Love With Your heart,not yours eyes Bab 13


Bab 13
Flashback
Banda Aceh, 1996
“kakek ini gedung apa? Kenapa banyak mesin ketik dan tivi-tivi kecil?” tanya seorang bocah laki-laki yang berjalan di tuntun oleh seorang pria paruh baya.
“ini bukan tivi Nazril, tapi komputer gunakan untuk mengetik sama seperti mesin tik dan itu namanya mesin cetak” jelas kakek. “Nazril, dengerin kakek baik-baik ya”lanjutnya.
Nazril kecil mengangguk.
“suatu hari nanti kantor ini akan menjadi besar dan menjadi salah satu percetakan terbaik di Banda, dan kelak Muhammad Nazril Akim cucu kesayangan kakeklah yang akan memimpin usaha ini”.
“kakek mau kemana? Nazril tidak mengerti tentang mesin itu kek”.
“Kelak Nazril pasti mengerti, kakek takkan selamanya bisa menemani Nazril”
“jadi  kakek akan meninggal juga seperti Ayahnya Dudut?” tanya Nazril polos.
Kakek tersenyum mengendong Nazril “ umur manusia tiada yang tahu Ril, tapi kakek ingin Nazril ingat satu hal”
“apa itu kek?”
“Kelak Nazril harus menjaga Nisya ya”
Spontan Nazril menggeleng “Aril ngak mau Kek, Dudut itu susah di bilangin bisanya Nangis aja” celetuknya.
Kakek tertawa “Nisya itu perempuan dan Nazril laki-laki kelak Nazril lah yang akan menjaga dan melindungi Nisya dari orang-orang jahat “
Nazril diam menyimak penjelasan kakeknya.
“Karena Nisya juga cucu kakek sam seperti Nazril dan kakek ingin cucu-cucu kakek hidup bahagia, dan kalianlah yang akan meneruskan usaha percetakan ini”. Lanjut kakeknya.
“kenapa dudut harus ikutan? Nazril ngak mau kalau ada dudut kakek tahu kan, Dudut itu Cerewet dan cengeng”
Tawa kakek kembali terdengar tangannya mengelus-elus sayang kepala cucunya. “Nazril, Nisya juga mempunyai hak atas usaha ini karena ini juga miliknya jadi kelak Nazril harus memberikan haknya ya”
“Aril tak mengerti Kek”
“suatu hari nanti cucu kakek ini akan mengerti”
***
Flasback End
Nazril menangkup wajahnya dengan gelisah, sudah dua hari sejak Mamanya tak sadarkan diri, Ibu Maryam tak mau menemuinya beliau tak mau keluar dari kamar. Makanan yang di bawa Dhea ke kamar tak pernah beliau sentuh.
“Ngak jadi ke kantor Ril?” tanya Dhea yang sudah berdiri di samping Nazril.
“gimana keadaan mama, Dee..?”
Dhea mengehela nafas, “Mak Cik hanya mau makan beberapa sendok saja”.
“Aku harus bagaimana Dee..?”tanya Nazril serba salah.
“turuti keinginan Mak Cik”.
“untuk itu aku ngak bisa Dee”
“heem.. ya sudah terserah padamu saja, lebih baik kamu berangkat ke kantor “ ujar Dhea, ia malas melanjutkan pembicaraan dengan Nazril. Bagaimanapun Nazril masih tetap keras kepala dengan pilihannya kepada Cut Diana.
Nazril langsung pergi tanpa mengucapkan salam.
****
Nisya Azzahra
Setelah turun dari labi-labi aku segera menyusuri lorong menuju rumah kost dengan berjalan kaki. Ku atur langkah secepat mungkin tak sabar untuk segera sampai di rumah. Tadinya aku masih ingin mengikuti pengajian di Mushala kampus tapi telepon dari Mila membuatku berubah pikiran untuk segera pulang. Kali ini bukan karena Mila lupa membawa kunci rumah lagi tapi kedatangan Bunda yang mendadak.
“Assalamu’alaikum” ucapku sesampai di depan pintu rumah yang sedikit terbuka.
“Wa’alaikum salam” terdengar suara Mila dan Bunda hampir berbarengan.
Bunda tersenyum, aku segera berhamburan memeluk bunda.
“Bunda sehat?, kenapa mendadak datangnya?” tanyaku serayan mencium telapak tangan Bunda.
“Alhamdulillah, Bunda bosan di kampung saja, sudah lama juga tak mengunjungi kalian disini, iya kan Mila?”.
“Iya Bunda, Mila malah senang Bunda datang jadi tambah rame” ujar Mila.
“bunda sudah makan siang?” tanya Nisya.
“belum Bunda nunggu Sya pulang dulu biar bisa makan bareng”. Jawab bunda.
“kalau begitu ayo kita makan dulu Koki Mila sudah memasak masakan spesial untuk Bunda tadi” sambung Mila bersemangat.
Sontak Bunda dan Nisya tertawa.
Kamipun menikmati makan siang dengan menu sederhana ala Mila.
***
Bulan bersinar terang malam ini, aku duduk menatap langit dari jendela kamar. Malam selalu indah jika rembulan hadir memancarkan cahayanya,
“Sya belum tidur?” suara Bunda membuyarkan lamunanku.
Kulihat bunda sudah bangun, jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
“Bunda terganggu ya, maaf ya Nda’’ ujarku merasa bersalah. Bunda pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari kampung.
“ ngak, bunda memang biasa bangun jam segini kan?” jawab bunda senyuman terpancar di wajahnya. ALLAH senyuman Bunda seolah menjadi kekuatan bagiku untuk terus menjadi anak yang terbaik baginya.
“Ada yang Sya fikirkan?”
“tidak bunda”
“Sya, bunda boleh tanya sesuatu pada Sya?”
“apa bunda?’’ tanyaku bingung.
“dulu saat menerima lamaran dari keluarga Nazril, alasan apa yang membuat Sya akhirnya menyetujui pertunangan ini?”
‘Ya ALLAH, kenapa Bunda mempertanyakan hal ini. Haruskah ku jelaskan semuanya pada bunda’.
“Bunda, bunda kenapa bertanya seperti itu?” tanyaku hati-hati.
“Maafkan Bunda Nak, seharusnya dulu bunda menanyakan kesiapanmu dulu sebelum Bunda memaksakan Sya untuk menerima pertunangan ini” ku lihat raut penyesalan tergambar di wajah bunda.
“Bunda tak memaksa Sya, Sya sendiri yang menerimanya bunda” belaku. “Nda, awalnya Sya memang merasa berat untuk menerima perjodohan ini karena bagi Sya masih terlalu dini untuk memikirkan pernikahan Sya Masih ingin terus bersama Bunda, membahagiakan bunda tapi melihat kebahagian di wajah bunda Sya tak tega untuk menolaknya, namun akhirnya Sya memiliki keyakinan yang kuat untuk menerima perjodohan ini setelah istikharah bunda”.
“jadi Sya Ikhlas menerima perjodohan ini?”
“InsyaALLAH, Sya Ikhlas lahir batin Nda. Bagi Sya apapun yang menjadi pilihan Bunda pasti yang terbaik bagi Sya, karena Sya yakin Bunda juga selalu menginginkan yang terbaik bagi Sya”. Ujarku “bunda..bunda kenapa menangis?” kulihat air mata mulai membasahi pipi bunda. Bunda memelukku.
“maafkan Bunda Sya” lirih suara bunda.
“bunda, ada apa sebenarnya?” aku merasa ada yang di tutup tutupi oleh bunda.
“Sya, bunda harap kamu tak sakit hati nantinya ya Nak”
“InsyaALLAH, tidak bunda”
“Beberapa minggu yang lalu Nazril datang menemui bunda di kampung”. Ucap bunda.
“Nazril?”
“iya, Nazril Putra Mak Cik Maryam” bunda menghela Nafas aku menunggu dengan sabar bunda melanjutkan ceritanya “ Nazril datang untuk.. untuk meminta membatalkan pertunangan kalian”.
“Apa??” aku tak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahku saat ini. ‘Nazril membatalkan pertunangan denganku? Kenapa?’
“seharusnya Bunda dan Mak Cik Maryam lebih peka dengan perasaan kalian sebelumnya sehingga tak meyakiti hati kalian”
“maksud Bunda?”
“tanpa sepengetahuan Keluarga Mak Cik Maryam, Nazril ternyata sudah memiliki seorang gadis yang di cintainya Sya, dan dia meminta maaf tak bisa melanjutkan pertunangan kalian karena sejak awal yang kekeuh melamarmu bukanlah Nazril melainkan Mak Cik Maryam”.
Penjelasan Bunda bagaimana belati tajam yang menusuk hatiku. Ya ALLAH, bagaimanapun aku juga wanita biasa yang memiliki harapan tentang pernikahan dan secara tidak langsung semenjak pertunangan itu walau kami belum bertemu harapan-harapan itu telah terpupuk dengan sendirinya. Dan kini tiba-tiba aku harus mengubur semua harapan itu.
“Sya, bunda harap Sya bisa mengerti ya Nak?” Bunda berkata lembut, ku tahu bunda menahan tangisnya.
Aku terdiam sesaat menatap cincin pertunangan yang sudah beberapa bulan melingkar di jari manisku.
“Aril memang tak pernah menyukai Nisya Nda, seharusnya Nisya sadari itu sejak dulu. Nisya juga takkan melanjutkan pertunangan ini lagi, Sudah cukup Aril terbebani dengan kehadiran Sya saat kami kecil dulu.. ya sejak di mata Aril Sya hanya gadis kecil yang merepotkannya”. Air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya bermuara juga di pipiku.
“Sya..”
“Sya, ngak apa-apa kok Bunda, Sya Baik-baik saja, bunda tak perlu khawatir ya” ku hapus air mataku dengan cepat dan ku pegang tangan bunda.
“Sya boleh membenci bunda karena bun..”
“ngak bunda, Sya takkan pernah bisa membenci Bunda. Bunda adalah Syurga Sya saat ini Sya tak mungkin membenci Bunda.. Sya sayang bunda” ku peluk Bunda dengan erat.
“Ya ALLAH, aku tahu Engkau Yang Maha Mengetahui atas segalanya, dan kini biarlah ku berpasrah hanya pada-MU’
***
22 Rabiul Tsani 1435 H (23.43)

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19