Love With Your heart,not yours eyes Bab 12



Nazril
 
Aku hanya merengut kesal, saat Dhea tiba-tiba datang ke kantorku memaksaku ikut dengannya. Dan kini disinilah aku di dalam mobil yang di kemudikan Dhea.
“Dee... kamu mau bawa aku kemana sih? Udah malam ini”. Gerutuku.
“udah, Abang Nazril diam aja dulu, biasanya juga pulang larut malam ngak ada masalah kan?” Dhea masih fokus menyetir.
“terserahlah, aku pusing”
“semua akan baik-baik saja jika Abang Nazril Akim tak pernah berniat membatalkan pertunanganmu dengan Kak Nisya”
“Deee.. please berapa kali lagi harus ku jelaskan, aku tak ingin menikah dengan gadis gendut itu”
Dhea dengan tiba-tiba menhentika mobil hingga tubuh Nazril condong ke depan, untung seatbeat terpasang dengan baik.
“Deee.. kenapa berhenti mendadak sih”. Jerit Nazril.
“kita udah sampai ayo turun” ujar Dhea datar sembari melepas seatbeatnya.
“sampai? Dimana ini” Nazril melihat ke luar jendela. Mobilnya berhenti di sebuah rumah sederhana tak jauh dari jalan raya. Ia mengeyirkan dahi “rumah siapa ini Dee?”
“udah tak usah banyak tanya ayo turun?” Dhea keluar dari mobil.
“aku tidak mau!”.
Dhea mendegus kesal, memutari mobil dan membuka pintu mobil.
“Aril please turun sekarang atau aku paksa!” ujar Dhea sembari berkacak pinggang di hadapan Aril.
“ini rumah siapa?” tanya Aril lagi
“Okee... ini rumah kost Kak Nisya” jelas Dhea.
“Nisya.. maksudmu gadis yang di jodohkan denganku itu?” Aril memicikkan mata tak percaya, ngapain Dhea membawanya kesini.
“Iya, setidaknya sebelum kamu memutuskan pertunangan kalian, kalian harus bertemu dan berbicara”
“Dee.. jangan bilang kamu sudah menyusun semua ini? Apa mama yang memintamu?”.
“Mak Cik Maryam tak tahu aku membawamu kesini, ini inisiatifku sebagai sepupumu aku tak ingin kamu meyesal di kemudian hari karena tak sempat mengenali Nisya”.
“aku takkan pernah menyesal, karena aku telah memiliki Cut Diana” kata Aril tegas.
“tidak ada yang dapat memastikannya Bang Nazril Akim, karena ikatan antara bukanlah ikatan pernikahan yang sah di mata ALLAH dan pacarmu belum tentu jodohmu”.
“okee.. stop it, aku tak ingin mendengar tausyiahmu saat ini”
“kalau begitu cepat turun dan ikut aku”
Dan mau tak mau aku terpaksa turun, berdebat dengan Dhea memang takkan pernah ada habisnya. Aku mengikuti Dhea memasuki halaman rumah tersebut, sempat terbesit di pikiranku bagaimana penampilan si gadit gendut itu setelah dua belas tahun tak bertemu.
Dhea mengetuk pintu berulang kali sembari mengucapkan salam, namun tak ada jawaban. Aku melirik jam di pergelanggan tangan sudah hampir memasuki waktu shalat isya. Dan aku mulai gerah karena belum pulang kerumah untuk menganti pakaian.
“ tak ada orangnya mungkin Dee..”. ujarku.
“biasanya jam segini kak Nisya udah pulang kalaupun tidak ada pasti ada Kak Mila atau Kak Nurma di rumah”
Seorang wanita yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kost Nisya menghampiri mereka. “maaf dek, nyari siapa ya?”
“saya mau bertemu Kak Nisya Nyak Wa” jawab Dhea.
“oww.. Nisya dan teman-temannya sudah berangkat ke sigli tadi siang” jelas wanita paruh baya tersebut.
“ke sigli?” tanya Dhea bingung.
“ada nomor hapenya? Coba di telpon aja dulu jika penting”
“iya Nyak Wa, Teurimong Geunaseh”
Wania itu hanya tersenyum mengangguk dan meninggalkan kami.
“..................”
Wa’alaikum Salam, Kak Nisya sedang tidak di rumah ya?”
“.....................”
“o.. tidak kak, kebetulan hanya ingin berkunjung saja tadi, kakak kapan kembali ke Banda?”
“.......................”
“Ya sudah kalau begitu kak, maaf menganggu Assalamu’alaikum”
Kemudian selang  beberapa detik, Dhea sudah mengakhiri penggilannya.
“Kak Nisya tidak ada di rumah” Ujar dengan dengan kecewa.
“Sudah ku  prediksi rencanamu takkan pernah berhasil” ujarku bangga.
“ayoo pulang” Dhea  menuju mobil tanpa menghiraukan ucapanku.
Aku tersenyum dan mengikutinya menuju mobil.
“ngak mau nyetir lagi ne?” tanyaku saat melihat Dhea duduk di bangku penumpang.
“males” jawabnya singkat.
Aku hanya mengeleng-geleng kepala.
****
Tepat jam makan siang aku dengan tak sabaran mengendarai mobil menuju Bandara Sultan Iskandar Muda untuk menjemput pujaan hatiku Cut Diana. Senyuman tak henti-henti menghiasi wajahku. Email terakhir yang ku terima Pesawat yang di tumpangi Diana akan mendarat jam dua siang. Namun Diana tak mengetahui kalau aku akan menjemputnya, aku sengaja ingin memberikan kejutan padanya.
Setelah memarkir mobil aku bergegas menuju terminal kedatangan, dengan harap-harap cemas. Terbayang bagaimana ekspresi kaget dan bahagia Diana saat mengetahui aku langsung menjemputnya.
Namun hingga sejam menunggu Diana tak kunjung muncul di terminal kedatangan. Lalu tiba-tiba blackberryku bergetar ada panggilan masuk. Di layar tertera nomor yang tidak ku kenal.
“Assalamu’alaikum” ucapku setelah menekan tombol jawab di layar blackberry.
“Wa’alaikum salam...”
Suara itu, suara yang sangat ku hafal..
“Dianaa...” ucapku spontan.
“Iya, Aril ini aku Diana”
Nazril tersenyum senang “ kamu dimana? Sudah sampai dimana?”
“aku..aku transit di jakarta dulu Ri”
“Transit di jakarta? Kenapa kamu ngak ngabarin aku dulu?”
“maaf Ril, besok aku baru kembali ke Banda, sudah dulu ya besok jika sudah sampai di Banda aku kabari” Diana menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawabanku.
Hufft.. aku mendengus kesal, merasa di permainan oleh Diana. Kenapa dia tidak mengabarkan kepadaku terlebih dahulu jika akan transit di jakarta.
***
Author
Maryam ibunda Nazril, sangat terpukul begitu mendapatkan telepon dari sahabatnya Aisyah, Aisyah menceritakan kunjungan Nazril dan permintaan Nazril untuk membatalkan perjodohan Nazril dan Nisya. Hatinya sakit sekali mengetahui putra tunggalnya yang selalu di bangga-banggakan mempermalukannya di hadapan sahabatnya.
“Sudahlah Maryam, saya sudah mengerti itu permintaan Nazril dan kita tak mungkin memaksakan kehendak kita kepadanya” ucapan Aisyah tergiang-giang di pikirannya.
‘Ya ALLAH.. Abu maafkan Maryam yang tak bisa mendidik Aril dengan baik’ isaknya. Tangannya yang memegang gagang telepon gemetaran.
“Masya ALLAH, Mak Cik kenapa?” Dhea yang baru pulang terkejut mendapati Mak Ciknya terisak sembari memegang telepon.
“Nazril...Aril mana Dee?”
“Bang Aril masih di kantor Mak Cik, Mak Cik sakit?” Dhea memegang bahu Ibunda Nazril dan membimbingnya menduduki sofa.
“Hati Mak Cik sakit Dee, sakit sekali.. telepon Nazril sekarang suruh dia pulang” Ibunda Nazril masih terisak.
“Mak Cik, ada apa sebenarnya? Cerita sama Dhea”
“suruh Pak Cik dan Nazril pulang sekarang Dhea” jerit Mak Cik Maryam.
“iya..iya Dhea telepon sekarang, Mak Cik” Dhea segera menghubungi Pak Cik dan Nazril.
Setengah jam kemudian Pak Yusuf datang dengan paniknya, apalagi mendapati istrinya duduk di sofa dengan wajah di tekuk.
“ada apa Ma, Mama sakit?” tanyanya panik menghampiri istrinya.
“Ma... Mama kenapa?” kali ini Nazril datang dengan kepanikan yang sama seperti Papanya.
Ibu Maryam menatap Nazril dengan kemarahan yang sedari tadi di tahannya.
“Apa yang telah kamu lakukan Ril?” tanya Bu Maryam.
“Ma... ada apa ini?” tanya Pak Yusuf dengan nada lembut mencoba meredam emosi istrinya.
“Tanyakan kepada anak kita ini Pa, apa yang telah dia lakukan?” tegas suara Ibu Maryam.
Nazril terdiam mencoba mencerna ucapan Mamanya, matanya menatap Mama, Papa dan dhea bergantian dengan penuh tanda tanya.”Maksud Mama apa? Aril tidak mengerti?”
“Aril telah menemui Aisyah Pa, tanpa sepengetahuan kita dia telah membatalkan pertunangannya dengan Nisya!” ungkap Bu Maryam.
Pak Yusuf diam meraup wajah rasa serba salah mulai menghinggapinya, tadinya ia berniat untuk menyampaikan permintaan Nazril pada istrinya hingga kondisi kesehatan isterinya membaik. Namun ternyata istrinya telah lebih dahulu di beritahukan oleh Aisyah sahabatnya.
Sementara Nazril memilih duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Mamanya, menghela nafas mengatur kata-kata yang tepat untuk di sampaikan pada Mamanya. Karena dia juga tak ingin kesehatan Mamanya kian memburuk nantinya.
“apa mau mu sebenarnya Ril? “ tanya Ibu Maryam lagi.
“Maafkan Aril Ma, tapi Aril tak bisa melanjutkan rencana perjodohan ini” jawab Aril.
“kenapa Nak? Apa kamu lupa itu wasiat Almahum Kakek”
“Aril tahu Ma, tapi Aril tak bisa melakukan Aril.. Aril mencintai gadis lain” jelas Aril.
“jadi benar yang kamu katakan dulu Dhea?” tanya Bu Maryam pada Dhea yang duduk di sebelahnya. Dhea hanya mengganguk tangannya memegang erat tangan Bu Maryam, Dhea sangat mengerti kekecewaan yang di rasakan Mak Ciknya.
“Ma.. maafkan Aril, Aril tidak bisa melanjutkan perjodohan ini karena Aril hanya akan menikah dengan Cut Diana!”.ujar Aril tegas
“Aril..” tegur Papanya, Pak Yusuf Khawatir suara Aril yang mulai meninggi justru akan semakin memperkeruh keadaan, terutama keadaan isterinya yang belum bisa menerima keputusan Aril.
“Baik, jika itu maumu.. segera pertemukan Mama dengan gadis itu? Mama yang akan memintanya untuk mengizinkan kamu menikah dengan Nisya dan akhiri hubungan kalian.. Aril tega kamu Nak, mencoreng arang di wajah Mama dan Papa, membatalkan perjodohan dengan Nisya?”. Ibu Maryam berkata dengan suara bergetar menahan sesak di dadanya.
“Tidak Ma, Aril takkan pernah membiarkan Mama melakukan itu.. tidak akan pernah, Aril sudah bicara dengan bunda Aisyah dan beliau setuju untuk membatalkan perjodohan ini” suara Aril mulai meninggi.
Pak Yusuf menyadari kondisi yang tidak kondusif lagi segera memotong ucapan Aril “ Aril... jaga bicaramu, Papa yakin apa kosekuensi yang harus kamu terima jika kamu tetap menolak perjodohan ini?”
“Aril tahu Pa, dan Aril siap untuk segera menyerahkan kepemilikan kantor percetakan Mitra kepada anak Bunda Aisyah” tegas Aril.
“Ariil.....” spontan Bu Maryam Bangkit “ kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?”
“Aril sangat sadar Ma, “
“Ya ALLAH Mak Cik!” pekik Dhea manakala melihat Bu Maryam sudah tersungkur tak sadarkan diri..
“Aril cepat telepon Dokter”
****
Alue-Bilie, 21 rabiul Akhir 1435 H (22.45)


Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19