Love With Your heart,not yours eyes Bab 9
Dhea memasuki rumah keluarga Yusuf dengan perasaan
khawatir, apalagi setelah menerima telepon dari Mak Cik Maryam. Setelah
memberikan tasnya pada Bik Isah, Dhea menanyakan keberadaan ibunda Nazril,
“Bik, Makcik dimana?”
“ibu, ada di kamar nyak”.
Dhea menggangguk dan segera menuju kamar yang sudah
sangat di hapal di mana letakknya.
“Assalamu’alaikum Mak cik” ucapnya setelah membuka pintu
perlahan, di lihatnya Mak Cik Maryam
sedang duduk di tempat tidur serayan memegang sebuah foto.
“Wa’alaikum salam, Dhea kemarilah ” Mak cik maryam
tersenyum, namun ia gagal menyembunyikan raut kekecewaan di matanya.
Dhea menghampiri Mak cik maryam dan duduk bersisian di
pinggir tempat tidur, “Mak cik kenapa?” tanyanya khawatir sekilas di liriknya
foto di tangan mak cik maryam foto nazril
kecil dengan Alm. Kakek dan seorang gadis kecil yang tidak di kenalinya
Mak cik maryam tersenyum “Dhea tahu gadis kecil
ini siapa?” ujarnya serayan menyodorkan foto di tangannya pada Dhea.
Dhea melihatnya dengan seksama dan menggeleng tanda tak
tahu.
“ gadis kecil ini Nisya, foto ini di ambil dua belas
tahun yang lalu tepat di hari raya terakhir bersama kakek di kampung”.
“Kak Nisya Azzahra, maksud mak cik tunangan Aril...ee.
abang aril?”Dhea tersenyum, menyadari kebiasaannya yang tak pernah memanggil
nazril dengan panggilan abang.
Mak cik maryam menggangguk, senyum terukir di wajahnya.
“Saat itu, Kakek begitu ingin menjodohkan mereka berdua
melihat kedekatan mereka berdua, Nisya dan Aril bagaimana air dan minyak yang
walau selalu bersama namun tak pernah menyatu dimana ada Aril pasti ada Nisya,
Mak Cik tahu setelah dewasa Aril punya pilihan sendiri tentang pendampingnya,
tapi salahkan jika Mak Cik dan Pak Cik menyatukan mereka berdua dalam ikatan
pernikahan sesuai dengan wasiat kakek” Mak Cik Maryam menghela nafas panjang.
“Wasiat kakek? Maksud mak cik, Almahum Kakek menulis
surat wasiat tentang perjodohan Bang Aril dan Kak Nisya?”
“Iya Dhea, kakek menulis dua surat wasiat, yang pertama
tentang perjodohan mereka namun Mak Cik
tak bisa memberi tahu isi surat wasiat selanjutnya sebelum Aril menikahi Nisya”
“Sulit di percaya Mak Cik, apa saat itu kakek sering
menonton Sinetron perjodohan sehingga menyusun wasiat semacam ini?”
“kamu ini, kakekmu itu pejuang jaman belanda mana pernah
nonton sinetron, baginya Udep saree Matee sahid ta bela nanggroe”
“subhanallah, sayangnya Dhea belum pernah ketemu kakek”
Mak Cik Maryam memeluk Dhea “Walau Dhea tak pernah
bertemu Kakek namun kakek pasti amat sangat bangga memiliki cucu yang cantik
dan solehah seperti Dhea, percaya itu kakek selalu merindukan kalian saat itu”
“iya Mak Cik, Dhea sangat bersyukur setelah sekian lama
bisa kembali lagi ke Aceh bersama Ayah andai Ibu masih bersama kita pasti akan
sangat bahagia” Dhea menangis dalam pelukan Mak Cik Maryam.
“InsyaALLAH, semua ada hikmahnya Nak, jangan pernah
berhenti doakan ibumu”
****
Nazril
Huft... aku menghirup nafas lega, akhirnya meeting dengan
para divisi selesai juga, ku lirik jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan
waktu asar. Aku bergegas berpamitan pada para divisi yang masih
berbincang-bincang untuk menunaikan shalat asar.
Kantor penerbitan ini terdiri dari dua laintai, mushala
terletak di lantai bawah dekat tempat parkir.
usai berwudhu bersama jamaa’ah lainnya aku bersiap untuk shalat, namun
tiba-tiba sayed salah satu karyawanku menepuk bahuku memintaku menjadi imam.
Ragu, menghinggapiku bukan karena tidak bisa tapi karena aku belum pernah
menjadi imam sebelumnya biasanya setiap shalat berjamaah di mushala kantor yang
menjadi imam pak aiyub salah seorang petugas keamanan, aku ingin menolak namun
melihat seluruh jamaah mengangguk padaku, Bissmillah akhirnya aku menjadi imam
untuk shalat pertama sekali.
usai shalat, aku kembali menuju lantai atas untuk
menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi. Sejam berlalu, iseng ku buka akun yahoo
dan sebuah email masuk dari Cut Diana membuat wajahku sumringah.
Segera ku buka email yang di kirimnya..
From : cutdiana22@yahoo.co.id
..
Ril, selasa siang jika tidak ada halangan aku sampai di Banda
dan aku ingin segera bertemu denganmu, tak perlu jemput di bandara kita ketemu
di tempat biasa, nanti aku konfirmasi lagi...
See you dear..
---
Aku tersenyum bahagia,segera ku balas email darinya
akhirnya diana pulang juga, seminggu lagi aku dan bertemu dengannya dan
sebelumnya akan kuselesaikan masalah perjodohan konyol ini dengan mama. Aku
ingin menikah dan yang akan ku nikahi itu Cut Diana bukan Nisya. Mengingat
kekeuhnya mama memaksakan perjodohan ini aku harus segera mencari cara untuk
bisa mengagalkan rencana pernikahan ini dan menikah dengan diana.
---
Author..
Dhea, yang baru selesai membantu Mak Cik Maryam
menyiapkan makan malam saat Aril turun.
“hey, Ustazah dadakan kapan sampai?” ujar Aril yang
langsung di hadiahi perototan tajam Dhea. Sontak Aril langsung tertawa melihat
tingkah sepupunya itu.
Harus dia akui akhir-akhir ini dia sering di kejutkan
dengan perubahan Dhea yang tiba-tiba, mulai dari penampilannya yang lebih
tertutup dan kebiasaannya menggunakan kaus kaki.
“Aril,” tegur ibu maryam.
“ iya ma, papa mana ma?” tanya Aril serayan duduk di
kursi.
“masih ada rapat di kantor, sudah ayo makan, berhenti
menggangu Dhea”
Aril mengangguk dan mulai menikmati makanan yang sudah di
siapkan mamanya.
Deringan telepon terdengar dari ruang tengah, Dhea segera
bangkit “biar Dhea saja yang angkat Mak Cik”
Sementara Dhea mengangkat telepon, Aril dan mamanya
melanjutkan makannya.
“Siapa yang telepon Dhea?” tanya mama Aril. Setelah Dhea kembali ke ruang makan.
“ Bunda Aisyah, mak cik, beliau ingin bicara dengan Mak
Cik”
“ow.. kalau begitu biar Mak Cik terima “
Dhea kembali duduk melanjutkan makannya.
“Dhea, ada yang ingin ku bicarakan” kata Aril pelan,
khawatir mamanya mendengar.
“ada apa bapak resek?”.
“Diana akan pulang, “
“So apa hubungannya denganku?”
“Dee.. Please bantu aku untuk kali ini saja’’
“jangan bilang, mau minta bantuan untuk mengagalkan
pernikahanmu dengan kak Nisya ya” Dhea memasang raut wajah sewot
“hee... Dhea memang pinter”
“aku ngak bisa, Bapak Nazril Akim”
“Please Dee, aku ingin menikah dengan wanita yang
kucintai bukan dengan wanita pilihan
mama”
“Bapak Nazril Akim yang ternyebelin, pernah ngak dengan
istilah cinta itu bisa hadir setelah adanya ikatan yang halal diantara dua anak
manusia, jadi ngapain takut ngak mencintai kak Nisya toh pada akhirnya cinta
itu bisa hadir dengan sendirinya” tutur Dhea
“hah, iyakah? Kata siapa?”
“makanya, sekali-kali pemikiran Bapak itu perlu di
refresh ulang, ikut taklim, dengerin tausiyah jangan asik berkutat dengan
kerja...kerja..dan kerja”
“Ok..Ok..! stop it Dee, kali ini hanya meminta bantuanmu
bukan untuk mendengarkan ceramahmu” tutur Aril, sebelum Dhea berbicara panjang
lebar.
“Ok, Aku diam dan maaf Tiada bantuan dariku untuk hal
satu itu” kata Dhea Tegas.
“Dee.. tolong kenapa?” Aril mulai melembut.
“Tidak, Aku tidak mau masuk dalam Blacklist orang-orang
yang menyakiti hati Mak Cik dan Almahum Kakek dan juga kak Nisya”
“Dee aku serius”
“Aku lebih serius Abang Nazril Akim”.
“kenapa sih Dee, apa karena kamu ngak menyukai Diana
makanya kamu ngak mau bantu kami”
Dhea menggeleng “ tiada alasan bagi Dhea untuk membenci
Diana”
“lalu apa juga? Dari sikapmu selama ini jelas menyiratkan
ketidak sukaanmu terhadap diana” Nada bicara Aril mulai meninggi.
“Itu karena Dhea yakin Diana bukan yang terbaik bagimu
bang!, maaf jika sebelumnya aku sering mengacaukan hubungan kalian lewat
facebook dan mulai detik ini Dee ngak akan pernah mau ikut campur lagi”. kata
Dhea dan segera menuju kamar.
Sementara Nazril tercenung mendengarkan perkataan Dhea.
Ibu Maryam yang sudah selesai berbicara di telepon menuju ruang makan.
“Ada apa Ril? Tadi mama dengan ribut-ribut”
Aril hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti, ‘lebih
baik diam di hadapan mama dari pada tambah ribet urusanya’batinnya.
“mama tadi bicara dengan siapa?” tanyanya mengalihkan
perhatian mamanya
“Aisyah, bundanya Nisya”
Aril tersenyum mengangguk sebuah ide terlintas di
benaknya.
---
Nah, Apa yang akan di lakukan Nazril? Tunggu di Bab
selanjutnya ya... ^_^
Alue Bilie, 22 Rabiul Awal 1435 H (22.30)
Comments
Post a Comment