Love With Your heart,not yours eyes Bab 5
“Nisya mau kemana sudah rapi?
Bukannya hari ini kamu ngak ada jadwal kuliah?” tanya Mila saat aku sedang
memakai sepatunya.
“Mau ketemu Dhea, Mil” jawabku.
“Dhea, Dhea sepupu tunanganmu
itu?” Mila Menaikkan alisnya
Aku mengangguk “dia minta di
temani ke toko buku dan jilbab, apa kamu mau ikut sekalian?” tawarku.
“eemm.. ngak deh Sya, aku mau
istirahat saja di rumah”
“ya sudah, aku tak tahu pasti
pulang jam berapa nanti jika kamu keluar rumah jangan lupa kuncinya di bawa ya”
aku menginggatkan kebiasan lupa Mila.
“Iya... Nisya, taulah yang mau
ketemu tunangan, tak mau di ganggu dengan telponku yang ketinggalan kunci” ujar
Mila dengan nada mengoda.
“Mila, aku hanya pergi bersama
Dhea dan aku sudah memastikan hanya kami berdua yang pergi” jawabku menepis prasangka
Mila. Aku mengerti maksudnya hanya ingin mengodaku tapi sampai saat ini aku
masih enggan jika di katakan kedekatanku dengan Dhea hanya karena Dhea sepupu
Nazril.
“Maaf Sya, aku hanya bercanda”
kulihat raut wajah Mila berubah.
“Iya aku mengerti Mil” aku
tersenyum padanya “ ya sudah aku berangkat sekarang ya, Dhea sudah menunggu di
toko buku”
“Lho, ngak di jemput Dhea?”
“tidak, kebetulan tadi Dhea dari
kampusnya dan terlalu jauh kalau dia harus menjemputku lagi aku naik labi-labi
saja”
“oh.. begitu, salam ya sama Dhea”
“Okee... Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikum salam”
Aku berjalan kaki hingga jalan
raya yang tak jauh dari rumah Kost kemudian menyetop labi-labi menuju toko
buku. Penumpang labi-labi di penuhi
anak-anak SMA yang baru pulang sekolah. Di perjalanan teringat kembali dengan
telepon Dhea semalam yang mengajakku untuk menemaninya hari ini, katanya dia
ingin memberi beberapa buku islam dan ke toko jilbab. Awalnya aku menolak
ajakannya karena aku ingin merampungkan proposal penelitian ilmiahku. Namun
bukan Dhea namanya jika tak pandai merayu dengan berbagai alasan.
Lamunanku terhenti saat labi-labi
telah berhenti ku lihat toko buku Dzikra sudah di depan, akupun segera turun
dari labi-labi setelah membayar ongkosnya. Dari jauh kulihat Dhea tersenyum
padaku.
“Akhirnya kakak sampai juga,”
ujarnya setelah aku menghampirinya.
“maaf Dhea kelamaan nunggu
ya?”
“tidak juga kak, ayo kita masuk”
Aku mengikuti Dhea, masuk ke
dalam toko buku, selanjutnya kami terlibat diskusi ringan tentang wanita dan
islam sembari memilih-milih buku setelah hampir sejaman berkeliling toko buku
dan ku lihat Dhea telah memilih beberapa buku islami. Sementara aku yang
awalnya tidak berniat membeli buku hanya memilih sebuah syamil Al-Qur’an for women berwarna hijau. Syamil
Al-Qur’an ini warnanya sama dengan milikku yang di hadiahkan bunda saat aku
lulus SMP dan sampai saat ini masih ada bersamaku.
“kakak tidak membeli buku lain?”
tanya Dhea saat kami sudah berada di kasir
“tidak, ini saja” ujarku sembari
menyerahkan Al_qur’an tadi pada petugas kasir.
“Biar Dhea bayar sekalian kak”
cegah Dhea saat aku hendak mengeluarkan dompetku.
“tidak apa-apa Dhea, biar aku
bayar sendiri “ ujarku.
“udah sekalian saja ya bang” ujar
Dhea pada petugas kasir.
Aku merasa tidak enak tetap ku
serahkan uang dengan nominal harga Al-Qur’an tersebut pada petugas kasir” biar
kakak bayar sendiri saja Dhea” ujarku tersenyum.
Dhea hanya diam.
Setelah keluar dari toko buku
kulirik jam di pergelanggan tanganku sudah menunjukkan pukul setengah empat.
“Dhea tadi bawa motor kak,
sekarang kita ke toko jilbab ya” ujar Dhea sembari berjalan kesebuah motor yang
terparkir di depan toko buku.
“iya, tapi apa ngak sebaiknya
kita cari masjid dulu sebentar lagi waktu asar”
“ow.. iya kak, Dhea lupa
kebetulan Dhea sedang berhalangan” ujarnya sembari menyalakan motor. “ayo naik
kak, di depan saja ada mushala nanti kakak bisa shalat disana” .
Aku menggangguk dan segera duduk
di belakangnya.
--
Setelah shalat asar kami menuju
toko busana muslim, Dhea membeli beberapa jilbab dan gamis sementara Nisya
hanya menemani saja.
Azan magrib berkumandang tepat
saat Nisya dan Dhea sampai di depan kos Nisya. Nisya mengajak Dhea masuk
setelah memarkirkan motor di teras depan.
Mereka di sambut oleh Mila yang membukakan pintu. Dhea tersenyum ramah
pada Mila. Ini bukan kunjungan pertama Dhea ke kos Nisya, malam ini ia
berencana menginap.
“Kak Mil, ini Dhea belikan
Martabak dan Mie Kepitik” Ujar Dhea serayan menyerahkan kantung plastik yang di
jinjingnya.
“Alhamdulillah, terima kasih Dhea
tapi ngak perlulah repot-repot memberikan makanan, kak Mila sudah masak
tadi”
“tidak apa-apa kak, Dhea tak
merasa di repotkan kok?
“kebetulan kalau begitu, mari
kita makan dulu, Dhea tahu Mie Kepitik itu menu kesukaan Nisya” timpal Mila
bersemangat.
Nisya mengeleng-geleng kepala
mendengar percakapan mereka “Ayo Dhea, Bawa masuk ke kamar kakak dulu belanjaan
tadi setelah itu kita makan bersama”.
-----
Jam dinding kamar sudah
menunjukkan pukul dua dini hari, setelah Nisya melaksanakan shalat malamnya.
kemudian melanjutkan dengan menyelesaikan laporan proposalnya, dan Nisya
kembali fokus dengan rangkaian tuts-tuts huruf di laptopnya. Biasanya sembari
mengerjakan tugasnya Nisya mendengarkan Murratal Al-Qur’an melalui Windows
Media Player Laptopnya, namun melihat Dhea yang terlelap di tempat tidur Nisya
Urung menyetelnya takut mengganggu tidur Dhea.
“Kak Nisya belum tidur?” panggil
Dhea dengan suara serak.
Nisya menoleh “ kakak lagi
menyelesaikan laporan proposal dek, maaf kakak ganggu tidur adek ya?”
“enggak kak, Dhea bangun karena
haus” Dhea beranjak dari tempat tidur menunju Dispenser yang terletak di sudut
kamar mengisi gelas dengan air, sejenak ia menikmati air yang di teguknya. “kak
Nisya memang biasa bangun jam segini ya?”
Nisya tersenyum menghadap Dhea,
meninggalkan sejenak layar laptopnya. “bisa di bilang begitu Dhea”
Dhea bernajak duduk di sisi kaki
tempat tidur menghadap ke meja belajar Nisya. “kak, Dhea boleh tanya sesuatu?”
“tentu saja, Dhea mau tanya apa?”
“kakak tak ingin bertemu dengan
bang Nazril?” tanya Dhea hati-hati.
“ketemu?? Maksud Dhea?”
“Iya, ketemu dengan bang Nazril,
ini sudah masuk dua bulan sejak kalian bertunangan tapi Dhea tak pernah melihat
kalian bertemu”
Nisya Terdiam, benar kata Dhea
sudah dua bulan sejak pertunangannya dengan Nazril mereka belum bertemu sejak
12 tahun yang lalu...
To Be Continue...
PS : Mohon maaf jika bagian ini, cerita nya gantung…
InsyaALLAH di part selanjutnya akan ada kejelasan ^^
Dont’ forget kritik dan sarannya ya..^^
.. Alue_Bilie, 11 Shafar 1435 H..
InsyaALLAH di part selanjutnya akan ada kejelasan ^^
Dont’ forget kritik dan sarannya ya..^^
.. Alue_Bilie, 11 Shafar 1435 H..

Comments
Post a Comment