Love With Your heart,not yours eyes Bab 14


 
Autor
Look Around Yourselves
Lihatlah Di Sekitarmu
Can't You See This Wonder
Tidakkah Kau Lihat Keajaiban Ini
Spreaded Infront Of You
Yang Terpampang Di Hadapanmu
The Clouds Floating By
Awan Berarak
The Skies Are Clear And Blue
Langit Cerah Dan Biru
Planets In The Orbits
Planet Di Orbitnya
The Moon And The Sun
Rembulan Dan Mentari
Such Perfect Harmony
Harmoni Yang Sungguh Sempurna

Let's Start Questioning Ourselves
Mulailah Bertanya Pada Diri Sendiri
Isn't This Proof Enough For Us
Tidakkah Bukti Ini Cukup Bagi Kita
Or Are We So Blind
Ataukah Kita Begitu Buta
To Push It All Aside...
Hingga Mengabaikan Semuanya
No..

We Just Have To
Kita Hanya Perlu
Open Our Eyes, Our Hearts, And Minds
Buka Matamu, Hatimu, Dan Pikiranmu
If We Just Look Bright We'll See The Signs
Jika Kita Melihat Dengan Jelas, Kan Kita Lihat Pertanda
We Can't Keep Hiding From The Truth
Kita Tak Bisa Terus Sembunyi Dari Kebenaran
Let It Take Us By Surprise
Biarkan Semua Itu Mengejutkan Kita
Take Us In The Best Way
Membawa Kita Dengan Cara Terbaik
(Allah..)
Guide Us Every Single Day..
Bimbinglah Kami Tiap Waktu
(Allah..)
Keep Us Close To You
Dekatkan Kami Pada-Mu
Until The End Of Time..
Hingga Akhir Waktu

Look Inside Yourselves
Lihatlah Di Dalam Dirimu
Such A Perfect Order
Susunan Yang Begitu Sempurna
Hiding In Yourselves
Tersembunyi Dalam Dirimu
Running In Your Veins
Mengalir Di Pembuluh Darahmu
What About Anger Love And Pain
Bagaimana Dengan Rasa Marah, Cinta, Dan Sakit
And All The Things You're Feeling
Dan Segala Yang Kau Rasakan
Can You Touch Them With Your Hand?
Bisakah Kau Sentuh Semua Itu Dengan Tanganmu?
So Are They Really There?
Jadi Apakah Semua Itu Benar-Benar Ada?
(Maher Zain-Open Your Eyes)
--
Seperti makna syair dari Maher Zain, semuanya begitu jelas dan akan terlihat dengan sempurna jika kita mau mulai bertanya pada diri sendiri.. Tuhanmu telah mengatur segala sesuatunya dengan indah, walau kini kepahitan yang terasa Nisya percaya Sang Pemilik hati telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik baginya kelak.

Setelah malam dimana Bunda menjelaskan semuanya, Nisya berusaha untuk mengikhlaskan segalanya. Mungkin Nazril bukan jodohnya yang terbaik baginya dari ALLAH.

Bunda juga telah memberitahukan keputusan Nisya yang menyetujui pembatalan pertunangan ini kepada ibunda Nazril. Siang ini Bunda bersikeras memintanya menemani mengunjungi ibunda Nazril yang sedang sakit. Awalnya Nisya enggan mengikuti bundanya, namun bunda tak mau memeriksakan kesehatannya di RSU Zainal Abidin jika Nisya tak mau menemaninya mengunjungi ibunda Nazril.

“Pergi saja Sya, ngak ada salahnya kan tetap menjalin silahturahmi dengan keluarga Mak Cikmu itu”. Kata Mila saat Nisya menemuinya di kamar. Disana juga ada Nurma, bagi Nisya mereka berdua adalah saudara terdekatnya yang menjadi tempatnya berbagi selama ini.

“Aku belum siap Mil, jika boleh jujur aku merasa di permainkan oleh Nazril, aku kecewa kenapa dia menerima perjodohan ini jika pada akhirnya dia hanya akan menyakiti perasaanku”

“Nisya, kakak tahu ini sulit bagimu namun ingatlah ALLAH tak pernah memberikan cobaan di atas kesanggupan hambanya untuk mengatasinya.. jalan kamu masih panjang Sya jangan jadikan masalah ini sebagai benalu yang akan mengotori keihklasan hatimu, jika Sya sudah berusaha untuk ikhlas menerima semua ini maka tak ada alasan Sya membencinya”. Ujar Nurma.

Nisya terdiam, dalam hati ia membenarkan kata Nurma. ‘Ya ALLAH, maafku tak sebanding dengan lautan kemaafan-MU yang tak pernah kering’

Akhirnya Nisya menyetujui menemani Bunda mengunjungi Ibunda Nazril, sebelumnya mereka singgah di rumah sakit Zainal Abidin untuk memeriksa kesehatan Bunda.  Alhamdulillah tidak ada yang menghkawatirkan dengan kesehatan bunda, dokter berpesan agar bunda selalu mengurangi mengkonsumsi makanan yang menyebabkan penyakit bunda kambuh. Setelah keluarga dari ruang pemeriksaan Nisya meminta bunda menunggunya di koridor rumah sakit sementara ia menuju ke apotik untuk menebus obat bunda.

Antrian pengambilan obat di apotik lumayan ramai, Nisya segera berlalu setelah petugas apoteker memberikan kantung plastik yang berisi obat.  Karena tergesa-gesa Nisya tak terlalu memperhatikan jalan di depannya.  

Dan..

“brrukk..” bahunya bersenggolan dengan seseorang, spontan Nisya menoleh “maaf” ujarnya. Nisya menundukkan pandangannya ketika yang di tabraknya seorang lelaki juga menatapnya.

“saya juga salah, terburu-buru tidak melihat ke depan” ujar lelaki itu. Nisya mengangguk dan hendak berlalu namun baru dua langkah ia berlalu. Lelaki itu memanggilnya.

“Tunggu !“ lelaki itu berjalan mendekati Nisya.

Nisya menaikkan alis tanda tanya, siapa lelaki ini?

“ada apa?” tanya Nisya.

“eemm.. aku rasa kita pernah bertemu sebelumnya” ujar lelaki itu.

Nisya menoleh merasatak mengenali lelaki ini “maaf sepertinya anda salah orang, saya permisi”

“tidak tunggu dulu! Saya tak mungkin salah orang eem.. kamu pernah shalat magrib di masjid baiturrahman kan?” lelaki itu masih terus menatap Nisya.

Nisya merasa tidak Nyaman di tatap seperti itu,, Nisya menunduk, dia memang sering shalat di masjid baiturahman tapi apa hubungannya dengan lelaki ini.

“ eemm.. begini, kamu masih ingat sekitar sebulan yang lalu usai shalat magrib di masjid baiturrahman di tangan masjid aku hampir terpeleset” jelas lelaki itu yang tak lain adalah adalah Nazril. ‘ nih cewek kenapa nunduk aja dari tadi gimana ngejelasinya’ gerutunya dalam hati.

Nisya baru menginggatnya, walau ia tak ingat wajah lelaki ini lelaki ini yang menolongnya saat itu. Bayangan saat ia hampir terpeleset di tanggan masjid membuatnya malu. 

Dddrrrrttt... 

Deringan handphone di tasnya membuyarkan lamunan Nisya. “Maaf, saya buru-buru Assalamu’alaikum” Nisya segera berlalu dengan berlari kecil. Bunda pasti sudah lelah menunggunya.

Nazril memanggilnya lagi, tapi Nisya tak menoleh lagi. hingga blackberry Nazril berdering Nazril menganggkatnya “Iya Dee, tunggu sebentar aku masih di apotik”.

***
Nisya memarkirkan motor di depan sebuah rumah besar dengan gaya minimalis. Ya.. saat ini ia telah berada di depan rumah kediaman keluarga Pak Cik Yusuf. 

“Nisya kenapa masih di situ ayo ‘’ ujak bunda yang telah berjalan beberapa langkah di depan Nisya.  Setelah melaporkan pada Satpam yang berjaga di pintu pagar tadi, mereka di antar  menuju pintu depan. Penjagaannya ketat juga, Nisya baru ingat, menurut bunda Pak Cik Yusuf adalah salah seorang pejabat di instansi gubernur Aceh. 

Di depan pintu, satpam tersebut menekan bel dan tak lama kemudian seorang perempuan yang di yakini Nisya sebagai pembantu di rumah ini membuka pintu.

“Bik Isah, ini Ibu Aisyah ingin bertemu dengan Ibu Maryam” ujar satpam.

“ohh.. iya, mari silahkan masuk bu, ibu Maryam sudah menunggu ibu dari tadi” ujar Bik Isah.

“terima kasih, ayo Sya..” bunda memegang tangan Nisya.

“Assalamu’alaikum” ujar Nisya dan bunda saat memasuki rumah yang bisa di bilang mewah itu.

Di ruang tamu Nisya melihat Dhea berjalan kearahnya dan bunda. 

“Kak Nisya, bunda” ujar Dhea dengan senyum ramah. Ia memncium tangan bunda dan memeluk Nisya.

“ayo Bunda, kak.. Mak Cik menunggu  di kamar.. beliau masih kurang sehat” ajak Dhea.

Bunda dan Nisya mengikuti Dhea masuk ke dalam sebuah kamar. Di atas sebuah tempat tidur Mak Cik Maryam terbaring dengan kepala menyangah pada kepala tempat tidur.

“Assalamu alaikum” ucap bunda dan Nisya.

“Wa’alaikum salam.. Aisyah.. Nisya..” ujar Maryam lemah.

Bunda mendekat bersalaman dengan Mak Cik Maryam dan duduk di bangku yang berada di sebelah Mak Cik Mayam. Nisya mencium telapak tangan Mak Cik Maryam.

“maafkan kami Nisya, Mama.. benar-benar merasa bersalah padamu atas sikap anak mama” ujar Ibu Maryam.

Nisya merasa tidak enak, kenapa Mak Cik Maryam harus meminta maaf. “Nisya ngak apa-apa Maryam, sekarang yang penting itu kesehatanmu. Jangan terlalu banyak pikiran biar cepat sembuh” kata bunda yang seolah mengerti ketidak nyamanan Nisya.

“bagaimana aku bisa tenang Aisyah, putra yang selalu ku bangga-banggakan malah mengecewakanku malu aku Aisyah” Mak Cik Maryam mulai meneteskan air mata.

“sudahlah Maryam, tak perlu di sesali mereka sudah dewasa dan sudah bisa memilih, kita tak bisa memaksakan kehendak pada Nazril karena kita orang tua selalu menginginkan yang terbaik buat meraka kan? Jadi biarkan dia dengan pilihannya’’. Bujuk bunda.

“apa benar kamu sudah mengikhlaskan semuanya Nisya?” tanya Bu Maryam pada Nisya serayan memegang tangan Nisya.

Nisya mengangguk “Nisya Ikhlas Mak Cik, Mak Cik jaga kesehatan ya” 

“tetap panggil Mama Sya, Nisya tetap anak Mama “ 

Nisya tak menahan air matanya melihat kelembutan dan kasih sayang yang di berikan ibunda Nazril padanya. “iya Ma”

“eemm.. keasyikan ngobrol, Dhea sampai lupa membuat minuman, Dhea permisi buat minuman dulu ya Bunda” ucap Dhea. 

“Aril sudah pulang Dee?” tanya Mak Cik Maryam.

“belum Mak Cik”. 

Setelah Dhea keluar, bunda menanyakan tentang kesehatan Mak Cik Maryam, Mak Cik maryam menjelaskannya tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Nisya. Dalam hati Maryam  berdoa lirih ‘Ya ALLAH salahkah jika aku mengharapkan gadis ini untuk menjadi menantuku’. 

Tiba-tiba terngorokannya terasa kering dan terbatuk, 

“uhukk..huk...” 

Bunda mengambil gelas di atas nakas, airnya tinggal sedikit lagi, setelah meminumkan airnya ke maryam. Bunda meminta Nisya memgambil air di dapur.

Nisya segera keluar membawa gelas menuju ruang makan, namun langkahnya terhenti ketika samar-samar ia mendengar percakapan di dapur. Nisya melihat dengan jelas Dhea berbicara dengan seorang laki-laki yangmembelakanginya.

“Aril akan menyesal jika melepaskan Kak Nisya, dia gadis yang baik “ ujar Dhea.

“Aku tak akan menyesal Dee, aku tak pernah menyukainya harus berapa kali lagi aku katakan aku tidak menyukainya” ujar lelaki itu yang di yakini Nisya sebagai Nazril. 

Nazril yang di kenalnya saat kecil dulu, namun perkataan Nazril barusan terasa menohok hatinya. Begitu bencikah Nazril padanya.

“lalu maunya Aril sekarang bagaimana? Lihat Mak Cik sampai sakit memikirkan sikapmu” kata Dhea.

“Aku sudah bicara dengan Mama Dee, Semalam Mama sendiri yang bilang kalau dudut sudah menyetujui pembatalan pertunangan ini” 

“jelas Kak Nisya setuju, perempuan mana yang mau di permainan seperti yang Aril lakukan”

“mempermainkan apa Dee, aku tak merasa mempermainkan gadis itu”.

“haah.. tidak mempermainkan apanya? Secara tidak langsung Aril telah mempermainkan perasaan Kak Nisya dengan membatalkanertunangan kalian”.

“sudahlah Dee aku tak mau membahas masalah ini lagi, aku tak pernah tertarik dengan gadis itu”

“itu karena Aril belum ketemu dan tidak mengenal sosok Kak Nisya”.

“aku sudah mengenalnya Dee, dia teman masa kecil tercengeng yang pernah kumiliki”.

Dhea menghela frustasi, harus bagaimana menjelaskan kepada sepupu terkolotnya ini “Masa kecil jelas berbeda Aril,...”

“Nisya kenapa lama sekali mengambil airnya?” Perkataan Dhea terhenti saat Ibu Aisyah sudah berdiri di samping Nisya.

Nisya gelagapan entah sejak kapan matanya mulai berkaca-kaca. Sementara itu Nazril dan Dhea terkejut mendapati Nisya dan Bunda. 

“Kak Nisya, sudah lama di situ?” tanya Dhea.

“Nisya?” tanya Nazril heran ia menatap Nisya, bukankah gadis ini yang di temui di masjid baiturrahman dan di apotik tadi.

“aa... Mama.. aa. Mak Cik Maryam mau minum tadi, ini” Nisya menyerahkan gelas di tangannnya pada Dhea.

Sementara itu Nazril masih terpaku melihat Nisya. “kamu...kamu Nisya?” tanyanya lagi.

Nisya mengangguk, 

Nazril menoleh pada Ibu Aisyah “bunda.. kapan datang?”

“sudah beberapa hari Aril, Aril sehat?’’ tanya Ibu Aisyah ramah.

“Alhamdulillah Bunda” 

Dhea membawa napan berisi minuman, “Bunda, kak Nisya minum dulu”.

“terima kasih Dhea, Bunda kita pulang sekarang yuk’’ ajak Nisya.

“lho, kok langsung pulang kak? Tadi Mak Cik sudah meminta Bik Isak menyediakan makan siang’’.

“maaf Dhea, tapi tadi kami pinjam motor Mila tidak enak kelamaan pulang”

“iya Sya, kita baru sampai tidak enak dengan Mak Cik maryam jika langsung pulang” imbuh Bunda.

Nisya mengalah untuk tetap berada di rumah Nazril. Mereka makan siang bersama, ibu maryam tanpa antusias menikmati makan siangnya. Nazril bersyukur akhirnya mamanya mau makan juga. Apalagi mamanya tak henti-henti bercerita tentang masa-masa kecil Nazril dan Nisya. Bicara soal Nisya, nazril melirik gadis yang duduk di hadapannya itu hanya menunduk diam sekali-kali bicara saat mama bertanya. 

“ngapain lirik-lirik Kak Nisya? Jangan bilang Aril nyesal telah membatalkan pertunangan kalian” bisik Dhea pada Nazril.

“berisik Dee..” ujar Nazril.
****
 Alue-Bilie, 23 Rabiul Tsani 1435 H (22.54)

NOTE :
Bab selanjutnya, Ada ada pertemuan Nazril dan Cut Diana... :)

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19