Love With Your heart,not yours eyes Bab 7
Memori, Pesisir Barat Meulaboh.....
Di tengah guyuran hujan, seorang gadis kecil
dengan rambut kepang dua mengayuh sepeda dengan wajah sumringah, senyum tak
henti menghiasi wajahnya walau seluruh pakaiannya telah basah.
“du...dut...., berhenti! Itu sepedaku huf..huf...”
teriak bocah laki-laki yang berlari jauh di belakangnya dengan nafas
tersengal-sengal setelah jauh berlari di tengah hujan mengejar gadis kecil yang
membawa sepedanya.
“Bialin... weekkzz” ejek gadis kecil. Serayan menoleh
ke belakang.
“dudut... Aril bilang berhenti......!!!!” kali
ini teriakan bocah laki-laki itu meningkat 1 volt.
“Aril.. pelit, tadi Sya minta pinjam sepeda ngak
boleh , sekarang ayo kejar Sya, katanya jagoan” ejek gadis kecil itu kembali
seraya melihat ke belakang, hingga laju sepeda tak terkendalikan.
“Dudut... awas! di...”
Bruukk...........
Belum selesai Aril berbicara, Sya sudah terjatuh
dalam genangan air. Aril menakup wajahnya dengan tangan “Huuff.. selalu buat
aku susah” gerutunya.
“Aril....... tolong” teriak Sya, Aril segera
berlari mendekati Sya.
Namun bukannya menolon Sya, ia malah berkomentar “
Tuh kan, tadi sudah Aril bilang hati-hati, arrgg... bakalan kena marah sama
mama lagi neh”
“Aril tolong kaki Sya sakit” isak Sya.
“salah sendiri, jadi anak nakal selalu
menyusahkan Aril” gerutu Aril serayan membantu Sya berdiri.”lihat nih, kotor
kan sepeda Aril”
Sya meringis memeriksa tangan dan kakinya yang
lecet dan dalam hitungan detik matanya mulai di penuhi kabut.
Aril melihatnya dan berkata “ Jangan Nangis! Ayo pulang,
jadi aneuk inong itu mesti kuat kayak Cut Nyak Dhien”. Aril terus berjalan
mendorong sepedanya, Aril memang tak pandai memujuk dengan kata-kata lembut, namun ia tahu Cut Nyak Dhien adalah Pahlawan Aceh
kebanggaan Sya, dan itu cukup berhasil untuk membuat Sya berhenti menangis
sehingga Aril bisa menyelamatkan telingganya dari gangguan pendengaran.
Sya berjalan dengan terisak menahan tangis, rasa
perih mulai menyerang tangan dan kakinya. Sementara Aril terus berjalan di
depannya dengan terus mengerutu tentang Sya.
“Aril, kaki Sya Sakit, jalannya
pelan-pelan ya” pintanya.
“baru lecet sedikit aja udah ngeluh!
Dudut payah, tau ngak? Cut Nyak Dhien saja yang berjalan puluhan ribu meter di
hutan saat di kejar penjajah tak pernah mengeluh, bayangin kata guru sejarah
Aril mereka ngak pake sendal di tawanan penjajah, di siksa dan di pukul...” dan
bla..blaa... mengalunlah cerita perjuangan Cut Nyak Dhien Versi Aril yang
intinya tetap saja memojokkan Sya.
Sya yang berjalan di belakangnya
hanya mengerucutkan bibir tanda kesal.
“Dudut, cepat jalannya!”
“Dudut...!!” panggil Aril kedua
kalinya menoleh ke belakang dan di lihatnya Sya masih tertinggal jauh di
belakangnya.
Gadis itu masih berdiri dengan
mengadahkan tangan dan menatap langit.
“Sya...!” teriak Aril kesal,
sepedanya di letakkan begitu saja lalu berjalan menuju tempat Sya berdiri. Setelah
dekat Aril menarik tangan Sya untuk mengikutinya.
“Aril tunggu lihat itu” .Sya
menunjukkan tangannya ke langit yang masih menyisakan gerimis.
Aril mengadahkan wajahnya ke langit
melihat apa yang di tunjuk Sya. Sesaat dia terteguh memandang lagi.
“Cantik kan Ril...” kata Sya
antusias.
“Itu namanya pelangi” ujar Aril.
“iya, Sya tahu kata Mak Nek kalo ada
pelangi itu artinya Putro tujoh lagi turun ke bumi untuk mandi” imbuh Sya. Yang
langsung di sambut tawa Aril.
“iih.. Aril kenapa malah ketawa”
“hahaa.. dan kamu percaya?” tanya
Aril yang masih saja tertawa.
“iya, Mak Nek selalu cerita waktu
malam, tapi baru hari ini Sya lihat pelangi”
Aril meletakkan tangannya di pundak
Sya, “ dengerin ya itu Cuma dongeng, dengarin baik-baik ya pelangi itu terjadi
karena ada peristiwa pembiasan cahaya matahari oleh air hujan” jelas Aril.
“yee.. kata siapa? Mak Nek bilang kan...”
“udah ayo pulang nanti di cari mama
dan bunda” Kata-kata Sya langsung di potong oleh Aril.
“tapi Aril pelangi...” ujar Sya yang
belum puas dengan jawaban Aril, namun lagi-lagi Aril memotongnya.
“Udah ayoo pulang nanti Aril
tunjukkan poto pelangi “
“waah.. Aril punya poto pelangi
seperti yang di langit itu?’’
“adaa.. sudah ayo pulang...”
“nanti Sya boleh minta potonya?”
tanya Sya antusias sambil berjalan mengikuti Aril.
“tidak boleh, kalau mau beli sendiri
bukunya”
“Buku apa?”
“Buku IPA”
“haaah... pelangi ada di buku IPA?” tanya
Sya bingung
“Iya, Nisya Azzahra, makanya jangan Cuma
senang dengar cerita Mak Nek tapi baca buku!” tegas Aril dan untuk pertama kali
memanggil Sya tanpa embel-embel dudut.
....
Sweet..sweet.. paling enjoy nulis Bab ini.. ^_^
Sweet..sweet.. paling enjoy nulis Bab ini.. ^_^
To be Continue....
Alue-Bilie, 13 Shafar 1435H (18.33 Wib)
Comments
Post a Comment