Love With Your heart,not yours eyes Bab 4
Taraaa…..
Kisah Nisya Dan Nazril hadir lagi…. ^_^
Part ini sebenarnya tidak di rencanakan, tapi tercipta saat bosan menunggu PLN menyalakan Listrik tapi sayangnya hingga melesai mengedit listrik belum menyala juga hehee… (Curhat ngak penting)
Its oke… So Fun.. this edisi Muslimah Story…
Semoga tetap bisa di petik hikmahnya…
Oya satu lagi, membaca part ini saia referensikan sembari mendengarkan lagu ini…
Author…
----
Usai shalat dhuhur di mushala kampus, Nisya berjalan tergesa-gesa menuju kostnya, tepat di pintu depan rumah kostnya dengan nafas ngos-ngosan dia menyerahkan kunci pada Mila.
“Huft… “ Akhirnya Nisya bisa menarik nafas lega.
“Sorry Sya, tadi pagi aku terburu-buru jadi lupa dengan kunciku yang tertinggal di dalam”. Mila tak tega melihat penampilan Nisya yang sudah kusut di tambah lagi jilbab lebarnya yang melambai di tiup angin.
“Tak apa, Bukan Mila namanya jika tidak lupa bawa kunci”. Ujar Nisya.
Mila tertawa, setelah pintu di buka mereka masuk ke dalam, rumah ini terdapat empat kamar, ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang tamu,dapur, dan kamar mandi. Mereka menyewa rumah ini bersama dua orang akhwat lainya , Hayati dan Nurma, Namun saat ini keduanya masih berada di kampong, Hayati yang berasal dari sigli sudah menyelesaikan kuliahnya dan saat ini sedang mempersiapkan pernikahannya, sedangkan Nurma saat ini berada di Abdya mengikuti pelatikan kader organisasi muslimah, diantara mereka berempat Nurma merupakan akhwat yang paling aktif dalam kegiatan dakwah, hampir setiap bulan ada saja tempat yang di kunjungi dalam kegiatan sosialnya, Nisya juga termasuk kader dalam organisasi muslimah namun selama memasuki semester akhir dia memilih focus untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Seminggu lagi dia harus menyerahkan judul skripsi kepada dosen pembimbing jadi akhir-akhir ini waktunya lebih sering di habiskan di kampus dan pustaka wilayah.
“Sya, udah makan siang?” Tanya Mila pada Nisya yang sedang berkutat di depan laptopnya, jilbab lebarnya telah berganti dengan kerudung siap pakai.
“duluan saja Mil, aku mau menyelesaikan laporan dulu” jawab Nisya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
“Heem.. yang mau nikah, maunya cepat kelar kuliah sampai waktu makan saja kadang lupa” Canda Mila berjalan mendekati Nisya.
Nisya Menoleh, “Apaan sih Mil, aku hanya tidak ingin membuang banyak waktu dalam menyelesaikan kuliah”. Nisya tersenyum.
“”iya aku tahu, namun aku sedikit heran Sya, sudah memasuki dua bulan kamu bertunangan namun aku sama sekali belum pernah melihat tampang tunanganmu itu seperti apa” Mila berbicara dengan hati-hati takut menyinggung perasaan Nisya.
Nisya terdiam, aa.. bahkan dia hampir lupa kalau dia sudah bertunangan, sejenak di tatap cincin yang melingkar di jarinya walaupun cincin itu terus merekat di jarinya, ia kadang lupa dengan statusnya kini, Tiba-tiba timbul ide untuk mengoda Mila di lirik Mila yang menatapnya dengan pandangan penuh selidik..
Tiba-tiba Nisya bersenandung
“Sebelum diijabkabulkan
Syariat tetap membataskan
Pelajari ilmu rumah tangga
Agar kita lebih bersedia
Menuju hari yang bahagia…”
Mila tersenyum mendengarnya, “Okelah, Prinsipmu itu tak pernah berubah, bahkan sampai hari ini aku yakin kamu belum melihat fotonya kan? Walaupun kalian kenal semasa kecil namun setelah dewasa tentu telah banyak berubah Sya..”
“Aku percaya Mil, jika dia yang terbaik dari ALLAH bagiku Semoga akan berjalan dengan baik hingga saatnya”. Terang Nisya.
“heem..emm.. semoga Sya,”. Tiba-tiba Mila memeluk Nisya.
“Lha, kenapa ini nong(1)?”.
“Saat kamu menikah nanti aku pasti akan merindukanku, kita pasti akan sangat jarang bertemu”
“Mila, sampai kapanpun kamu tetap sahabat terbaikku dan aku yakin kelak akan ada ikhwan shalih yang datang untukku”. Aku tersenyum melepas pelukannya.
“Aaminn…”
“Kabulkan Ya ALLAH” kami tersenyum.
“Sya aku juga punya lagu yang mewakili hatiku?” lanjut Mila dengan mengedipkan matanya.
Aku tertawa, “Apa?”
Mila menarik nafas sejenak, lalu..
“Hanya pada-Mu ku bertanya
Lewat setiap sujudku ini
Siapakah nanti cinta untukku
Wahai penilai hati lihat batinku
Nyaris bernanah karena luka tersayat
Merana menantikan kisah dan kasih hidupku
Rahasia itu hanya KAU yang tahu
Namun aku tak mau jadi tuna cinta
Tuntun hatiku dalam sabar menanti jodohku”
Nisya tersenyum mendengar Mila bernyanyi harus di akui Mila memiliki suara yang bagus.
“Subhanallah… Ukhti Mila ini bisa menjadi saingan Fatih Shidqia lho” gurau Nisya.
“Banyak yang bilang sih gitu”
Dan tawa kembali hadir diantara mereka.
-----
Nisya..
Senja merentas kanvas indah di langit kemerah-merahan… burung-burung berterbangan beriringan menuju sarangnya.. Subhanallah indahnya langit-Mu…
Aku masih duduk di pelantara masjid Raya Baiturrahman, Masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Masjid ini selalu menjadi tempat Favoritku di tengah hikuk pikuk suasana kota, Masjid yang menjadi tempat mencurahkan rasa syukur pada sang pencipta. Interior masjid ini selalu menarik untuk di telusuri, walau masjid ini telah mengalami beberapa kali perbaikan. Sejarah mencatat masjid kebanggaan Masyarakat Aceh dari masa kerajaan Sultan Iskandar Muda ini masih kokoh berdiri saat gempa dan gelombang Tsunami Melanda Aceh beberapa tahun yang lalu..
Lamunanku terhenti saat handphoneku berdiri, nama Dhea tertera di layar Nokia milikku Segera ku angkat
“Assalamu’alaikum Dhea, kamu dimana?”
“Wa’alaikum salam, Dhea sudah di parkiran Baiturrahman ne kak, kakak dimana?” jawabnya.
“Kakak di pelantara Masjid ne dek, langsung ke sini atau?”
“ya sudah, biar dhea saja kesana Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikum salam”
Sambungan terputus..
Sore ini aku memang sudah berjanji bertemu dengan Dhea disini, setelah hampir seminggu dia mengajakku bertemu katanya ada yang ingin di bicarakan. Dan lama kemudian dari arah kiriku aku melihat seorang gadis yang mengenakan Gamis model balzer berwarna Hitam dengan jilbab senada berjalan mendekatiku, dia tersenyum melihatku.
“Kakak kira kamu tidak jadi datang” ujarku setelah jarak kami dekat.
Dia tersenyum menyalamiku.
“Maaf aku telat datangnya kak, tadinya aku berencana kesini sekalian ajak bang Nazril, jadinya aku ke kantornya dulu tapi sampai disana kata staffnya sudah pulang, huft.. sekali lagi maaf ya kak”.
“Tidak apa Dhea” Aku mencoba tersenyum, walaupun sebenarnya hatiku mulai tidak tenang saat Dhea menyebutkan Nama Nazril, Aku bersyukur dia tidak ikut bersama Dhea..
“ Oya Dhea, katanya ada yang ingin dibicarakan?” tanyaku to the point. Sebenarnya aku sedang menghindar pembicaraan tentang Nazril
Dhea tidak langsung menjawab dia hanya memandangku dengan pelik..’ada apa dengan anak ini?’ batinku
---
Author…
“ada yang salah dengan penampilanku Dhea?” Tanya Nisya lagi setelah pertanyaannya tadi tak di jawab Dhea..
Kini kami duduk di pelantara masjid..
“Tidak hanya saja,, emm.. maaf kak Nisya, apa jilbab kakak ini ngak terlalu kebesaran?” tanyanya.
Nisya tersenyum baginya ini bukan pertanyaan pertama yang di dengarnya setelah memutuskan mengenakan jilbab syar’i..
“Tidak, malah ini masih kurang lengkap karena aku belum mengenakan niqab” terangnya.
“Niqab?”
“Cadar maksudnya”
“Ooww…” Dhea hanya ber O panjang.
“tapi apa tidak terlalu berlebihan kak?”
Nisya mengerutkan keningnya “berlebihan darimananya Dhea, bukankah mengulurkan jilbab itu kewajiban bagi setiap wanita muslimah?”
‘iya sih, Dhea tahu itu, apalagi Aceh kan negeri syariat Islam dan Dhea juga mengenakan Jilbab”. Dhea memegang ujung jilbab modis yang di kenakannya.
“lalu alasan Dhea pake jilbab apa?” Nisya tersenyum.
“iya karena memang kewajiban, lagipula jika tidak mengenakan jilbab bisa-bisa berujung ke kantor petugas Wilayatul Hisbah” Dhea melirik kanan kiri takut ada yang mendengar.
Nisya terkekeh“hanya itu?”
Dhea mengangguk…
“Dhea, sebenarnya ada alasan mendasar dan paling penting kenapa wanita mengenakan Jilbab”
“Apa itu?”
“ALLAH” Nisya Mengangguk,tersenyum “ Memakai Jilbab bukan hanya sekedar karena di Aceh dengan Syariat Islam saja Dhea tapi kemakai jilbab itu harusya di dasari karena hati, hati yang mencintai ALLAH dan karena Takut akan Azab-Nya seperti yang di terangkan ALLAH dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 59 yang artinya :
‘Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutup jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah di kenali, sehingga mereka tidak di ganggu dan ALLAH Maha Pengampun, Maha Penyayang” …”
Dhea terteguh mendengarnya.
“jadi jilbab yang Dhea kenakan ini?” tanyanya.
“ sudah baik, tapi akan lebih cantik dan indah lagi jika niat mengenakannya karena ALLAH dan menutup Aurat dengan sempurna dengan tidak menampakkan bentuk lekuk tubuh, sebentar lagi Azan magrib berkumandang ayo kita berwudhu” Nisya segera bangkit.
Dhea mengikutinya, “memakai jilbab seperti ini saja godaannya berat apalagi jika jilbabnya seperti kakak” ucap Dhea Saat mereka berjalan beriringan menuju tempat wudhu wanita.
“Memakai jilbab itu bukan berarti bebas dari maksiat namun memakai jilbab itu sebuah pernyataan diri bahwa kita mau taat atas perintah ALLAH”.
Dalam hati Dhea kagum dengan keteguhan Nisya, percakapan mereka terhenti saat mereka mengambil wudhu dan bersiap melaksanakan shalat magrib berjamaah..
Ba’da Magrib Mereka meninggalkan Masjid Baiturrahman, Dhea mengajak Nisya makan dulu, tapi Nisya menolak karena sudah janji kamu menjemput Mila di rumah temannya tadi dia meminjam motor Mila.
“oya Dhea, kemaren katanya ada yang ingin kamu bicarakan apa ya?” Tanya Nisya saat mereka berjalan menuju parkiran.
Dhea terdiam, tiba-tiba timbul rasa tidak enak dengan apa yang akan di sampaikannya.
“aa.. itu, sebenarnya aku mau kenal lebih dekat dengan kakak, aku suka cara kakak berjilbab”. Jawabnya jujur walaupun yang sebenarnya ingin di sampaikannya bukan itu.
Nisya mengeleng kepala, “ada-ada saja kamu”.
“Dhea serius kak, kapan-kapan Dhea main ke kost kakak ya”
“Boleh” jawab Nisya ia mengeluarkan kunci motor Di hadapan motor beat Milik Mila.
“Motor kakak?” Tanya Dhea.
“Bukan, punya teman yang mau di jemput “
Dhea mengangguk
Nisya Segera menyalakan motornya dan pamit pada Dhea, Dhea pulang mengendarai mobilnya.
----
To Be Continue…
Salam Ukhuwah….
Afri Azzahra… ;)
Alue-Bilie, 14 September 2013 (12.00 Wib)
Comments
Post a Comment