudara? Lelucon apa ini Di?” Nazril tertawa sinis raut matanya memancarkan
kegelisahan.
“ini bukan lelucon Ril, kami memang saudara tapi tak ada
ikatan darah sama sekali di antara kami, aku anak angkat Bapak dan Ibu Ril”
mata Diana mulai berkaca-kaca.
“baik, jika memang itu permintaan Bapak angkatmu kita kan
menikah” ujar Aril tegas.
“itu tidak mungkin Ril, Bapak memintaku menikah dengan
Mas Dimas dan bukankah kamu juga harus segera menikah dengan gadis yang di
jodohkan Mamamu”.
“aku telah membatalkan pertunangan itu Di, aku akan
menikah denganmu dan aku telah berjanji untuk membawamu menemui Mama hari ini”.
Diana menggeleng tak percaya, “kamu membatalkan
pertunangan yang di wasiatkan oleh kakekmu? “ Diana tahu walau Aril tak
menyukai perjodohan yang telas di atur keluarganya, Aril takkan begitu saja
menolak karena ia takkan pernah mau melepaskan perusahaan percetakan miliknya.
“iya Di, aku akan meyerahkan perusahaanku pada gadis itu
kita menikah dan bapakmu bisa menjalani operasi jantung”
“tidak bisa seperti itu Ril, Bapak hanya meminta aku
menikah dengan Mas Dimas mungkin ini juga akan menjadi permintaan terakhir
Bapak karena menurut dokter kemungkinan terburuk bisa saja terjadi saat operasi
nanti” Diana terisak.
“lalu bagaimana dengan kita Di? Apa hubungan yang telah
kita jalani selama delapan tahun ini tak berarti apa-apa untukmu Di?!” Nazril
menakup wajahnya frustasi matanya terasa perih menahan butir air mata.
“maafkan aku Ril, aku tidak bisa”.
“aku mencintaimu Di, dan apa kamu bisa menikah dengan
orang yang tidak kamu cintai” ujar Nazril.
“aku tahu Ril, aku tahu dan juga mencintaimu.. tapi cinta
dan kasih sayang yang telah di berikan Bapak dan Ibu lebih juga takkan pernah
bisa aku balas jika aku tidak mengabulkan permintaan mereka” Diana menyekat air
mata di pipinya “kamu tahu Ril, aku takkan mungkin bisa seperti ini jika tidak
di adopsi oleh Bapak dan Ibu, maafkan aku Ril” Diana hendak beranjak namun
Nazril mencekal pergelangan tangannya.
“Aku akan bicara dengan orang tuamu” kata Nazril.
“ Tidak Ril, aku mohon kita akhiri hubungan kita”
“aku tak bisa melepaskanmu begitu saja Di!’’
“kalau begitu aku yang akan melepaskanmu Ril, kita putus
dan maaf mungkin cinta kita bukanlah untuk memiliki” Diana mengeluarkan sebuah
kertas dari tasnya dan menyerahkan pada Nazril.
“apa ini?” tanya Nazril heran.
Ia membuka kertas bersampul merah jambu, dan isinya
membuatnya menatap Diana tak percaya “ini?
Sudah sejauh ini kah Di?”.
Diana mengangguk “maaf Ril, aku menikah minggu depan di
jakarta aku harap kamu bisa datang Assalamu’alaikum” Diana segera berlalu tanpa
mendengar jawaban Nazril yang masih diam terpaku melihat kertas undangan yang
di berikannya.
‘maafkan aku Ril,aku tahu kamu pasti kuat.. aku
mencintaimu’ bisiknya dalam hati menahan air mata.
Sementara itu Nazril masih diam mengenggam erat kertas
undangan yang di berikan Diana tadi, kertas undangan bagaikan racun yang telah
menghancurkan hati dan jiwanya. Lalu Ramli datang membawa napan berisi dua
piring mie kepitik andalan cafenya.
“maaf lama menunggu aneuk muda, assistenku sedang libur
jadi semua saya kerjakan sendiri” ujar Ramli serayan meletakkan Piring di atas
meja.
“Diana mana Ril?” tanya Ramli kembali saat melihat Nazril
hanya diam.
“pergi dan mungkin ini pertemuan terakhir kami” Nazril
menyodorkan kertas undangan yang telah kusut itu pada ramli.
Ramli membuka undangan itu dengan penuh tanya tanya, dan
aspresinya sama terkejutnya dengan Nazril saat membaca nama yang tertera di
undangan itu. Namun ia hanya mengangguk dan menepuk-nepuk bahu Nazril. Isyarat memberikan
semangat.
“jodoh rahasia ALLAH, tanyoe manusia Cuma bisa ikhtiar
Aneuk muda yang penteng bek sampe putoh asa” ucapnya.
Nazril mengangguk “loen pamit bang, Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikum salam”.
*****
Note : InsyaALLAH mendekati akhir ya... ^_^
Alue-Bilie, 25 Rabiul Tsani 1435 H (12.08)
Alue-Bilie, 25 Rabiul Tsani 1435 H (12.08)
(AFRI AZZAHRA)
Comments
Post a Comment