CERPEN : DAN REMBULANPUN BERDZIKIR
Penulis : ♥ Afri Az Zahra ♥
Ambilkan bulan bu ….
ambilkan bulan bu ….
yang selalu bersinar di langit…
di langit bulan berderang cahyanya sampai ke bintang
ambilkan bulan bu.....
Sepenggal syair lagu yang selalu ku nyanyikan saat kecil bergema di kidung kesunyian hati ini. Jam dinding di sudut kamar telah menunjukkan angka 2 dini hari suara riuh di rumahku tak terdengar lagi, mereka semua telah terlelap mengayun langkah ke alam mimpi.
Tapi.......
Kenapa mata ini begitu sulit untuk kupejamkan? Kenapa saat kedua bola mata kututup di ikuti dengan sederetan peristiwa yang telah kulalui hari ini? Yang pada akhirnya aku hanya bisa menjatuhkan butiran-butiran bening dari sudut mata ini hingga sang fajar menjelang.
¤¤¤
Mentari telah mengukuhkam posisinya di lautan angkasa biru sana, perlahan pancaran kehangatan cahayanya mulai berubah menjadi kuning keemasan saat kakiku melangkah Ia tepat berada di atas ubun-ubun kepalaku, hawa panas menyerah ku percepat langkah ini menuju rumah. Malam ini aku pasti bisa tidur dengan nyaman pikirku, aku sudah tahu cara mengatasi insomnia yang kurasakan.
Sebelum jam 12 malam aku berusaha untuk tidak tidur sama sekali, padahal kegiatanku di kampus hari ini sangat padat belum lagi kegiatanku di koperasi yang menguras pikiran dan tenaga.
'' Wulan tumben kamu minum kopi?'' Tanya ibu saat aku menyeduh kopi.
'' Biar ngak ketiduran bu, wulan biasa tidur jam 9 malam tapi dua jam kemudian terbangun dan tidak bis tidur hingga pagi'' jawabku.
Ibu mengganguk mengerti, rasa kantuk membuatnya ingin segera beristirahat sehingga beliau tidak banyak berkomentar lagi.
Aku mulai gelisah tatkala jam dinding berdetak keras tepat pukul 1 dinihari sementara mataku belum juga dapat ku pejamkan. Aku bangkit dari tempat tidurku, menatap kesekeliling kamarku aku merasa kesal kepada diriku yang seperti ini, akhirnya ku habiskan malam dengan menonton DVD Drama Korea kesayanganku.
¤¤¤
'' Wulan, sebaiknya kamu konsultasi dengan Dokter mengenai keluhan susah tidurmu itu'' Kata Ibu paginya.
'' Wulan sudah mencobanya berulang kali Bu, tapi tetap saja Tidak bisa tidur mungkin hanya pil tidur yang bisa membuat Wulan tidur'' ungkapku.
Tiba-tiba Ibu menatapku dengan tatapan lembut penuh kehangatan.
'' Wulan, Ibu perhatikan sudah lama Wulan Tidak shalat?'' tukasnya.
Aku memandang Ibu dengan rasa bersalah entah kenapa perkataan Ibu itu begitu menusuk hatiku.
'' Wulan...'' panggilnya lagi
'' emm... Iya Bu''
'' Wulan sudah shalat?''
'' Belum Bu''
'' Shalat dulu sana gih minta petunjuk dan ketenangan hati pada ALLAH '' kemudian Ibu meninggalkanku.
Mungkinkah Aku Shalat setelah hampir dua tahun tak pernah ku sentuh mukena dan sajadah itu?
Apakah ALLAH masih mau menerimaku diantara Hamba-hambaNya setelah apa yang kulalui beberapa tahun yang lalu?
Saat pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam hatiku seburat goresan peristiwa tergambar jelas di pelupuk mata ini.
Saat itu Aisya Sahabatku sejak kecil tiba-tiba harus di larikan ke rumah sakit, sesampai di sana setelah di periksa Dokter mengvonisnya menderita Kangker Ganas pada rahimnya yang mengakibatkan perutnya sering kram. Aku tak bisa mempercayainya Aisyah yang begitu dekat denganku mengalami hal seburuk itu. Aku menangis memohon padaNYA untuk kesembuhan Aisyah tapi Dia tidak menghendakinya Aisyah pergi juga pada akhirnya.
Aku benci.........
Kenapa DIA tak mengabulkan permintaanku padahal selama ini aku tak pernah meninggalkanNYA.
Dan peristiwa kepergian Aisyah selalu menghantuiku saat malam menjelang.
¤¤¤
tanganku pelan meraih Mukena yang tersimpan rapi didalam lemari, mukena yang dulu sering kugunakan tapi kini hanya jadi pajangan di lemariku saja.
Kata-kata Ibu kembali tergiang di telinggaku, '' mintalah petunjuk pada ALLAH sesungguhnya Ia Maha Pengampun''
ku atur segenap kekuatan untuk melangkahkan kaki di kamar mandi dan berwudhu. Kubersihkan segala rasa yang tertuang dalam Bathin dan jasmaniku, Percikan-percikan air itu seakan seperti Tetesan air es di kutup utara yang mencairkan hatiku yang beku.
Sajadah Coklat Tua bermotif Masjid sudah terbentang di hadapanku, Dan kini seluruh tubuhku telah di tutupi dengan mukena. Kumulai dengan Bissmillah, kemudian hatiku larut dalam kekusyukan shalatku.
¤¤¤
Malam mulai menampakkan kegagahannya manakala Rembulan hadir dengan sejuta pesonanya. Aku baru saja melaksanakan shalat Isya, dengan masih mengunakan Mukena perlahan kubuka Album foto kenangan bersama Aisyah. Saat kami kecil hingga saat-saat terakhir sebelum kepergiannya tergambar jelas disana. Aku menemukan sebuah kunci celengan kecil terselip diantara foto-foto itu.
Tapi tunggu dulu, inikan kunci celengan mungilku yang di pinjam Aisyah beberapa hari sebelum kepergiannya.
'' Wulan, buka celengan ini jika aku telah pergi ya '' kata-kata Aisyah saat-saat terakhirnya.
Segera Kubuka celengan mungil berbentuk persegi itu, di dalamnya terdapat sebuah tasbih dan sehelai surat.
'' Bacalah Dengan Bissmillah, Pejamkan matamu ucapkan :
Subhanallah Walhamdulillah Walailahailallah Allahu Akbar''
Wulan Doakan Aku
Aisyah
Butiran-butiran bening itu kembali hadir disini, Kupejamkan mataku kulafadkan Bismillah di ikuti barisan Dzikir Subhanallah Walhamdulillah Walailahailallah Allahu Akbar
cahaya putih begitu terang telah hadir hatiku begitu tenang derasnya air mata tak membuat dadaku sesak justru yang hadir adalah kenikmatan bathin yang telah lama kering dengan kebencian. Cahaya itu seakan mengajakku terbang menyusuri sendi-sendi keimanan yang telah rapuh hingga tubuhku jatuh tersungkur di atas sajadah.
'' Wulan Jangan pernah perfikir ALLAH meninggalkanmu saat pintamu tak terkabulkan, Karena sesungguhnya Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi hambaNYA
ALLAH sedetikpun tak pernah meninggalkanmu jadi jangan lupakan Dia dari hatimu '' Aisyah tersenyum melihatku.
Lantunan Dzikir masih ku lafadkan dan ketenangan itu telah kutemukan lewat baris kata-kata itu. Aku terlelap tanpa harus meminum obat tidur itu lagi hingga bulan yang mengintip dari balik jendela tersenyum dan Ikut berdzikir memuja KeagunganNya.
Terima Kasih Ya ALLAH
AnugrahMU begitu Indah.....
Alue Bilie, 9 oktober 2011, 02.00 wib
ambilkan bulan bu ….
yang selalu bersinar di langit…
di langit bulan berderang cahyanya sampai ke bintang
ambilkan bulan bu.....
Sepenggal syair lagu yang selalu ku nyanyikan saat kecil bergema di kidung kesunyian hati ini. Jam dinding di sudut kamar telah menunjukkan angka 2 dini hari suara riuh di rumahku tak terdengar lagi, mereka semua telah terlelap mengayun langkah ke alam mimpi.
Tapi.......
Kenapa mata ini begitu sulit untuk kupejamkan? Kenapa saat kedua bola mata kututup di ikuti dengan sederetan peristiwa yang telah kulalui hari ini? Yang pada akhirnya aku hanya bisa menjatuhkan butiran-butiran bening dari sudut mata ini hingga sang fajar menjelang.
¤¤¤
Mentari telah mengukuhkam posisinya di lautan angkasa biru sana, perlahan pancaran kehangatan cahayanya mulai berubah menjadi kuning keemasan saat kakiku melangkah Ia tepat berada di atas ubun-ubun kepalaku, hawa panas menyerah ku percepat langkah ini menuju rumah. Malam ini aku pasti bisa tidur dengan nyaman pikirku, aku sudah tahu cara mengatasi insomnia yang kurasakan.
Sebelum jam 12 malam aku berusaha untuk tidak tidur sama sekali, padahal kegiatanku di kampus hari ini sangat padat belum lagi kegiatanku di koperasi yang menguras pikiran dan tenaga.
'' Wulan tumben kamu minum kopi?'' Tanya ibu saat aku menyeduh kopi.
'' Biar ngak ketiduran bu, wulan biasa tidur jam 9 malam tapi dua jam kemudian terbangun dan tidak bis tidur hingga pagi'' jawabku.
Ibu mengganguk mengerti, rasa kantuk membuatnya ingin segera beristirahat sehingga beliau tidak banyak berkomentar lagi.
Aku mulai gelisah tatkala jam dinding berdetak keras tepat pukul 1 dinihari sementara mataku belum juga dapat ku pejamkan. Aku bangkit dari tempat tidurku, menatap kesekeliling kamarku aku merasa kesal kepada diriku yang seperti ini, akhirnya ku habiskan malam dengan menonton DVD Drama Korea kesayanganku.
¤¤¤
'' Wulan, sebaiknya kamu konsultasi dengan Dokter mengenai keluhan susah tidurmu itu'' Kata Ibu paginya.
'' Wulan sudah mencobanya berulang kali Bu, tapi tetap saja Tidak bisa tidur mungkin hanya pil tidur yang bisa membuat Wulan tidur'' ungkapku.
Tiba-tiba Ibu menatapku dengan tatapan lembut penuh kehangatan.
'' Wulan, Ibu perhatikan sudah lama Wulan Tidak shalat?'' tukasnya.
Aku memandang Ibu dengan rasa bersalah entah kenapa perkataan Ibu itu begitu menusuk hatiku.
'' Wulan...'' panggilnya lagi
'' emm... Iya Bu''
'' Wulan sudah shalat?''
'' Belum Bu''
'' Shalat dulu sana gih minta petunjuk dan ketenangan hati pada ALLAH '' kemudian Ibu meninggalkanku.
Mungkinkah Aku Shalat setelah hampir dua tahun tak pernah ku sentuh mukena dan sajadah itu?
Apakah ALLAH masih mau menerimaku diantara Hamba-hambaNya setelah apa yang kulalui beberapa tahun yang lalu?
Saat pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam hatiku seburat goresan peristiwa tergambar jelas di pelupuk mata ini.
Saat itu Aisya Sahabatku sejak kecil tiba-tiba harus di larikan ke rumah sakit, sesampai di sana setelah di periksa Dokter mengvonisnya menderita Kangker Ganas pada rahimnya yang mengakibatkan perutnya sering kram. Aku tak bisa mempercayainya Aisyah yang begitu dekat denganku mengalami hal seburuk itu. Aku menangis memohon padaNYA untuk kesembuhan Aisyah tapi Dia tidak menghendakinya Aisyah pergi juga pada akhirnya.
Aku benci.........
Kenapa DIA tak mengabulkan permintaanku padahal selama ini aku tak pernah meninggalkanNYA.
Dan peristiwa kepergian Aisyah selalu menghantuiku saat malam menjelang.
¤¤¤
tanganku pelan meraih Mukena yang tersimpan rapi didalam lemari, mukena yang dulu sering kugunakan tapi kini hanya jadi pajangan di lemariku saja.
Kata-kata Ibu kembali tergiang di telinggaku, '' mintalah petunjuk pada ALLAH sesungguhnya Ia Maha Pengampun''
ku atur segenap kekuatan untuk melangkahkan kaki di kamar mandi dan berwudhu. Kubersihkan segala rasa yang tertuang dalam Bathin dan jasmaniku, Percikan-percikan air itu seakan seperti Tetesan air es di kutup utara yang mencairkan hatiku yang beku.
Sajadah Coklat Tua bermotif Masjid sudah terbentang di hadapanku, Dan kini seluruh tubuhku telah di tutupi dengan mukena. Kumulai dengan Bissmillah, kemudian hatiku larut dalam kekusyukan shalatku.
¤¤¤
Malam mulai menampakkan kegagahannya manakala Rembulan hadir dengan sejuta pesonanya. Aku baru saja melaksanakan shalat Isya, dengan masih mengunakan Mukena perlahan kubuka Album foto kenangan bersama Aisyah. Saat kami kecil hingga saat-saat terakhir sebelum kepergiannya tergambar jelas disana. Aku menemukan sebuah kunci celengan kecil terselip diantara foto-foto itu.
Tapi tunggu dulu, inikan kunci celengan mungilku yang di pinjam Aisyah beberapa hari sebelum kepergiannya.
'' Wulan, buka celengan ini jika aku telah pergi ya '' kata-kata Aisyah saat-saat terakhirnya.
Segera Kubuka celengan mungil berbentuk persegi itu, di dalamnya terdapat sebuah tasbih dan sehelai surat.
'' Bacalah Dengan Bissmillah, Pejamkan matamu ucapkan :
Subhanallah Walhamdulillah Walailahailallah Allahu Akbar''
Wulan Doakan Aku
Aisyah
Butiran-butiran bening itu kembali hadir disini, Kupejamkan mataku kulafadkan Bismillah di ikuti barisan Dzikir Subhanallah Walhamdulillah Walailahailallah Allahu Akbar
cahaya putih begitu terang telah hadir hatiku begitu tenang derasnya air mata tak membuat dadaku sesak justru yang hadir adalah kenikmatan bathin yang telah lama kering dengan kebencian. Cahaya itu seakan mengajakku terbang menyusuri sendi-sendi keimanan yang telah rapuh hingga tubuhku jatuh tersungkur di atas sajadah.
'' Wulan Jangan pernah perfikir ALLAH meninggalkanmu saat pintamu tak terkabulkan, Karena sesungguhnya Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi hambaNYA
ALLAH sedetikpun tak pernah meninggalkanmu jadi jangan lupakan Dia dari hatimu '' Aisyah tersenyum melihatku.
Lantunan Dzikir masih ku lafadkan dan ketenangan itu telah kutemukan lewat baris kata-kata itu. Aku terlelap tanpa harus meminum obat tidur itu lagi hingga bulan yang mengintip dari balik jendela tersenyum dan Ikut berdzikir memuja KeagunganNya.
Terima Kasih Ya ALLAH
AnugrahMU begitu Indah.....
Alue Bilie, 9 oktober 2011, 02.00 wib

Comments
Post a Comment