Love With Your heart,not yours eyes Bab 3
Nazril
------
“Huft…” aku mendegus kesal untuk kesekian kalinya. Kulirik jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul delapam malam.
Pandanganku kembali tertuju pada layar laptop di hadapanku menyelesaikan laporan bulanan kantor. Sebenarnya tugas ini bisa saja ku serahkan pada ruslan salah satu staf kepercayaanku, namun karena rasa engganku untuk segera kembali ke rumah membuatku mengerjakan laporan ini.
Akhir-akhir ini memang aku berusaha untuk tidak terlalu sering bertemu dengan mama, sampai saat ini aku belum sepenuhnya setuju dengan perjodohan yang telah di atur mama. Seminggu yang lalu secara resmi aku telah memiliki tunangan namun hal ini sama sekali tak membuatku senang. Apalagi mama dan sepupuku Dhea selalu membicarakan si gendut itu di depanku.. aa.. si dhea bilang dia tidak gendut lagi tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk mengetahuinya walaupun tak jarang Dhea selalu berusaha agar aku melihat foto gadis itu namun aku sama sekali tak melihatnya.
Paling dia masih seperti gadis kecil yang cengeng dan menyebalkan, Nisya bukanlah cerita asing dalam hidupku. Dia adalah tetangga kami dulu dan kedua orang tuaku bersahabat baik dengan kedua orang tuanya. Sejak kecil dia selalu membuatku susah di selalu mengikutiku bermain dan jika aku memarahinya dia akan pulang ke rumah menangis dan yang selanjutnya mama akan mengomeliku tak henti. Saat aku SMP Ayah Mulai merintis usaha di banda dan kami ikut pindah, sejak saat itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya hingga sebuah dan kekonyol mulai lagi dalam hidupku, beberapa bulan yang lalu saat kakek sakit kritis di rumah sakit dan memintaku menikahi cucu sahabat baikknya yang tak lain gadis gendut itu. Saat itu aku tak berfikir panjang bagiku hanya kesembuhan kakek aku mengiyakan permintaan konyol itu, namun ALLAH berkehendak lain, kakek meninggalkanku selalamanya dengan wasiat terakhirnya untukku. ternyata Almahum kakek sudah menjodohkan kami sedari balita, itu di buktikan dengan surat wasiat yang di tuliskan kakek. Mama tahu kelemahanku adalah kakek, walaupun kakek sudah tiada namun rasa hormat dan cintaku padanya tak pernah hilang.
Aku selalu menunggu detik-detik kebahagian menanti pernikahan bersama seorang wanita yang kucintai namun itu bukan gadis gendut itu, aku telah mempunyai pilihan hatiku sendiri dia adalah Cut Diana, seseorang yang dekat di hatiku beberapa tahun ini walaupun jarak memisahkan kami. Saat ini Cut tengah menyelesaikan pendidikan S2 nya di Tokyo. Hubungan kami tetap berjalan lancer walau kami hanya bertegur sapa lewat telepon, email, dan jejaring sosial. Akhir tahun ini dia akan kembali ke Aceh dan aku telah mempersiapkan untuk segera menikahinya namun wasiat kakek, pertunangan ini memhancurkan semua harapanku.
Cut Diana tahu aku telah bertunangan, itu juga karena ulah Dhea yang Mengangguku di facebook dengan status pertunanganku. Awalnya aku berpikir Cut Diana akan sangat marah padaku, namun dugaanku salah dia justru hanya berkata”selama janur kuning belum melambai selalu ada kesempatan, dan segalanya masih ada kemungkinan berubah di kemudian hari”.
“Hay….pak manager sampai kapan mau merenungi laptop itu?” aku sontak kaget mendengar suara Dhea yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku.
“Astaghfirullah… Dhea apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku masih dengan keterkejutan.
“seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan disini?” cibirnya.
“APaa! Inikan kantorku jadi wajar aku disini” belaku.
“Helooo… Pak Muhammad Nazril Akim,! aku juga ngak bakalan muncul disini kalau ngak karena dorongan rasa kemanusiaan dan persaudaraan”. Gerutunya.
“Maksudmu?”
“Makcik Maryam berulang kali menelponku, katanya kamu belum pulang ke rumah dari kemarin dan hapemu tak bisa di hubungi, tadinya ku pikir BlackBerrymu error tahunya dia hanya bersemedi di samping laptopmu”. Dhea langsung mengambil Blackberry yang tergeletak di atas meja kerjaku.
Selanjutnya ia menyalakannya. ‘sayang sekali punya hape canggih tapi tak di nyalakan” cibirnya.
“Agggrhh… kembalikan hapeku Dhea?” kulihat Dhea melakukan panggilan dengan menggunakan hapeku. Dan selanjutnya aku tahu dia berbicara dengan mama kemudian dia menyerahkannya padaku.
“Bicaralah dengan mamamu ku kira setelah bertunangan sikapmu bisa lebih dewasa” ejeknya.
Aku mendegus kesal awas saja dia berani mempermainkanku.
Aku berbicara dengan mama, dan mama bersikeras menyuruhku pulang. Aku mengiyakannya sebelum si Sepupu garangku ini menyanderaku dan meminta mama ke kantor. Ku kira saat dewasa aku takkan pernah bertemu dengan orang menyebalkan lagi setelah si gadis gendut itu. Namun di Banda aku justru bertemu dengan Dhea yang sikapnya sebelas dua belas alias sama dengan sikap si gadis gendut itu. Bedanya Dhea tak pernah menangis dan selalu berhasil membuatku diam.
“Pak Nazril, aku rasa ruanganmu perlu sedikit perbaikan” Dhea memandang ke seluruh penjuru ruangan kerjaku.
“apa maksudmu?” tanyaku serayan menturn off laptopku dan memasukkannya kedalam ranselku.
“Interiornya terlalu kelam, sekelam dirimu seharusnya kau juga meletakkan foto pertunanganmu di meja kerjamu”. Komentarnya sontak membuat amarahku memucak ku jidak kepalanya.
Auuw…
“Hay, jangan remehkan analisaku tentang seni” gerutunya.
“hentikan omong kosongmu dan kita pulang sekarang”
Mau tak mau dia mengikutiku keluar dari ruangan. Menuju mobilku yang terparkir didepan kantor.
------
To Be continue…
Sedikit penjelasan tentang Nazril di Part ini.. J
Jangan lupa kritik dan sarannya ya… ;)
---
Alue-Bilie, Jum’at 13 Sept 2013 (22.46 Wib)
Salam Ukhuwah…
Afri Azzahra….
Comments
Post a Comment