Love With Your heart,not yours eyes Bab 11



Sekembali dari rumah Ibunda Nisya, Nazril langsung menemui papanya di kantor dengan harapan sebagai sesama lelaki papanya bisa dengan mudah memahaminya. 

Ba’da Asar mobil yang dikemudikan Nazril sampai di depan kantor Gubernur Aceh, Nazril menuju salah satu gedung salah satu gedung staf gubenur, papanya bekerja di bagian pemeritahan. Sesampai di ruangan papanya Nazril, Nazril langsung meminta waktu pak yusuf untuk bisa berbicara.

“apa yang ingin kamu bicarakan Ril? Sampai harus datang langsung ke kantor papa, apa ada masalah di kantor?” ujar pak yusuf sembari meletakkan dokumen yang sedang di pegangnya.

“ada yang ingin Aril sampaikan pada papa, apa papa sibuk?” 

“tidak, tadinya papa berniat segera pulang sebelum menerima sms darimu, duduklah”
Aril segera duduk di sofa, diikuti papanya.

“Pa, Aril.. Aril baru saja pulang dari kampung” ujar Aril

“kampung?” Pak Yusuf memandang Nazril tak percaya, apa yang membuat putranya ini mau menginjakkan kakinya lagi di kampung setelah kematian mertuanya dulu.”ada apa Aril ke kampung?”

“Aril menemui Bunda Aisyah”

“Bunda Aisyah, ibunda Nisya?”

Aril mengangguk “ Aril minta maaf Pa, Aril telah memutuskan pertunangan dengan putri Bunda Aisyah”.

“Apa? Keenapa bisa Ril?” suara pak yusuf mulai meninggi tak percaya dengan penuturan putra tunggalnya.

“Maafkan Aril jika mengecewakan Papa dan Mama, tapi Aril tak bisa meneruskan rencana perjodohan ini hingga ke jenjang pernikahan” Aril memandang papanya mencoba mencari celah pembenaran atas keputusannya.

Pak yusuf menggeleng kepala “apa  yang membuatmu berubah pikiran?”

“sedari awal Aril tak pernah menyetujui rencana perjodohan ini Pa, hanya saja Papa dan Mama yang terus menerus memaksa Aril”

“Nisya gadis pilihan kakekmu, bahkan jauh sebelum kamu dewasa perjodohan ini telah di bicarakan dengan Almahum ayah Nisya”

“Aril tahu Pa, Mama sudah beribu kali mengulang kalimat itu, tapi Aril tak bisa membohongi hati dan perasaan Aril, Ada gadis lain yang Aril cintai”.

“jadi yang dikatakan Dhea itu benar?”

“Dhea? Apa dengan mengatakan sesuatu pada Papa?”

“iya, Beberapa hari yang lalu Dhea menemui papa di kantor dan mengatakan semua tentang gadis yang bernama Cut Diana”

“Dhea mengatakan apa saja pada Papa?”

Rasa was-was mulai menghinggapi Aril, apa saja yang telah di katakan Dhea kepada Papanya. Mengingat Dhea tak pernah menyukai sosok Diana bukan tak mungkin Ustadzah dadakan itu telah memblokade pemikiran baik tentang Diana pada Papanya.

“Aril, apa kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Pak Yusuf, tanpa menjawab pertanyaan Nazril.

“ Iya Pa, Aril sangat yakin”. 

“kamu sudah dewasa Ril, Papa sadar tak baik memaksakan kehendak kami sebagai orang tua padamu, tapi jika papa boleh berpendapat Nisya adalah calon pendamping yang baik bagimu selain karena Wasiat Kakekmu, sedari kamu kecil Papa selalu mendidikmu untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab jadi Papa harap apapun kosekuensi yang akan terjadi nantinya kamu harus siap terutama Mamamu, Papa harap kamu mengerti bahwa keputusan yang telah kamu ambil ini akan sangat mengecewakan Mamamu”

“Iya Pa, Aril siap dengan segala kosekuensinya terutama penolakan Mama”

“Iya..ya.. Walau kecewa, Papa sangat mengerti posisimu saat ini” Pak yusuf menepuk-nepuk pundak Nazril.

“Terima Kasih Pa, Aril tahu Papa selalu bisa mengerti Aril”

“tentu saja Papamu ini mengerti, Papa kan juga pernah muda” tawa Pak Yusuf mengema seketika di ikuti Aril.

“Lalu bagaimana dengan Mamamu?”

“nanti Aril akan bicara dengan Mama”

“Tidak, jangan sekarang Ril”

“Kenapa Pa, Lusa Diana akan kembali ke Aceh dan Aril ingin segera melamarnya”

“Apa kamu tidak memperhatikan keadaan Mamamu akhir-akhir ini Ril? Kondisi kesehatannya sedang tidak baik, biar nanti Papa saja yang bicara pelan-pelan dengan Mama”

“tapi sampai kapan Pa, sampai Aril harus menikah dulu dengan Nisya? Keburu Diana kembali ke Jepang Pa”

“Sabar anak muda, biar bagaimanapun kamu harus tetap menjaga perasaan Mamamu dan Keluarga Nisya”

“iya Pa” akhirnya Aril mengalah dengan pendapat Papanya.

Lalu Obrolan mereka berlanjut mengenai pekerjaan dan usaha percetakan yang di kelola Aril.

****
Fajar menyising, mentari perlahan-lahan mulai memacarkan cahayanya menghapus siluit awan gelap.
Usai Shalat Subuh, Nisya, Mila dan Nurma sudah mulai di sibukkan dengan berbagai aktifitas. Nisya di depan Laptopnya mencek ulang Proposal yang harus di serahkan kepada Penasehat Akademiknnya pagi ini. Mila sedang menyetrika Pakaian di ruang tengah sementara Nurma menyiapkan sarapan. 

“Sya, sarapan dulu yuk, udah kakak bikini nasi goreng” Ujar Nurma yang sudah berdiri di depan pintu kamar Nisya yang terbuka.

“Iya Kak, nanti Nisya pake Printernya ya buat ngeprint” 

“Iya”

Mereka kemudian sarapan bersama dengan suasana penuh keakraban. Walau kadangkala menu yang mereka nikmati sangat sederhana ala anak kost namun tak pernah membuat mereka mengeluh apalagi bosan, hampir empat tahun bersama keakrabat diantara mereka sudah seperti dengan keluarga sendiri. Nisya Merasa sangat beruntung bisa di pertemukan dengan orang-orang yang memiliki jiwa sosial tinggi seperti Nurma, hayati dan Mila. Namun sudah sebulan ini mereka hanya tinggal bertiga, Hayati telah kembali ke kampung halamannya untuk mempersiapkan pernikahannya.

“Sya, nanti pulang jam berapa? Kita jadi kan berangkat bersama ke sigli” tanya Kak Nurma usai mereka semua menikmati sarapan.

“ ya jadilah kak, Sya ngak mau ketinggalan momen penting dalam hidup kak hayati, InsyaALLAH sebelum Dhuhur Sya udah ada di kost kak” jawab Nisya Antusias.

“heem.. jadi penasaran seperti apa ya  calon suami kak hayati itu?”ujar Mila sembari senyam senyum.

“Nah lho, kenapa jadi penasaran, bukannya Mila udah pernah ketemu dengan Akhi Darwis?” jawab Kak Nurma.

“ketemu tapi dari jarak jauh sama aja kak, ngak bisa ngenalin? Lagian belum ketemu langsung udah keburu di telepon Nisya Azzahra yang tiba-tiba minta di jemput di Masjid Raya”. Celetuk Mila.

Nisya memandang Mila dengan mimik permintaan maaf, sore itu setelah shalat asar Nisya mau langsung pulang, tapi saat melewati pustaka Baiturrahman yang masih berada dalam lingkungan Masjid ia membatalkan niatnya untuk pulang, Nisya lalu memilih membaca buku yang di sediakan disana sampai azan magrib berkumandang. Usai Shalat hujan deras menguyur kota Banda Aceh, akhirnya Nisya menunggu hujan reda di teras masjid. Setelah hujan reda Nisya baru menuruni anak tangga masjid. Saat di tangga terakhir karena licin kakinya hampir terpeleset kalau saja tak ada yang memegangi tangannya. Dan Nisya mengingat kembali bagaimana kagetnya dia saat seorang lelaki yang tak di kenalnya memegang tangannya.

“maaf, “ ucap lelaki itu serayan melepaskan tangannya.
Nisya juga mendengar lelaki itu memanggilnya saat ia telah menuruni anak tangga. Bukannya berhenti Nisya malah langsung berlari dan segera menelpon Mila tepat di depan pintu gerbang Masjid.
“aamboii.. jauhnya beranggan Nisya Azzahra ini, ingat tunangan kah?” celetuk Mila membuyarkan Lamunan.
“haa.. apaan sih kamu Mil” Nisya jadi salah tingkah ketahuan melamun.
“habisnya dirimu tiba-tiba melamun sendiri”
“Mil, aku baru ingat saat itu Al-Qur’an syamil milikku hilang”.
“Hilang?? bukannya ada di kamarmu dan selalu kamu bawa kan?” ujar Mila serayan membantu Nurma membawa piring kotor ke dapur.
Sementara Nisya menuju kamarnya membawa keluar Al-Qur’an syamilnya.
“Nah, itu kan Al-Qur’an syamilmu Sya” Kata Nurma yang sudah kembali dari dapur diikuti Mila.
“ini Al-Qur’an baru kak, yang waktu jalan bareng Dhea ke toko buku, sedangkan yang hilang itu Al-Qur’an dari Sya Aliyah Dulu”. Nisya merasa bersalah baru menyadari keteledorannya, Al-Qur’an Syamil itu hadiah dari Bunda saat ia menjadi juara kelas di tingkat satu Aliyah.
“Ya ALLAH, Al-Qur’an itu hadiah dari bunda”
“sudahlah Sya, Ikhlaskan saja lagipula Sya Masih punya Al-Qur’an ini kan”bujuk Nurma.
“Iya Sya, bukankah tak baik mencintai suatu barang melebihi cinta kita pada-Nya, Siapa tahu kini Al-Qur’an milikmu di pegang oleh orang yang tepat” tungkas Mila.
“Orang yang tepat, maksudnya apa dek Mila?” tanya Nurma penuh selidik.
“Ya, semisal seseorang yang ingin belajar membaca Al-Qur’an tapi tak memiliki kemampuan untuk membelinya”. Iringin cengiran Mila.
“Kamu ini Mil, ada-ada saja pemikirannya” Nisya tersenyum
“yang dikatakan Mila ada benarnya juga Sya, InsyaALLAH akan ada hikmah dan berkah tersendiri, Wallahu Alam” Nurma membenarkan perkataan Mila “ Ayo.. pada siap-siap giih, ini sudah jam berapa? Ingat nanti siang kita akan ke sigli”
“Okee Sipp kakak” Ujar Mila.
****

Nisya sangat bersyukur Pengajuan Proposal skripsinya di terima Oleh Penasehat Akademiknya, dan hari ini juga ia telah mendapatkan Dosen pembimbing untuk menyelesaikan skripsinya. Nisya tak lupa mengabarkan bundanya di kampung bahwa mulai awal minggu depan ia akan mulai menyusun tugas akhirnya. Bundanya sangat senang dan berencana akan menemani Nisya di Banda setelah masa panen usai.
“Sya, udah siap? Kak Nurma udah nunggu di luar?” ujar Mila.
“iya udah Mil, tadi aku habis ngabarin bunda kalau aku mau ke sigli” Nisya segera mengenakan tas ranselnya yang menjinjinh sebuah plastik yang beris kado untuk Hayati.
“Bunda sehat?”
“Alhamdulillah Mil, InsyaALLAH setelah masa panen bunda akan kesini”
“Waah.. boleh-boleh itu Sya, udah kangen aku dengan masakan bunda”
“huss.. kamu ini, mikirnya makan mulu udah yuk ntar kesorean lagi kita berangkatnya”.
Di luar rumah, Nurma sedang memanaskan mesin motornya,
“Sya boncengan dengan siapa?” tanya Kak Nurma
“dengan siapa aja boleh kak”
“Dengan aku saja Sya, aku belum terbiasa melakukan perjalanan jauh seorang diri sedangkan Kak Nurma kan Sang Aktivis motor city” ujar Mila. Ikuti tawa semua.
“hah.. istilah apaan sih itu dek Mila Meutuah?” Nurma tersenyum kecut.
“hehee.. maaf kak, tapi Mila benar kan tiada diantara kita bertiga hanya kakak yang berani pulang dengan mengendarai motor ke Abya”
“udah kak, ngak usah di ladenin beuh cerita Mila ini, ntar kita ngak sampai-sampai ke sigli asyik nyangkut disini terus” kata Nisya.
Nurma dan Mila mengangguk setuju. Setelah mengunci pintu merekapun berangkat menuju kota sigli.
***
Mata hari mulai kembali keperaduannya ketika mereka sampai di rumah Hayati, di halaman depan yang telah di pasangi tenda mereka di sambut oleh kerabat Hayati.
“kakak-kakak silahkan masuk, kak Hayati ada di kamarnya” adik Hayati mempersilahkan mereka masuk.
Bagi mereka ini bukanlah kali pertama menginjakkan kaki di rumah Hayati, namun kali ini suasana rumahnya telah jauh berbeda. Di ruang tamu telah di hiasi dengan pelaminan rumoh Aceh warna merah dan pernak pernik khas Aceh lainnya.
“MasyaALLAH, Kak Nurma.. Nisya.. Mila.. akhirnya kalian sampai juga” Hayati segera menyalami dan memeluk sahabat-sahabatnya.
“Alhamdulillah kami ngak nyasar kesini kan kak? Tadinya agak pangling melihat tenda biru di depan dan hati bertanya pernikahan siapa” celetuk Mila. Nisya memberikan kode agar Mila tak berbicara asal ceplos mengingat seluruh keluarga Hayati ada disana. Namun Mila hanya cengegesan saja apalagi ketika adik hayati ikut menambah lelucon yang di ciptakan Mila.
“Sepertinya Mila bertemu teman yang pas disini Sya” Bisik Nurma pada Nisya.
Sayup-sayup azan magrib mulai terdengar, mereka segera bersiap-siap untuk melaksanakan shalat magrib dan ba’da magrib nanti akad nikah Hayati akan berlangsung di masjid yang tak jauh dari rumah Hayati.
Nisya dan Kak Nurma melaksanakan Shalat magrib di kamar adik Hayati, sementara Mila yang sedang berhalangan menemani Hayati di kamarnya. Mila memang tak pernah kenal kata lelah untuk bercerita, diantara mereka bertiga Mila paling sering berkunjung ke rumah Hayati jadi Wajar hampir seluruh anggota keluarga hayati mengenal Mila.
Usai Shalat Nisya melipat mukena yang ia kenakan, sementara Nurma berbaring di atas tempat tidur dengan masih menggunakan mukena.
“Lelah ya kak?” tanya Nisya
Nurma tersenyum “Ngak dek, kakak hanya sedang berfikir kadang manusia begitu kekeuh merencanakan dan merancang masa depannya dengan penuh ambisi, namun ALLAH selalu mempunyai cara tersendiri mengatur hamba-Nya dengan rencana yang telah lebih dulu di susun-NYA, karena DIA Tahu apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan”
Nisya tersenyum mendengarnya, ia tahu persis arah pembicaraan Nurma, Nurma pernah bercerita bahwa saat kembali ke kampung beberapa minggu yang lalu ia di lamar oleh anak pak geucik di kampungnya. Namun Nurma sulit menerimanya karena ia masih ingin fokus meyelesaikan pendidikan S2 nya.
“Sya, dulu apa yang membuatmu yakin untuk menerima tunanganmu kini?” tanya Nurma
Nisya mengela lesu “huff... kalau boleh jujur awalnya Sya menerima karena tak ingin mengecewakan Bunda dan Almahum Nek Yah Saleh dan keluarga yang sudah sangat baik pada Nisya namun setelah istikharah Sya baru memiliki keyakinan untuk menerimanya kak”.
Percakapan mereka terhenti saat handphone Nisya berbunyi, nama Dhea
“Siapa Sya?”
“Dhea”
“angkat saja dulu”
Nisya mengangguk dan segera menjawab panggilan Dhea
“Assalamu’alaikum” sapa Nisya mengawali pembicaraannya.

“Wa’alaikum Salam, Kak Nisya sedang tidak di rumah ya?”
“tidak, kebetulan kakak sedang berada di sigli ada teman yang nikah, memangnya ada apa Dhe?”
“eemm.. tidak, kebetulan Dhea saat ini di depan kos-an kakak, tadinya Dhea kira kakak ada di rumah”
Nisya memandang Nurma penuh tanya, ada apa Dhea malam-malam ke kos-annya tanpa mengabarinya terlebih dahulu. “apa ada yang penting Dhea?”
“o.. tidak kak, kebetulan hanya ingin berkunjung saja tadi, kakak kapan kembali ke Banda?”
“InsyaALLAH besok siang Dhea”
“Ya sudah kalau begitu kak, maaf menganggu Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Setelah Nisya menutup teleponnya, Mila masuk dan meminta mereka bersiap untuk menghadiri akad nikah hayati.
***
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (QS.Ar Rum:21)
Nisya tak henti-hentinya tersenyum haru saat menyaksikan prosesi sakral pernikahan antara Hayati dan Darwis. Ketika janji suci itu telah terucap ucapan syukur berguma dari seluruh hadirin yang memenuhi masjid.
“Sya, jangan khusyuk sekali liatin Kak Hayatinya”bisik Mila pelan.
Nisya  tersenyum”terharu”
“Terharu di tambah ingin segera seperti Kak Hayati juga kan?” cengir Mila.
“ iya, tapi keinginanku masih kalah dengan kekusyukan doamu tentang jodoh” sambung Nisya tanpa sepengetahuan Mila, Nisya sering mendengar doa Mila usai qiyamul laik
“Kamu...” ucapan Mila terpotong dengan tatapan peringatan untuk diam dari kak Nurma.
“udah yuk, itu di panggil Kak Hayati untuk foto bersama” ajak Nisya serayan menunjuk pada Hayati yang memanggil mereka dengan isyarat tangan”
***
Keesokan harinya mereka disibukkan dengan kegiatan membantu persiapan acara resepsi “Preh Linto Baroe” pernikahan Hayati. Nisya dengan suka rela membantu ibu-ibu mempersiapkan hidangan untuk penyambutan rombongan linto baroe, Hayati telah duduk di pelaminan seorang diri dengan balutan busana pernikahan Khas Aceh. Nurma di minta untuk mengabadikan momen-momen bersejarah bagi hayati dengan Handycam sedangkan Mila dan adik hayati sedari tadi sudah sibuk mendandani anak-anak kecil yang akan menarikan tarian Ranup lampuan, rencananya anak-anak tersebut akan menjadi penyambut Linto Baroe dan rombongannya.
“ dandanannya jangan menor-menor Mil, tetap tampilkan kesan wajah anak-anak mereka” pesan Nisya pada Mila.
“Tenang saja Sya”
Acara Preh linto baroe dan resepsinya berjalan lancar. Ba’da Dhuhur Nisya dan teman-temannya berpamitan untuk kembali ke Banda.
“Sya, nanti saat acara walimahanmu jangan lupa kabari kakak ya” ujar Hayati saat mereka berpamitan.
“InsyaALLAH, kakak pasti Nisya kabari dan wajib datang ya”
****
11 Rabiul Akhir 1435 H (23.35 WIB)

@afri_azzahra

Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19