Love With Your heart,not yours eyes Bab 10



Teriknya mentari mulai menyegat kala Nazril menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Tanpa membuka kaca mobil Nazril melihat suasana sekitar yang asri, pandangannya tertuju pada sebuah rumah sederhana bercat coklat muda , di liriknya kertas alamat yang sedari tadi di genggamnya.
“Alamatnya benar, tapi kenapa bentuk rumahnya berbeda?” decaknya penuh keraguan.
Di keluarkan Blackberry dari sakunya, mengentik sebuah nama panggilan di kontak telepon.
Tuuut...tuut..tuut....
Tiada jawaban dari seberang sana, 
Tuuut...tuu..tuut...
Hingga berkali-kali ia melakukan panggilan tapi pemilik nomor yang di tuju tak kunjung mengangkat teleponnya.
“hufft.. Dhea kemana sih, itu anak pasti masih ngambek gara-gara kejadian beberapa hari yang lalu” degusnya.
Akhirnya Nazril memutuskan keluar dari mobil ketika melihat seorang wanita berjalan dengan mengandeng gadis kecil yang mengenakan seragam sekolah dasar lengkap dengan kerudung lucunya.
“Assalamu’alaikum Ummi” sapanya ramah, sungguh di luar kebiasaannya.
“Wa’alaikum salam” balas wanita tersebut dengan dahi berkerut penuh tanya, namun mencoba untuk tersenyum ramah.
“Meu’ah ummi, pue betoi nyo rumoh ibu Aisyah?”(1) 
“ow.. betoi”(2) jawab wanita itu.
“Alhamdulillah, pue gob nyan na di rumoh?”(3)
“munyo inohat hana Neuk, Kak Aisyah inohat mantong di kilang padee”(4)
“o.. meunan, man jioh kilang nyan dari sino ummi?”(5)
“hana, aneuk nyo soe ilee?”(6)wanita itu menatap Nazril penuh tanya.
“Loen Nazril dari Banda Na peurele dengon Ibu Aisyah”(7)
“Nazril, Nazril aneuk  kak Maryam?”(8)
Nazril terdiam, bagaimana ibu ini bisa mengenali mamanya. “Iya ummi, nama mama saya Maryam, ummi kenal mama saya?”
“Masya ALLAH, benar kamu Ril, Ya ALLAH sudah besar kamu Nak, tentu saja aku mengenal mamamu, aku ini inong anak Mak Nek” ujarnya antusias.
“Kak Inong?” gumam Nazril lirih mencoba menginggat.
“iya, yang sering mergoki Aril bertengkar dengan Sya” Inong tertawa.
Nazril tersenyum, dia ingat sekarang Kak inong ini yang selalu menjadi informan mama jika dia ribut dengan Nisya.
“Mak, itu wawak udah pulang?” ujar gadis kecil di sebelah inong.
Sontak Nazril dan Inong melihat ke arah jalan, dan benar saja seorang wanita paruh baya sedang berjalan menuju mereka. Nazril langsung mengenali wanita itu sebagai ibu Aisyah atau yang dulu biasa di panggilnya Bunda.
Saat jarak mereka sudah dekat, Inong berkata “Kak, ada tamu istimewa mau menemui kakak?”. 
“Siapa Nong?” tanya Ibu Aisyah serayan menatap Aril.
“ah.. kakak ini bagaimana, calon menantu sendiri tak kenal”
“Calon menantu? Maksudnya ini?”
Nazril tersenyum kagok mendengar pembicaraan dua wanita di hadapannya.
“Saya Nazril Bunda” ujarnya sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan ibu Aisyah.
“MasyaALLAH, benarkah ini Muhammad Nazril Akim?” tanya Ibu Aisyah serayan menerima uluran tangan Aril.
“Iya Bunda”
“ Ya ALLAH,Ayo masuk ke rumah saja, kita ngobrol di dalam, ayo inong sekalian mampir” 
“ Maaf kak, inong mau langsung pulang dulu, tadi baru jemput siti di sekolah”
“ow.. begitu”
“Ya udah kak, kami pamit dulu, Ril nanti singgah di rumah kakak ya, kakak tinggal di ujung gang depan sana” Ujar Inong.
“InsyaALLAH kak” jawab Nazril
Nazril mengangguk, serayan mengikuti Ibu Aisyah memasuki halaman rumah. Dan kini disinilah nazril di ruang tamu rumah sederhana milik ibu Aisyah, Ibu Aisyah sudah menghidangkan secangkir teh hangat untuk nazril di atas meja. 
“silahkan di minum ril” ujarnya
“terima kasih Bunda” Nazrilpun minum dengan perlahan.
“bagaimana kabar mama dan papamu Nak?” tanya bunda.
“Alhamdulillah baik Bunda” 
  Alhamdulillah, sudah lama sekali Aril tidak pulang ke kampung, tadi langsung dari banda Nak?” senyum tak henti menghiasi wajah bunda Aisyah membuat Nazril was-was untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
“ iya bunda, tadi jam 7 pagi dari banda”  jawabnya. 
Nazril terdiam beberapa saat hingga kemudian memberanikan untuk mengutarakan tujuan kedatangannya.
“eem... maaf bunda, maksud kedatangan Aril kesini karena ada yang ingin Aril sampaikan pada bunda” ujarnya.
“ada apa Nak? Kelihatannya penting sekali sampai Aril mesti jauh-jauh berangkat dari Banda” kerutan tanda tanya mulai menghiasi kening bu Aisyah.
Nazril jadi serba salah, di satu sisi ia tidak tega untuk mengungkapkan maksud kedatangannya pada wanita yang sudah di anggapnya seperti ibunya sendiri saat ia kecil tapi di sisi lain hatinya ia harus mengungkapkan kebenaran yang ada karna ia tak ingin terus membohongi semua orang dengan berpura-pura menerima perjodohan ini.
“m..maaf sebelumnya bunda, maksud kedatangan Aril kesini karena Aril ingin membatalkan pertunangan antara Aril dan Nisya” uajrnya mantap.
“apa Nak? Maksudmu?” raut terkejut jelas terlihat di wajah ibu Aisyah.
“Aril minta maaf bunda, sejak awal pertunangan ini semua atas kehendak mama, mama yang memaksa Aril untuk menerima pertunangan ini dengan alasan wasiat kakek dan saat itu Aril tak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua rencana yang telah di susun mama” ujar Nazril dengan tertunduk.
Bunda Aisyah menghela nafas berat, hatinya terasa sesak mendengar pengakuan anak Sahabatnya yang kemarin-kemarin menjadi sosok kebanggaannya sebgai calon menantunya. Tapi setelah mendengar penjelasan Nazril harapan yang telah ia tanamkan di pundak Nazril lenyap seketika. ‘ALLAH, ada apa di balik semua ini, bagaimana dengan Nisya nanti?’ gumannya.
“lalu sekarang maumu bagaimana nak?” Ibu aisyah masih berusaha untuk tetap tenang
“Aril ingin pertunangan ini di bantalkan bunda, maafkan Aril bunda tapi Aril harus jujur selama ini Aril telah memiliki seorang calon pendamping namun setiap Aril ingin mengenalkannya pada mama, mama tak pernah memberikan kesempatan”.
“apa kamu mencintai gadis itu Nak?” tanya bunda lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
Aril mengangguk “Iya bunda, aku mencintainya”.
“iya... mungkin inilah takdir ALLAH Nak, walau hati bunda sakit mengetahui ini semua tapi bunda tak ingin memaksakan kehendak jika kamu melakukan ini semua dengan terpaksa, Aril dan Nisya adalah anak-anak Bunda, kebahagianmu juga kebahagiaan bunda” 
“lalu bagaimana dengan Nisya?” tanya Aril hati-hati
Bunda mencoba tersenyum menghapus air matanya “Nisya, biar menjadi urusan bunda, InsyaALLAH dia gadis yang kuat walau dulu kamu sering mengatakannya cengeng”
Nazril tersenyum mendengarnya.
“Apa mama dan papamu sudah tahu dengan keputusanmu ini Nak?”
“Aril sudah memberitahu mama bun, tapi mama tak mau mendengarnya”
Bunda Aisyah mengangguk paham, ia sangat memahami karakter Maryam sahabatnya itu. 
“Perjuangkanlah cintamu Nak, namun bunda berpesan jangan pernah lukai hati mamamu, mintalah keridhaan mamamu karena surgamu selalu di telapak kakiknya” 
“iya bunda” hati nazril di penuhi keharuan melihat kelapangan dada bunda, padahal sebelum kesini ia sudah mempersiapkan resiko terburuk yang mungkin akan di lakukan bunda Aisyah padanya. 
“kalau begitu Aril pamit dulu bunda, sekali lagi Aril minta maaf atas keputuan Aril yang mengecewakan semua” 
Bunda Aisyah hanya mengangguk, Aril berdiri menyalami bunda Aisyah, Bunda Aisyah menepuk-nepuk pundaknya.
“bunda doaka kamu bahagia selalu Nak” 
“Aamiin terimah kasih bunda”
“Sampaikan salam Bunda pada mama dan papamu”
“Iya Bunda, Aril Pamit Assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam”
Bunda aisyah menatap kepergian Nazril menuju mobilnya dari pintu depan rumahnya. Setelah mobil nazril menghilang dari pandangannya, ia masuk kedalam rumah langkahnya terhenti di depan sebuah foto yang tertempel di dinding. 
Mencoba tersenyum menatap Foto seorang pria yang sedang bercerkrama dengan seorang gadis kecil dan anak laki-laki yang berusia dua belas tahun.
“Mungkin mereka memang tidak berjodoh Abua”. Ujarnya.

-------
Keterangan :
(1) maaf bu, apa benar ini rumah ibu Aisyah?
(2) iya, benar.
(3) Alhamdulillah, apa beliau ada di rumah?
(4) kalau sekarang tidak ada nak, Sekarang Kak Aisyah masih di kilang padi.
(5) o.. begitu, apa kilangnya jauh dari sini?
(6) tidak. Anak ini siapa?
(7) saya Nazril dari banda, ada perlu dengan ibu Aisyah
(8) Nazri, Nazril Anak Kak Maryam?

Alue Bilie, 26 Rabiul Awal 1435 H (13.00)





Comments

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19