Love With Your heart,not yours eyes Bab 8





Saat sedang mengelar sajadah ibu maryam melihat Nazril turun dari tangan dengan tergesa-gesa memakai baju koko lengkap dengan kain sarung.

“mau kemana Ril?” tanya ibu maryam

“Mau shalat ke mushalalah ma, masak mau ngantor pake koko? Jawab Aril dengan senyumnya.

“Iya mama tahu, tapi ngak biasa kamu...” 

“udah ma, Nazril pergi dulu ya takut telat jamaahnya ntar. Assalamualaikum” ucap Nazril bergegas pergi meninggalkan mamanya yang mengelengkan kepala melihat tingkahnya.

“Si gam loen nyan(1), kadang sangat susah di nasehati, tapi kalau sudah menyangkut urusan shalat tiada komplomi baginya sebelum melaksanakan shalat Nazril..Nazril..”. ujar ibu maryam. Kemudian melaksanakan shalat subuh juga.

____

jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.30 saat ibu maryam selesai membuat nasi goreng untuk sarapan, walau keluarganya mempekerjakan pembantu rumah tangga namun bagi ibu maryam segala sesuatu yang masih bisa ia kerjakan sendiri akan ia kerjakan sendiri dan pembantunya mengurusi pekerjaan yang lainnya. 

“Bik Isah, tolong buatkan kopi untuk Nazril ya, saya mau panggil Nazril dulu mungkin dia masih tidur di atas” ujar Ibu maryam pada bik isah.

“baik bu” 

Bik Isah segera membuatkan segelas kopi, sementara ibu maryam menuju ke kamar Nazril.
Saat berada tepat di pintu kamar Nazril ibu maryam mendengar suara Nazril yang sedang mengaji, senyuman menghiasi wajahnya. Entah kenapa setelah kembali dari jakarta Nazril menjadi lebih sering menggunakan waktu senggannya dengan mengaji. 

‘Alhamdulillah, Ya ALLAH putraku selalu mengingat-MU meski kegiatannya padat’ ucapnya setelah membuka pintu kamar Nazril. Dan senyuman kembali hadir di wajahnya manakala melihat Nazril tengah khusyuk mengkaji Ayat-ayat cinta-Nya dengan Mushaf Al-Qur’an bewarna hijau. Al-Qur’an itu masih bersama Nazril dan itu artinya Nazril belum mengembalikan Al-Qur’an itu pada pemiliknya. 

“mama sudah lama berdiri disitu?” tanya Nazril membuyarkan lamunan Ibu Maryam.

Bu maryam hanya tersenyum dan berjalan mendekati putranya yang duduk di atas tempat tidur.

“mama bangga pada Nazril, bacaan nazril makin bagus, Alhamdulillah mama bersyukur sekali Nazril masih mengingat betul aturan baca Al-Qur’an seperti yang di ajarkan MakNek dulu” bu maryam duduk di sebelah Nazril.

“tentu saja Nazril ingat ma, memangnya Nazril Si dudut yang selalu kena hukum karena tak mau menghafal tajwid” ujar Nazril.

“Nisya, namanya Nisya...  Nazril” ibu maryam.

Nazril hanya memutar bola matanya tanda tak perduli. 

“Nazril kapan mau ketemu Nisya?’’ 

“untuk apa ma?’’ Nazril sudah bisa menebak arah pembicaraan mamanya.

“lho koq untuk apa?, kalian kan sudah bertunangan setidaknya harus bertemu untuk membahas rencana pernikahan kalian mama dengar dari Dhea  saat ini Nisya sedang menyelesaikan tugas akhirnya”

“iya ma, kapan-kapan kami bertemu” 

“lho, kok kapan-kapan lagi, ini sudah kapan-kapan untuk sekian kalinya mama dengar dan sudah berapa kali kamu mambatalkan pertemuan kalian yang sudah di susun rapi oleh Dhea” 

“heemm eem... iya deh mamaku sayang, nanti minta Dhea atur ulang pertemuannya ya”

“mama harap  untuk kali ini kamu tak membatalknya lagi” ibu maryam merangkul bahu Nazril “ mama harap perubahanmu akhir-akhir ini bukan karena gadis pemilik Al-Qur’an ini ya”. 

Nazril tersenyum, mamanya benar sampai hari ini ia belum bisa melupakan gadis yang di temui di Masjid Baiturrahman beberapa minggu yang lalu dan Mushaf ini tertinggal saat gadis itu bergegas pergi. 

“Nah benar kan, anak mama masih penasaran dengan gadis itu?” goda mamanya.

“ehemm.. jam berapa sekarang ya, ma Nazril siap-siap dulu ya mau ke kantor” Nazril segera meranjak dan meletakkan mushaf di nakas.

“ Aril tak bisa berbohong dari mama, mama tahu Nazril tertarik dengan gadis itu tapi mama jamin dek, setelah Nazril ketemu dengan Nisya perhatian Nazril akan sepenuhnya beralih pada Nisya” 

“ma udah deh, Aril ngak mau bahas ini lagi, Aril udah melakukan permintaan mama untuk bertunangan dengan si dudut padahal mama tahu Nazril hanya mencintai Cut Diana”. Ujar Nazril meluapkan segala beban yang selama ini di pendamnya.

“mama,papa dan Almahum kakeknya hanya menginginkan yang terbaik untukmu nak, dan Nisya pilihan terbaik, jangan kecewakan kami Nazril”. Ibu maryam menatap putranya penuh harap.

“lalu Nazril harus mengorbankan perasaan Nazril demi keinginan mama?”

“Nazril! ingat jika bukan karena keluarga Nisya kita takkan pernah bisa hidup seperti saat ini”. Amarah bu maryam mulai memuncak.

Nazril tak menghiraukan mamanya, ia segera berjalan keluar kamar.

____

Dhea..

Usai shalat Dhuha ku sempatkan untuk tilawah Al-Qur’an sejenak, Alhamdulillah sudah sebulan ini ku rasakan hidupku semakin lebih bewarna. Iya, bewarna seiring hidayah yang menyapaku. Kini aku bukanlah Dhea Yaniar yang dulu lagi, Dhea yang lebih sering menghabiskan waktunya dengan berbelanja dan kumpul bersama dengan teman-teman gaulku. 

Jalanku kini begitu indah dan tentram, setentram hijab yang ku kenakan, benar kata kak Nisya Hijab itu menentramkan dan meneduhkan. Dan aku sangat bersyukur perkenalanku dengan Kak Nisya mengantarkanku untuk berubah, berubah menjadi muslimah yang lebih taat dan cita-citaku kini adalah menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia agar bidadari cemburu padaku. (hehe.. kalimat ini ku dengar dan ku rekam baik-baik saat mengikuti pengajian dengan akhwat-akhwat di LDK). 

“Dhea, “ panggil ayah yang sudah berada di depan pintu kamarku.

Segera ku akhiri tilawahku, dan bergegas menghampiri ayah.

“iya yah”. 

Ayah tersenyum, yang mengelus kepalaku yang masih di lapisi mukena “Ayah, berangkat sekarang ya nak, kamu yakin ngak mau ikut?’’ 

“tidak apa-apa yah, Dhea bisa tinggal di rumah mak Cik Maryam, lagipula bulan lalu Dhea baru pulang liburan dari jakarta juga kan” 

“ya sudah kalau begitu, ayah janji setelah mengecek keadaan restoran kita disana ayah langsung pulang dan menemani putri ayah tercinta” 

“iya ayah, lagi pula Dhea kan bukan anak kecil lagi yah, Dhea bisa kok jaga diri”.

“baiklah ayah berangkat sekarang ya, takut telat sampai di bandara nanti”

“Dhea antar sampai Bandara ya Yah”

“ngak usah, Dhea lanjutin aja ngajinya, nanti ayah telpon “

‘kalau begitu biar dhea antar sampai pintu depan ya” 

“baiklah”

Setelah ayah berangkat aku kembali ke kamar, mempersiapkan barang-barang yang akan ku bawa untuk menginap beberapa hari di rumah Mak Cik Maryam. Walaupun rumah ini besar namun saat ayah tak ada di rumah aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah Mak Cik Maryam, apalagi semenjak mama meninggal aku selalu merasa sendiri jika di rumah tanpa ayah.

...

Allah, Ya Allah
Guide me all the way to your Jannah
Ya Allah, Ya Allah
Don’t let me go astray ’cause I need you
By my side, I wish to be close
Close to You throughout my life
Ya Allah, oh Allah!
Be with me all the way

Lantunan Syair Maher Zain dari handphoneku mengalihkan perhatianku dari berkemas untuk menjawab panggilan. Kulirik nama Mak Cik Maryam  dan segera ku tekan tombol jawab.

“Assalamu’alaikum  Mak Cik” sapaku.

“Wa’alaikum salam.. Dheaa...”  suara Mak Cik terdengar terisak seperti menahan tangis.

“Mak Cik kenapa?, “ tanyaku khawatir.

“Dhea kesini ya sekarang, Mak Cik tunggu”. 

“iya Mak cik, ini Dhea juga lagi siap-siap, Mak Cik Baik-baik saja kan?”. Tanyaku lagi

“Ada yang ingin Mak Cik bicarakan dengan Dhea,  Dhea cepat kesini ya, Assalamu’alaikum”

“iya Mak cik, Wa’alaikum salam” hatiku mulai di liputi pertanyaan ada apa dengan Mak Cik Maryam.

Segera ku kenakan hijabku dan  bergegas ke rumah MakCik, tentu telah terjadi sesuatu disana.

---
To Be Continue....


#Maaf jika Bab ini mengecewakannya...
jangan lupa komentarnya...
Alue-Bilie, 19 Shafar 1435 H (22.30)
Afri Azzahra

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerpen :: Surat Cinta Nafisah ::

Kuliner Menu Berbuka Puasa Khas Aceh

Tradisi Meugang di Tengah Pandemi Covid-19